Current Issues

Mengapa Media Sosial Bikin Kita Kecanduan?

Social media addiction is real

Ahvi

Posted on January 16th 2020

Mengapa Media Sosial Bikin Kita Kecanduan?

 

Pagi sampai malam, kita bergantung pada media sosial (medsos) tempat kita berinteraksi dengan teman, sahabat, keluarga maupun orang-orang asing. Banyak yang akhirnya tidak sengaja curhat atau membagikan kehidupan sehari-hari tanpa memberikan batasan privat dan konsumsi publik. Fungsi medsos kini telah mengalami perubahan dari sekadar pengganti interaksi langsung menjadi panggung mengekspresikan diri.

Secara biologis, kita memang cenderung suka berbicara tentang diri sendiri (pemikiran, pendapat dan pengalaman) karena hal itu sangat menyenangkan, bagian otak yang terkait dengan “mencari penghargaan” mulai aktif. Bagian otak ini juga aktif saat kita mendapatkan makanan atau uang. Pantas saja, membagikan hal-hal pribadi di medsos dapat membuat kita candu.

Dalam penelitian lain juga menyebutkan bahwa sharing di medsos memengaruhi pelepasan senyawa kimia di otak yang memberikan perasaan senang. Hal ini tentu saja memberikan rasa bahagia, merasa mendapatkan dukungan sosial, dan rasa kepuasan hidup bagi seseorang.

Seseorang yang merasa medsos-nya kurang ‘apresiasi’ kemudian mengalami hal sebaliknya, hingga akhirnya mengalami stress bahkan depresi karena merasa kurang penghargaan oleh orang-orang yang sejatinya berada di dunia maya. Rasanya sangat sering kita mendengar berita kasus bunuh diri akibat hate speech di medsos, interaksi di dunia maya begitu mempengaruhi hidup seseorang di dunia nyata hingga memutuskan mengakhiri hidupnya.

Ada juga orang-orang yang mengalami kesulitan dalam menceritakan perasaannya secara langsung, medsos kemudian menjadi solusi. Riset New York Times menunjukkan bahwa sebanyak 81 persen orang-orang membagikan cerita pribadinya di medsos karena ingin berinteraksi sosial dan menyebarkan pendapatnya, tujuannya agar mendapatkan respon berupa komen.

Kalau dulu biasanya orang membagikan cerita pribadi di buku diary, kini tidak lagi diminati karena manusia memang cenderung ingin didengarkan dan ‘diakui’ eksistensinya. Dale Carnegie, seorang penulis Amerika bahkan menyamakan kebutuhan manusia untuk didengarkan sama dengan kebutuhannya untuk makan dan hal-hal primer lainnya.

Para psikolog sepakat bahwa perasaan bangga dan kata-kata pujian berkaitan dengan kebahagiaan seseorang. Pada akhirnya, pengakuan dari orang-orang di media sosial mampu membahagiakan penggunanya dan menjadi hal yang penting baginya. Kita tentu saja merasa senang saat mendapatkan respon positif dari pengguna lain di sosmed dan merasa seperti dipukul saat mendapatkan respon negatif. Padahal sejatinya, semua itu lagi-lagi hanya di dunia maya. Semu dan tidak nyata!

Banyak dari kita kemudian tidak dapat membedakan mana yang dunia nyata dan dunia maya, karena perbedaan yang begitu tipis hampir tidak terlihat. Efek yang diberikan dunia maya pun rasanya sangat nyata berpengaruh pada diri kita ‘yang asli’. Untuk itu, kita harus selalu berhati-hati dalam menggunakan sosial media, sebagaimana kita berhati-hati dalam berinteraksi di dunia nyata. Sosmed bisa memberikan kita dampak positif jika digunakan dengan bijak, so be wise, folks! (*)

Related Articles
Current Issues
Sulitnya jadi Influencer: Sering di-Bully dan Rentan Gangguan Mental

Current Issues
Suka Mengabaikan Teman Gara-gara Main Ponsel? Kamu Melakukan Phubbing!

Interest
Fleets, Fitur Baru Twitter yang Mirip Instagram Story