Current Issues

Mengapa Kamu Harus Pikir Dua Kali Sebelum Ikutan Tren Waist Trainer

Delya Oktovie Apsari

Posted on January 22nd 2020

 

Siluet tubuh langsing, ideal, sempurna bak jam pasir -- siapa yang nggak pengin? Apalagi kalau ada solusi instan. Terus, yang memakai selebriti idola sejuta umat lagi! Wah wah... yakin nggak bakal tergoda?

Solusi instan satu ini disebut waist trainer. Sebenarnya waist trainer ini bukan hal baru, ia populer sejak tahun 1600. Ibu maupun nenekmu mengenalnya sebagai korset.

Waist trainer, kurang lebih juga seperti itu. Ia dikenakan di pinggang, dan bisa dikencangkan sehingga pinggang bakal tampak sangat kecil.

Pemakainya diinstruksikan untuk mengenakan waist trainer hingga delapan jam sehari -- termasuk saat olah raga. Setelah enam minggu, mereka dijanjikan akan meraih bentuk tubuh 'sempurna, layaknya jam pasir'.

 

Terus, apa yang bikin waist trainer berbahaya?

Laura Choate, profesor di Louisiana State University dan juga konselor profesional, menulis kekhawatirannya tentang tren ini di Psychology Today. Belum lagi, yang mempromosikan adalah selebriti-selebriti dengan jutaan pengikut. Padahal, sebagian besar pengikut mereka adalah remaja perempuan.

Salah satunya adalah the infamous clan, The Kardashians. Postingan Kylie Jenner mengenakan waist trainer mendapat like sebanyak 1,5 juta -- and counting.

 

 

Choate mengatakan, orang tua maupun masyarakat perlu khawatir dengan melejitnya tren ini. Karena, walaupun namanya 'waist trainer', ia sama sekali bukan 'trainer'.

"(Waist trainer) Hanyalah alat yang menekan pinggul dan tulang rusuk selama kamu mengenakannya. Nggak ada bukti kalau itu bisa menciptakan pinggul kecil permanen ketika kamu melepasnya," jelas Choate. Ia pun menawarkan sebutan baru bagi waist trainer, yakni 'temporary waist cincher' atau 'pengecil pinggul sementara'.

Nah, ketika mengenakannya, beberapa orang bakal makan lebih sedikit -- of course, itu ketat banget. Beberapa orang juga bakal berkeringat lebih. Tapi waist trainer nggak memberikan hasil yang tahan lama.

 

Apakah waist trainer bahaya untuk kesehatan?


Choate menyebut, ada beberapa bukti bahwa waist trainer berbahaya bagi kesehatan. Soalnya, pemakainya harus memakai waist trainer seketat mungkin. Akhirnya, bisa terjadi iritasi kulit -- atau yang terparah, memar tulang.

Refluks asam dan heartburn biasa terjadi karena adanya tekanan di perut, sehingga meningkatkan asam di esofagus.

Karena aliran darah di sekitar area tubuh yang mengenakan waist trainer juga ditekan, kaki bisa mati rasa.

Kemudian, bisa juga memengaruhi pernapasan karena nggak bisa bernapas dalam-dalam. Akhirnya, oksigen yang dihirup juga sedikit.

 

Apa efeknya secara psikologis?


Penggunaan waist trainer dinilai bisa memengaruhi kondisi psikologis seseorang secara negatif. Choate meyakini bahwa waist trainer memperkuat kepercayaan bahwa 'nilai diriku datang dari daya tarik fisik', 'aku nggak cukup menjadi diriku sendiri', 'aku nggak cukup baik kalau aku nggak punya siluet jam pasir' dan 'aku perlu menyembunyikan bentuk tubuh naturalku karena itu nggak bisa diterima sebagaimana adanya'.

"Jika remaja perempuan mendengar klaim para selebriti 'kalau kamu mengenakan trainer ini sedikit lebih lama dan mungkin menekannya hingga sedikit lebih sempit, maka kamu bisa mendapat perhatian dari seluruh dunia seperti kami', mereka bisa mulai percaya kalau tubuh ideal tersebut bisa mereka raih -- jika mereka berusaha lebih keras," jelasnya.

Choate menambahkan, pengguna waist trainer bisa-bisa justru merasa lebih nggak puas terhadap diri mereka sendiri dan bentuk tubuh mereka, ketika mereka melepas waist trainer dan nggak melihat adanya perubahan.

Ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh sendiri, bisa mengarah pada faktor-faktor risiko kesehatan mental seperti depresi, kepercayaan diri rendah dan gangguan makan.

 

Memang nggak ada yang melarang seseorang untuk punya keinginan memiliki bentuk tubuh 'ideal'. Tetapi, harus diingat bahwa waist trainer ini bukanlah hal baru -- bahkan terkesan sudah 'nggak zamannya'.

Justru, di akhir tahun 1900, perempuan merasa lebih bebas karena di era tersebut, mereka bisa memilih nggak mengenakan korset. Sehingga, mereka bisa benar-benar nyaman ketika mengenakan pakaian, dan bisa bernapas lebih lega.

"Tentu saja perempuan dewasa bebas membuat pilihan mereka sendiri. Kalau mereka memilih untuk mengenakan alat demi memiliki pinggul kecil sementara, itu benar-benar keputusan mereka sendiri. Tetapi, kekhawatiranku adalah remaja perempuan yang terpapar iklan-iklan ini (yang seringkali disamarkan jadi tampak seperti postingan biasa) dan akhirnya menjadi tren viral di media sosial. Remaja perempuan belum bisa menilai apakah klaim-klaim ini benar, atau berpikir kritis mengenai pesan-pesan tentang kecantikan yang mereka terima; seperti 'tampil cantik lebih penting daripada perasaanku', 'aku harus mengecilkan tubuhku demi mendapat perhatian atau supaya bisa diterima', 'kalau aku nggak punya figur jam pasir, maka aku nggak sedang baik-baik saja'," papar Choate.

Hmm... kalau menurut kamu sendiri gimana soal tren satu ini? Apakah worth it untuk diikuti?

Well, kalau tim Mainmain.id sih, lebih menyarankan menjaga asupan makan dan olahraga teratur, gengs. Ingat, kesehatanmu nomor satu! (*)

Artikel Terkait
Entertainment
Ini Harga Unggahan Keluarga Kardashians di Medsos, Kylie Jenner Paling Fantastis

Interest
Pentingnya Makan Bareng Teman untuk Kesehatan Mental

Entertainment
Kim Kardashian Ungkap Kanye West Pernah Ingin Jadi Stylist dan Tinggalkan Musik