Current Issues

Kid Investors’ Day, Merayakan Penemuan Esensial Karya Anak-anak

Vita Kartika

Posted on January 17th 2020

Kid Investors' Day, hari untuk rayakan para penemu cilik (Rawpixel)

 

Coba tebak, apa kesamaan dari televisi, trampolin, huruf Braille, alat penutup telinga (earmuffs), dan es loli buah (popsicle)? Wah, kok random banget, ya? Hehe, jangan salah, kesamaannya adalah, seluruh benda tersebut diciptakan oleh anak-anak!

Yup, dilansir dari situs resmi Kid Investors’ Day, di seluruh dunia ada lebih dari 500.000 anak-anak dan remaja yang menciptakan hal-hal baru untuk mempermudah hidup sekaligus membuat hari-hari orang di sekelilingnya semakin menyenangkan.

Kid Investors’ Day ini dirayakan secara internasional tiap tanggal 17 Januari. Tanggal ini adalah hari lahir Benjamin Franklin, penemu swim flippers pertama hampir 3 abad lalu. Kala itu, ia masih berusia 12 tahun, lho!

Swim flippers ini berbeda dengan apa yang sekarang kita kenal sebagai kaki katak untuk diving. Dulu, swim flippers temuan Benjamin Franklin dikenakan di bagian tangan alih-alih kaki. Penemuan ini sekarang sudah disempurnakan, tapi Benjamin Franklin tetap adalah bocah pertama yang memiliki ide untuk menciptakan alat bantu renang ini.

Selain Benjamin Franklin, ada banyak sekali anak-anak di seluruh dunia yang membawa terobosan baru pada berbagai bidang, mulai dari teknologi, bahasa, kesehatan, dan lain-lain. Jangan salah, anak Indonesia juga punya penemuan yang nggak kalah hebat, lho! Wah, apa saja tuh?

Philo Fansworth, sang penemu televisi modern

Philo Fansworth dan model televisi temuannya (foto:Britannica)

Siapa sih, yang nggak kenal dengan kotak ajaib warna-warni yang satu ini? Selain sebagai sumber hiburan, televisi juga adalah ‘jendela dunia’ yang memungkinkan kita untuk mengetahui segala informasi terbaru dari berbagai penjuru bumi.

Nyangka nggak, kalau ternyata televisi modern ini ditemukan oleh anak berusia 15 tahun?

Sejarah televisi memang panjang banget. Inovasi pertamanya saja disinyalir sudah muncul sejak awal 1800-an, yaitu ketika hukum gelombang elektromagnetik yang menjadi awal mula era komunikasi elektronik ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Farraday pada 1831 silam.

Televisi tabung pertama di dunia memang ditemukan oleh Vladimir Kosma Zworykin pada tahun 1923 dan diberi nama kinescope. Namun sebelumnya, pada musim panas tahun 1921, Philo Farnsworth yang kala itu berusia 15 tahun sudah mengerjakan penemuan televisi ini, walaupun ia baru mendemonstrasikan televisi modern pada tahun 1927.

Gagasan ilmuwan asal Utah, Amerika Serikat tentang image dissector tube menjadi dasar kerja televisi. Jadi, walaupun teknologi yang ada pada televisi masa kini sangat berbeda dengan televisi temuan Farnsworth, tetap saja metode dasar yang digunakan adalah sama.


Louis Braille, pencipta sistem tulisan Braille

Lukisan potret Louis Braille, pencipta huruf Braille (foto:Britannica)

Kalau kamu mengira bahwa penemu atau ilmuwan itu selalu orang yang kaya raya dan bahagia hidupnya, kamu salah besar. Nggak sedikit dari mereka yang harus jatuh bangun terlebih dahulu untuk bisa menciptakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Louis Braille misalnya. Pada usia yang sangat kecil, yaitu 3 tahun, ia mengalami kecelakaan yang membuat matanya tertusuk jarum dan mengalami kebutaan permanen.

Namun, ayahnya tidak menyerah dan menyekolahkan Louis Braille kecil ke Institut Nasional untuk Kaum Muda Tunanetra di Paris pada tahun 1821.

Di sekolah tersebut, Braille bertemu dengan seorang prajurit bernama Charles Barbier yang menunjukkan suatu kode bernama night writing. Kode ini dirancang khusus untuk sistem komunikasi bagi tantara perang dengan menggunakan kombinasi dua belas titik.

