Current Issues

QnA Coronavirus: Definisi, Gejala, Cara Mencegah hingga Tingkat Kesembuhan

Delima Pangaribuan

Posted on January 26th 2020

 

Coronavirus sudah menggegerkan dunia sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi, masih banyak juga yang belum paham apa itu coronavirus, saking barunya jenis penyakit ini. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang masuk ke Mainmain dari pengikut Instagram @mainmain.id.

Baca juga: - Menkes Tiongkok Sebut Coronavirus Bisa Menyebar Tanpa Menunjukkan Gejala

- Coronavirus Makin Menyebar, Tiongkok Tutup Hampir 70.000 Bioskop

- Coronavirus, Virus Baru Mirip Pneumonia yang Menular Antar Manusia

- Anjing ini Selamatkan Satu Keluarga dari Coronavirus

- Selain Virus Corona, ini 5 Virus Mematikan yang Pernah Bikin Dunia Gempar

- Penggemar Super Junior dari Wuhan Minta Maaf, Takut Tulari Penonton Konser

 
1. Apa itu coronavirus?
Secara umum, coronavirus bisa dipahami sebagai suatu penyakit zoonotic. Artinya virus ini bisa menular ke semua jenis mamalia, termasuk manusia.
 
Seperti dikutip dari Medical News Today, virus ini biasa menginfeksi hewan-hewan seperti tikus, anjing, kucing, kuda, babi, kalkun dan sapi ternak. Tapi, ini pertama kalinya coronavirus menginfeksi manusia. Coronavirus ini sering dikaitkan sama jenis flu biasa, pneumonia, sampai penyakit pernafasan menular seperti SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome).

 
Nah, sebelumnya sudah ada penyakit-penyakit yang masuk kategori coronavirus ini dan rata-rata memang menggemparkan dunia. Seperti SARS tadi, kemudian MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang berawal di Timur Tengah tahun 2012. Kalau untuk yang ramai saat ini, nama resminya adalah 2019-nCoV atau kerap disebut Novel Coronavirus.
 
 
2. Dulu kan sempat ramai penyakit MERS di Arab, berarti sekarang di Tiongkok?
Seperti dijelaskan sedikit di atas, ada beberapa penyakit yang tergolong coronavirus level berbahaya yang pernah menggemparkan dunia, termasuk MERS dan SARS. Kalau MERS ditemukan di Arab, SARS yang muncul tahun 2002 juga pertama kali ditemukan kasusnya di Tiongkok. World Health Organization (WHO) mendapat informasi dari National Health Commission China bahwa virus baru ini diduga pertama kali menyebar dari salah satu pasar hewan liar di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok.
 
Persamaan beberapa penyakit ini adalah diketahui pertama kali ditularkan dari hewan. SARS yang ramai tahun 2002 disebut berasal dari kelelawar. Sementara tahun 2012, MERS menulari diduga dari penyakit pada hewan unta.
 
Bagaimana dengan 2019-nCoV? Science Alert menulis, dugaan kuatnya berasal dari binatang ular, tepatnya jenis ular kobra Tiongkok. Meski demikian, sebenarnya ada banyak jenis hewan lain yang juga diduga bisa menjadi sumber penyebaran virus itu, mengingat beragam hewan yang ada di pasar seafood dan hewan liar di kota Wuhan. Salah satu 'tersangka' yang paling dicurigai adalah kelelawar.
 
 
3. Bagaimana gejala coronavirus?
Kalau menurut Medical News Today, umumnya coronavirus punya gejala awal seperti flu. Antara lain bersin-bersin, hidung tersumbat, batuk, dalam beberapa kasus juga demam, merasa kelelahan, radang tenggorokan, dan susah bernafas.
 
Penyakit ini bisa menyebabkan kematian karena kalau sudah parah, bisa menimbulkan penyakit semacam pneumonia atau radang paru-paru. Terutama untuk orang berusia lanjut atau yang memiliki sistem imun  lemah.
 
Parahnya lagi, menurut Centers of Disease Control and Prevention (CDC), gejala-gejala itu baru akan terlihat sekitar maksimal 14 hari setelah terpapar virus. Itu yang membuat cukup banyak korban berjatuhan karena penanganannya terlambat.
 
 
4. Sudah adakah obat untuk mengatasi coronavirus?
Kalau untuk beberapa jenis coronavirus yang sudah lama ada, beberapa obat biasanya digunakan, contohnya ibuprofen dan acetaminophen menurut WebMD. Tapi kalau untuk coronavirus jenis berbahaya seperti SARS, MERS, dan 2019-nCoV memang dibutuhkan obat tersendiri dan juga harus ada vaksinnya.
 
