Interest

Menunda Pagi di Kedai Kopi

Jean Marais

Posted on July 2nd 2018

 

Semulai dimulai dari kedai kopi yang Saya singgahi di sebuah pagi. Sebelum memulai perjalanan panjang menyusuri map milik Anitha Silvia dan Celcea Tiffani, yang bernama Pertigaan Map, Saya berjanji untuk bertemu seorang kawan di depan hotel Kemadjuan—sebuah hotel klasik di kawasan Ampel, Surabaya. Saya menyusuri jalan Panggung. Belum juga lima menit langkah kaki Saya berderap-derap, Saya berhenti di sebuah gang kecil Pabean Kulon Lima, dan mencicip kopi rempah racikan Kak Very. 

Di sebuah warung Kecil berukuran 2 x 8 meter ini, bunyi gelas-gelas yang beradu dengan sendok-sendok besi seolah tanpa rasa lelah. Tidak berjeda, terus mengaduk, tanpa memperdulikan pengunjung yang keluar masuk bergantian. Ia mulai buka pukul tujuh pagi. Namun para pekerja pasar hingga pelabuhan mulai mengantri. 

“Disini, kopi rempah dinikmati sebelum mereka berangkat bekerja. Karena, racikan jahe merah dan kapulaga membuat mereka lebih hangat, dan menambah tenaga. Jadi, para pekerja disini selalu mengantri kopi untuk bekal. Ada yang menggunakan gelas, sampai ada juga yang memakai termos. Hanya satu yang tidak ada. Membawa bak mandi,” canda Kak Very.

Pagi akan terasa terlalu basi tanpa kehadiran secangkir kopi untuk memulai hari. Saat rasa kantuk belum benar-benar pergi, di mana kantung mata seperti menyimpan biji kelereng akibat pesta semalam yang terlalu menggila, sajian kopi rempah membuat hari Saya lebih segar. Mata Saya sontak berbinar-binar, dan siap berjalan kaki seharian. 

Warung kopi ini diwariskan turun temurun. Menurut Kak Very, ia adalah generasi ketiga. Dulu semua dimulai oleh kakek buyutnya, yang datang dari Yaman, Timur Tengah. “Bisa dibilang ini adalah warung kopi pertama. Kakek saya membawa resep kopi rempah dari negaranya sana (Yaman,ed). Dan memang Saya warung kopi pertama yang buka mulai pagi,” katanya. 

Aroma kopi rempah pun sungguh berbeda. Dengan kombinasi kapulaga, kayu manis, jahe merah yang diseduh bebarengan dengan kopi dan gula, mengeluarkan aroma kaya rempah yang menusuk hidung. Serta, citarasa kopi ini pun cukup berbeda. Tak Hanya menawarkan pahit atawa manis, lebih dari itu, kopi rempah kak Very juga berasa sedikit pedas, dan hangat saat melewati tenggorokan. Pantas saja, jika orang-orang sebelum berangkat berlayar, ataupun berjibaku dengan ikan-ikan di Pasar Pabean selalu menyempatkan diri mampir di kedai ini.

Tak Hanya menawarkan kopi saja. Di kedai kopi ini juga banyak menyediakan jajanan khas Arab. Jika di warung kopi lain biasanya hadir gorengan, atawa sate-satean. Mereka semua tidak hadir disini. Posisi mereka digantikan dengan Sambosa, sebuah makanan mirip pastel khas Timur Tengah, serta martabak madura, yang cocok disandingkan dengan nasi krawu bungkus untuk menganjal perut. 

Saya pun dengan lahap juga mencicipi pelbagai hidangan yang di tumpuk rapi di atas meja kayu panjang. Juga tak lupa Saya membawa bekal segelas kopi untuk teman perjalanan. Saya yang terlanjur nyaman, merasa enggan beranjak barangkali satu langkah pun dari kedai kopi ini. Jika kalian ingin merasakan bagaimana rasanya menunda pagi, silahkan datang dan mencicipi warung kopi di kedai ini.

 

Artikel Terkait
Interest
Pemkot Surabaya Sediakan Hand Sanitizer Gratis, Bisa Dipakai di Sini

Interest
Seberapa Sih Konsumsi Kafein Dikatakan Terlalu Banyak?

Interest
Beasiswa Pemuda Tangguh Surabaya untuk SMA Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya