Interest

Kenapa sih Imlek Identik dengan Lampion Merah?

Sejarah di balik hal-hal yang selalu kamu temui saat Imlek

Saniah

Posted on January 18th 2020

Kenapa sih Imlek Identik dengan Lampion Merah? (Good News)

 

Imlek merupakan perayaan terpenting bagi orang Tionghoa. Perayaan tahun baru Imlek dimulai dari hari pertama dan bulan pertama di penanggalan tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke-15 atau saat bulan purnama.

Malam Tahun Baru Imlek dikenal sebagi malam pergantian tahun. Di Tiongkok adat dan tradisi wilayah yang terkait dengan perayaan Tahun Baru Imlek sangat beragam. Tradisi yang dilakukan juga tidak muncul begitu saja melainkan berasal dari legenda dan sejarah yang dipercayai.

Salah satunya pasti sering kamu temui. Misalnya, lampion merah. Menjelang Imlek, langit-langit jalanan pasti dipenuhi lampion merah-emas ini.

Yuk, tengok sejarah apa aja sih yang ada dibalik tradisi Imlek?

 

Salah satu keunikan pada tradisi perayaan Imlek yang masih dijalani masyarakat Tionghoa adalah menggantung lampion merah.

Tradisi ini berkaitan dengan masa Dinasti Ming. Pada saat itu Li Zicheng seorang pemimpin pemberontak mempersiapkan diri untuk menguasai kota, agar pemberontakan tidak mengganggu rakyat jelata yang tidak bersalah, Li memerintahkan rakyat untuk menggantung lampion merah di depan rumah mereka sebagai tanda.

Namun malangnya saat itu terjadi banjir. Akhirnya penduduk lari ke atap rumah dan menyelamatkan diri sambil membawa lampion merah. Dari kejauhan Li melihat rakyatnya dari cahaya merah yang terpancar dan memerintahkan prajuritnya untuk menolong mereka.

Sejak saat itu lah untuk memperingati kebaikan hati Li, masyarakat Tionghoa selalu menggantung lampion merah pada setiap perayaan penting, salah satunya Tahun Baru Imlek.

 

Menurut legenda Tionghoa kuno, zaman dahulu di atas rumpun pohon bambu, hiduplah makhluk aneh yang dinamakan makhluk gunug. Makhluk aneh ini memiliki postur yang pendek, hanya memiliki satu kaki, dan dikenal suka mengganggu penduduk desa.

Suatu hari karena kedinginan, penduduk membakar bambu dalam perapian. Makhluk gunung pun muncul tiba-tiba dan menyerang mereka. Namun saat kekacauan terjadi, terdengar bunyi letusan yang keluar dari bambu yang terbakar dan menakuti para makhluk gunung ini.

Sejak saat itu tradisi membunyikan petasan dilakukan terutama saat malam Tahun Baru Imlek. Dengan harapan agar tahun yang akan datang jauh dari hal-hal jahat.

 

Menurut legenda, dahulu kala ada seorang pedagang bernama Ou Ming yang selalu bepergian menggunakan perahu. Suatu hari saat sedang berlayar, tiba-tiba badai melanda dan perahu Ou rusak. Pada saat itu ia ditolong oleh Qing Hong Jun seorang penghuni pulau yang kaya raya. Ia menjamu Ou dan memberikan seorang pelayan cantik untuk dibawa bersamanya.

Meski sempat ragu, akhirnya Qing melepaskan pelayannya beserta satu peti permata. Namun karena sifat serakahnya, Ou meminta sang pelayan untuk menyerahkan kunci peti tersebut.

Akhirnya sang pelayan memberikan kunci tersebut kemudian berlari ke arah sebuah sapu. Tiba-tiba saja sang pelayan lenyap terhisap ke dalam sapu dan membawa seluruh harta Ou ikut bersamanya.

Itu lah mengapa saat perayaan imlek, orang Tionghoa akan membersihkan rumahnya dan menyembunyikan sapu dengan harapan agar seluruh berkah tidak tersapu. (*)

Related Articles
Current Issues
Asal Usul Nama Hewan di Sistem Shio, Gimana tuh?

Interest
Peruntungan Shio Tahun 2020: Ayam Perlu Hati-hati, Babi Bernasib Baik

Current Issues
Serunya India Merayakan Holi di Tengah Keresahan Coronavirus