Terinspirasi dari kode ini, Braille yang berusia 15 tahun mengembangkan sistem yang lebih sederhana bagi penderita buta, yakni menggunakan enam titik. Pada tahun 1827, buku Braille resmi diterbitkan. Namun, baru pada akhir abad ke-19 huruf Braille diterima dan digunakan secara universal.

Kini, tanggal kelahiran Braille yaitu 4 Januari 1809 diperingati sebagai hari Braille Internasional. Rumah lamanya di Coupvray, yang terletak 40 kilometer dari Paris pun dijadikan sebagai museum Louis Braille sejak 1956 silam.


Ella Casano, ciptakan Medi Teddy untuk hapus ketakutan anak-anak terhadap rumah sakit

Ella Casano dan Medi Teddy gemas ciptaannya (foto:Awesome Inventions)

Walaupun didiagnosa dengan penyakit autoimun bernama Idiopathic Thrombocytopenia Purpura (ITP), Ella Casano tidak menyerah. Kelainan pada sel darah menyebabkan darahnya sulit membeku, sehingga pendarahan yang terjadi sulit dihentikan.

Akibatnya, sejak usia 7 tahun, Ella Casano sering disuguhi pemandangan berupa kantung-kantung darah yang tentu saja traumatik bagi anak seusianya.

Casano dan ibunya lantas mengembangkan beberapa ide, yang kemudian diproduksi sebagai Medi Teddy. Medi Teddy adalah semacam sarung bantal berbentuk boneka teddy bear. Istimewanya, sarung bantal ini ukurannya pas dengan kantung darah atau botol infus yang sering kita lihat di rumah sakit.

Banyak pasien anak-anak yang kemudian sangat senang dengan keberadaan Medi Teddy yang menggemaskan, sangat berbeda dengan rumah sakit yang image-nya menyeramkan.


Ahnaf Fauzy Zulkarnain, Bantu Petani Setempat dengan Alat Perontok Jagung

Ahnaf dengan alat perontok biji jagung ciptaannya (foto:Good News From Indonesia)

Di Indonesia, juga ada banyak penemu cilik berbakat, salah satunya Ahnaf Fauzy Zulkarnain. Di era modern ini, Ahnaf yang baru menginjak usia 12 tahun menciptakan alat perontok jagung. Alat ini tercipta berkat kepedulian murid SD Karangejek II, Gunung Kidul, Yogyakarta ini ketika ia melihat petani jagung di sekitarnya.

Proses merontokkan jagung memang biasanya hanya menggunakan tangan, sehingga tak jarang menyebabkan perih hingga lecet. Selain itu, proses manual ini juga memakan waktu lama, sehingga kuantitas yang dihasilkan tidak seberapa dan keuntungan para petani jadi tidak maksimal.

Mesin perontok jagung ini berbentuk silinder dengan bantalan karet. Cara pemakaiannya, jagung tinggal ditempelkan pada bagian mesin yang secara otomatis berputar merontokkan jagung. Mesin ini dapat digunakan dengan memutar tuas atau dengan energi listrik.

Istimewanya, alat ini juga bisa digunakan untuk memotong singkong. Papan kayu berbentuk lingkaran yang ada pada mesin dilengkapi dengan mata pisau untuk mengiris. Hasilnya, irisan singkong dengan mesin ini akan lebih rapi karena ukuran dan ketebalannya sama.

Berkat penemuannya ini, Ahnaf mendapat penghargaan sebagai peneliti Cilik Terunggul Kalbe Junior Scientist Award pada tanggal 26 Juli 2016 lalu, mengalahkan 900 peserta lainnya. Hebat banget, kan, kecil-kecil sudah bisa berkontribusi dan membawa solusi bagi masyarakat di sekitarnya. Salut deh!

Para penemu cilik ini adalah bukti, bahwa berkreasi memang tak kenal batasan usia. Jangan kecewa dulu kalau gagal, karena tiap karya pasti melalui proses trial and error agar bisa sempurna. (*)


Related Articles
Current Issues
Hari Televisi Sedunia: Yuk Jadi Penonton yang Bijak

Current Issues
Rilis Braille Bricks, LEGO Bantu Anak Tunanetra

Current Issues
Yuk Ikutan Cek Foto Galaksi dari Teleskop Hubble Sesuai Tanggal Lahirmu!