Sayangnya, karena masih baru banget, obat dan vaksin untuk 2019-nCoV belum ada. Virus superbaru ini nggak bisa dilawan dengan obat coronavirus lain karena sifatnya yang berbeda.
 
Tapi, tenaga kesehatan tetap mencoba penanganan dengan obat lain yang sudah ada. Salah satunya, di Beijing, tiga rumah sakit besar menggunakan obat anti-HIV. Seperti diberitakan South China Morning Post, beberapa rumah sakit tersebut menggunakan Ropinavir dan Litonavir, dua jenis obat antiretroviral yang biasanya digunakan menekan agar sel HIV tidak mengkontaminasi sel-sel yang masih baik dalam tubuh.
 
Obat ini, menurut catatan SCMP juga, pernah digunakan untuk pasien SARS tahun 2002. Kebetulan rumah sakit di Beijing juga lagi punya cukup banyak stok Ropinavir dan Litonavir, harapannya bisa setidaknya memperkuat imunitas pada tubuh para pasien.
 
Sementara itu, sekarang ilmuwan mencoba untuk mengembangkan vaksin untuk virus ini. Di Jerman, sebuah perusahaan biofarmasi CureVac AG sedang mengembangkan vaksin dengan sebutan messenger RNA (mRNA).
 
Melansir Precission Vaccination, vaksin itu sebenarnya sudah dikembangkan sebelum ada 2019-nCoV, tapi ilmuwan di sana meyakinkan bahwa vaksin ini juga cocok digunakan dalam situasi outbreak 2019-nCoV saat ini.
 
"Dari percobaan preclinical sebelumnya terhadap coronavirus lain, kami tahu bahwa vaksin mRNA kami dapat digunakan untuk meningkatkan respon sistem imun pada hewan terhadap virus jenis ini," jelas Chief Technology Officer CurVac AG dr. Mariola Fotin-Mleczek.
 
Xinhuanet melaporkan bahwa ilmuwan kesehatan Amerika Serikat juga tengah mengerjakan proyek membuat vaksin untuk 2019-nCoV tersebut. Proyek dikerjakan oleh National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID) dan diperkirakan selesai dalam tiga bulan ke depan.
 
 
5. Gimana cara menghindari terkena coronavirus?
Melansir WHO, ada lima cara yang bisa kamu lakukan. Yang pertama adalah cuci tangan menggunakan sabun dan air, atau menggunakan cairan pembersih tangan berbahan alkohol. Lalu, tutup hidung dan mulut ketika batuk maupun bersin menggunakan tisu maupun lengan. Kemudian, hindari kontak langsung dengan siapapun yang mengalami gejala-gejala yang mirip flu. Perhatikan juga apa yang kamu konsumsi dengan memasak daging dan telur sampai benar-benar matang. Terakhir, jangan lakukan kontak langsung tanpa perlindungan dengan hewan liar serta hewan ternak.
 
 
6. Apakah coronavirus mematikan?
Update terbaru dari CNN menyebut ada 42 orang meninggal akibat coronavirus di Wuhan. Sedangkan pasien positif coronavirus di seluruh Tiongkok ada 1.409. Tapi, juga ada 34 orang yang tadinya mengidap coronavirus, kini dinyatakan sembuh. Jadi, ya, ada potensi mematikan. Tetapi harapan hidup tetap ada.
 
 
7. Apakah coronavirus menular lewat udara? Jadi takut mau keluar rumah.
Tidak juga. Bayangkan coronavirus layaknya flu pada umumnya. Kalau kamu sedang bersin atau batuk, pasti ada cairan keluar. Nah, kalau pengidap coronavirus waktu bersin atau batuk tidak menutup hidung maupun mulutnya, kemungkinan dia menularkan penyakitnya ke orang lain tinggi. Kamu juga bisa tertular kalau kamu menyentuh benda sudah disentuh si pengidap dan terdapat cairan tubuhnya di benda itu.
 
Menurut Telegraph, rumah sakit juga menjadi lokasi kunci penyebaran penyakit ini secara luas. Soalnya, pegawai rumah sakit yang belum tahu pasiennya mengidap coronavirus atau tidak, bisa jadi ketika menangani pasiennya, tidak mengenakan masker maupun pakaian khusus, sehingga rentan tertular.
 
Kamu tidak perlu takut keluar rumah kok, setidaknya untuk saat ini. Karena sejauh ini, belum ada kasus coronavirus yang dikonfirmasi di Indonesia. (*)
 
Related Articles
Current Issues
Selain Virus Corona, ini 5 Virus Mematikan yang Pernah Bikin Dunia Gempar

Interest
Meninggalnya Dokter Pertama yang Curiga Wabah Coronavirus Namun Tak Dipercaya

Current Issues
Beli Barang dari Tiongkok Bisa Tertular Coronavirus?