Current Issues

Cara Industri Hiburan Hollywood Lawan Stigma Gangguan Mental

Vita Kartika

Posted on January 16th 2020

Cara Industri Hiburan Hollywood Lawan Stigma Gangguan Mental | Beberapa potret artis Hollywood yang mengakhiri hidupnya (Gulf News)

 

Berita tentang publik figur yang melakukan bunuh diri selalu menjadi berita yang mengejutkan. Ironisnya, tiap tahunnya selalu ada saja bintang ternama yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Mulai dari peraih 5 penghargaan di ajang Grammy Awards 2008, Amy Winehouse yang meninggal pada 2011 silam di rumahnya karena gangguan mental, kecanduan alcohol, dan bulimia yang dideritanya. Robin Williams, aktor komedi Hollywood yang bunuh diri pada 2014 karena depresi berat pasca ia didiagnosis dengan penyakit neurodegeneratif yang membuatnya kesusahan dalam mengingat naskah film.

Ada pula Heath Ledger, pemeran Joker dalam film Batman: The Knight Rises yang meninggal di usia 29 tahun karena overdosis. Koki ternama Anthony Bourdain, komikus Brody Stevens, personel Linkin Park Chester Bennington, DJ Avicii, desainer fesyen Kate Spade, dan sederet nama lainnya yang tak mungkin tim mainmain.id sebutkan semuanya.

Belum lagi mereka yang berada di industri hiburan selain Hollywood, seperti Sulli, Go Hara, dan Jonghyun yang kepulangannya mengguncang dunia K-Pop.

Well, the good news is, kini Hollywood tengah berbenah. Mereka mulai menyebarkan awareness tentang mental health, sampai support group yang membantu selebriti melawan penyakitnya.

 

(Rawpixel)

 

Kenalkan Gangguan Mental melalui Budaya Populer Film dan Serial TV

Terlepas dari kasus yang terus bertambah dengan signifikan, gangguan mental masih dianggap tabu dan menerima banyak stigma di berbagai belahan dunia. Salah satu upaya yang dilakukan Hollywood untuk mengenalkan gangguan mental adalah dengan menciptakan karya bertemakan hal serupa. Berbagai film dan serial TV kini menampilkan pemeran-pemeran yang digambarkan bertarung melawan gangguan mental, seperti Euphoria dan The Great Depresh besutan HBO, Teen Mom di MTV, A Million Little Things dari ABC, dan Black Ink Crew: Chicago milik VH1.

Selain itu, tak sedikit pula artis yang kini speak up menyuarakan pentingnya kesadaran tentang gangguan mental. Lady Gaga bahkan mendirikan yayasan khusus untuk menolak stigma terhadap penderita gangguan mental yang diberinya nama Born This Way Foundation.

Di industri musik sendiri, ada berbagai organisasi non-profit yang didedikasikan untuk membantu mereka yang berjuang melawan depresi, kecanduan, hingga kecenderungan untuk melukai diri sendiri, seperti organisasi To Write Love On Her Arms dan Tour Support.

 

Support group bisa jadi salah satu solusi untuk mematahkan stigma tentang gangguan mental (Rawpixel)

 

Fasilitasi Para Artis dan Karyawan dengan Support Group hingga Sesi Konseling

Selain mengkampanyekan kesadaran tentang pentingnya gangguan mental ke masyarakat luas, berbagai industri hiburan Hollywood juga kian memedulikan kesehatan mental para artis dan karyawannya sendiri.

Misalnya seperti di Verizon Media, perusahaan yang menaungi Yahoo dan AOL ini memiliki support group yang bertujuan untuk mendukung para karyawan dengan ADHD, autism, bipolar disorder, dan gangguan mental lainnya. Pendiri dari support group ini, Margaux Joffe selaku Director of Accessibility Marketing di Verizon Media sendiri adalah pengidap ADHD. Melalui support group ini, ia ingin “welcoming minds of all kinds”. Hingga kini, grup ini sudah memiliki sebanyak lebih dari 300 anggota dari 35 kantor yang ada.

Lain lagi dengan strategi yang ditempuh Hulu dan UTA. Dua perusahaan ini memberikan akses secara gratis pada para karyawannya untuk melakukan appointment dengan dokter kejiwaan sesuai dengan gejala yang mereka alami melalui aplikasi Maven. Ava DuVernay, pembuat film asal Amerika Serikat mendatangkan satu tim konselor khusus selama pembuatan film When They See Us. Baginya, sangat penting untuk menyiapkan tindakan preventif ini, terutama bila film tersebut berpotensi menimbulkan trauma pada mereka yang terlibat di dalamnya.

 

Now off to the million dollar question: apa yang menyebabkan gangguan mental pada publik figur ternama?

Walaupun bukan hal yang baru, gangguan mental memang baru marak dibahas di dekade belakangan ini. Dilansir dari The Hollywood Reporter, gangguan mental memang rentan menyerang publik figur dalam rentang usia yang lebih muda. Hal ini karena mereka memiliki beban dan tekanan yang berbeda jika dibandingkan dengan artis yang lebih berumur.

Tak hanya jam kerja yang berlebihan, akses terhadap media sosial juga seakan menjadikan berita infotainment selalu ada selama 24 jam nonstop. Para publik figur seakan dituntut untuk selalu tampil sempurna. Satu cela saja bisa membuat mereka terpapar komentar kejam dan pemberitaan yang terkesan negatif.

Hal-hal ini bisa menjadi pemicu berbagai gangguan mental. Jika tidak diobati secara profesional, keadaan ini bisa semakin parah dan berakhir tragis.

Permasalahan ini dikonfirmasi pula oleh Dr. Gail Saltz, seorang profesor psikiatri di New York-Presbyterian Hospital dan Weill Cornell School of Medicine.

“Anak muda adalah yang paling rentan mengalami kecemasan (anxiety) dan depresi. Hollywood adalah industri hiburan yang kini makin dipenuhi oleh anak muda. Popularitas adalah sesuatu yang tidak mudah diraih, tapi sekali saja kesalahanmu terekspos di media, popularitas itu bisa hilang begitu saja. Inilah yang membuat selebriti begitu berjuang untuk mempertahankan popularitasnya. Dengan menciptakan musik baru, membintangi film baru, berkarya, menjadi trendsetter, dan sebagainya. Tentu saja, kamu tetap tidak akan pernah bisa sempurna. Insecurity yang ada bisa jadi stres berlebih dan menyebabkan kecemasan, depresi, hingga tendensi untuk bunuh diri,” ujar penulis The Power of Different: The Link Between Disorder and Genius ini.

Kasus bunuh diri memang terus meningkat dari tahun ke tahun, termasuk di Amerika Serikat. Pada tahun 2017, tingkat bunuh diri mencapai 14 dari 100.000 jiwa. Angka ini meningkat 33 persen sejak kasus di tahun 1999. Kini, bunuh diri adalah penyebab kematian tertinggi kedua pada rentang usia 10 hingga 35 tahun. WHO bahkan menyatakan bahwa satu di antara empat orang pasti akan terkena gangguan mental setidaknya sekali dalam hidupnya.

Gangguan mental memang masih sering dianggap tabu, disepelekan, dan memperoleh banyak stigma. Jadi, sudah sewajarnya kita mulai meluruskan pandangan ini. Yuk, mulai edukasi orang-orang di sekitarmu! (*)

Related Articles
Current Issues
Nilaimu Jelek atau Sedang Putus Cinta? Ini Solusi Untukmu

Current Issues
Apa itu Abusive Relationship dan Gaslighting?

Current Issues
Punya Hewan Peliharaan Bisa Mengurangi Risiko Bipolar