Current Issues

Ketika Teknologi Bisa Bikin 'Daging Babi' Versi Halal

Sukses Membuat 'Daging Sapi', Impossible Foods Luncurkan 'Daging Babi'

Mainmain.id

Posted on January 18th 2020

Kemajuan teknologi benar-benar membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Termasuk di bidang teknologi pangan. Baru-baru ini perusahaan pangan asal California, Impossible Foods berhasil menciptakan 'daging babi' yang 100 halal. Bisa dikonsumsi umat muslim.

Pengenalan 'daging babi' halal ini dilakukan Impossible Foods pada pameran teknologi CES 2020 di Las Vegas, Amerika Serikat, pekan lalu. CES merupakan salah satu pameran teknologi terbesar di Amerika Serikat yang dibuat oleh Consumer Technology Association. 

Nah, di pameran itu Impossible Foods mengenalkan 'daging babi' halal yang dibuat dari bahan nabati. Bahan itu berasal dari protein kedelai. Secara bentuk, produk pangan itu mirip dengan daging babi asli. Juga rasa dan aromanya ketika dimasak. 'Daging babi' made in Impossible Foods itu juga dibuat dalam bentuk sosis. 

Impossible Foods selama ini memang sudah mengembangkan produk daging dari bahan nabati. 

Founder DBL Indonesia dan Presiden Persebaya Azrul Ananda pada blog pribadinya (Happywednesday.id) pernah mengulas soal produk Impossible Foods ini pada 19 Juni 2019 silam. Saat itu Azrul dan keluarganya tengah berada di Amerika Serikat dan berkesempatan mencoba produk Impossible Foods yang ada di gerai Umami Burger.

Gerai itu menyediakan Impossible Burger. Restoran ini termasuk pengadopsi pertama produk Impossible Foods. Dan mempromosikannya sebagai opsi menu vegan. Promosi yang digunakan oleh Umami Burger juga unik. 'Cheat on Beef' atau 'Ayo Selingkuhi Daging Sapi'.

Saat itu Azrul mencoba daging sapi vegan produk Impossible Foods. 'Daging babi' made in Impossible Foods belum ada saat itu. Menurut Azrul yang sudah mencicipi daging itu, rasa daging Impossible Foods ini benar-benar mirip daging beneran.

Dikutip dari blog Azrul Ananda (Baca juga: Ayo Selingkuhi Daging Sapi), Impossible Foods muncul dari pusat perkembangan teknologi dunia: Silicon Valley, di kawasan utara California sejak 2016.

Perusahaan itu telah menghadirkan “Impossible Burger.” Daging burger yang terlihat seperti daging, berbau seperti daging, 'berdarah' seperti daging, tapi 100 persen dibuat dari tanaman (plant based).

Mereka mereka, daging tidak harus didapatkan dari binatang ternak. Karena di masa depan, bumi ini tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan daging kalau harus menggunakan metode peternakan.

Menurut Impossible Foods, peternakan hewan menimbulkan masalah besar di bumi. Mereka menghabiskan hampir separo tanah di muka bumi, mengkonsumsi seperempat air tawar, dan merusak ekosistem.

"Jadi kami berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Kami membuat daging menggunakan tanaman, supaya kita tidak perlu lagi menggunakan binatang," tulis pernyataan perusahaan tersebut. 

Menurut Azrul, di Amerika Serikat memang saat ini sedang getol mengembangkan produk pangan 'daging bukan daging'. Maksudnya daging yang dibuat bukan dari hewan ternak. Saat ini ada sekitar 7.000 restoran menyajikan menu burger menggunakan 'daging bukan daging”.

Bahkan, pada 2019 ini, salah satu franchise paling top, Burger King, sudah mulai menyajikan Impossible Whopper di beberapa kota. Dimulai dari St. Louis, di negara bagian Missouri, lalu berkembang ke kota lain.

Selain memasok ke gerai-gerai makanan fast food, daging bukan daging juga menyediakan mentah di berbagai supermarket untuk dimasak di rumah.

Untuk menciptakan 'daging bukan daging' ini Impossible Foods punya tim besar. Terdiri atas lebih dari 100 ilmuwan, insinyur, dan peneliti makanan. Mereka harus menemukan, cara membuat daging tanpa harus menggunakan binatang.

Bahan dasar daging-daging yang dibuat Impossible Food memang menggunakan kedelai (soy). Jadi bisa dipastikan 'daging made in Impossible Foods' itu gluten-free.

Untuk pengganti lemak, Impossible Foods menggunakan bahan dari kelapa dan sunflower oil. Sehingga, ketika dimasak, daging ini 'mendidih' dan juicy.

Mereka juga melakukan teknologi rekayasa genetik untuk menambahkan bahan paling kunci. Bahan paling kunci itu bisa membuat 'daging made in Impossible Food' seperti berdarah, berbau, dan benar-benar terasa seperti daging hewan. Cara mendapatkan bahan kunci itu adalah lewat heme, molekul yang mengandung zat besi.

Kita bisa menemukan heme pada hemoglobin di darah dan myoglobin di otot. Inilah yang membuat darah jadi merah dan membantu mengantarkan oksigen di dalam tubuh binatang (maupun manusia). Bahan ini pula yang membuat daging terasa seperti daging.

Dari mana mendapatkan bahan heme itu, katanya vegan? Ternyata bisa dari tanaman juga. Impossible menemukan bahwa akar kedelai memiliki kompon bernama leghemoglobin, yang juga memiliki heme. Mereka pun membuat “daging” dengan leghemolobin dari kedelai ini.

Masalahnya, sulit mendapatkan jumlah yang dibutuhkan dengan cara bercocok tanam. Dan kalau harus menanam begitu banyak kedelai, maka perusahaan ini pun “melanggar” misinya sendiri, yaitu untuk tidak merusak bumi.

Untuk bisa menghasilkan “heme kedelai” dalam jumlah yang dibutuhkan (dan terus berkembang), mereka pun melakukan rekayasa genetik!

“Kami membuat heme menggunakan yeast (ragi) yang direkayasa dengan gen untuk leghemoglobin kedelai. Pertama-tama, kami menumbuhkan ragi dengan fermentasi. Lalu, kami mengisolasi leghemoglobin kedelai (yang mengandung heme) dari ragi tersebut. Kemudian kami menambahkannya pada Impossible Burger, yang saat digabungkan dengan bahan lain menghasilkan rasa daging yang enak.” Begitu penjelasan tertulis perusahaan.

Nah, setelah sukses membuat 'daging sapi' mereka mencoba membuat 'daging babi' dengna bahan yang tak jauh beda. Mereka sengaja membuat 'daging babi' untuk menembak pasar Asia. Di mana pasar daging babi di Asia cukup tinggi. Banyak makanan di Asia yang lebih enak kalau menggunakan daging babi. Selain itu banyak juga orang Asia --khususnya umat Muslim-- yang tidak boleh memakan babi.(*) 

 

 

Related Articles
Current Issues
Kehidupan Warga Tiongkok Pasca Lockdown Bergantung pada Label Hijau Ini

Current Issues
5 Ilmuwan Perempuan Berbakat di Bidang Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika

Current Issues
Tiongkok Kerahkan Robot dan Drone Canggih demi Lawan Coronavirus