Current Issues

Sulitnya jadi Influencer: Sering di-Bully dan Rentan Gangguan Mental

Ahvi

Posted on January 16th 2020

Sulitnya jadi Influencer: Sering di-Bully dan Rentan Gangguan Mental

 

Saat ini, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai media untuk making friends, bagaimana seseorang dapat terkoneksi dengan orang-orang yang sangat jauh dengannya, well, it’s a last decade things. Media sosial saat ini bahkan menjadi penyedia lapangan kerja bagi para penggunanya. Tentu kita tahu profesi-profesi sebagai influencer, content creator, dan sejenisnya. Mereka semua adalah orang-orang yang menggunakan media sosial miliknya sebagai mesin pencari uang. Seperti pekerjaan lainnya, tentu menjadi seseorang yang bekerja di media sosial juga membutuhkan effort yang besar.

Untuk orang-orang seperti kita yang bukan influencer, rasanya sangat sulit untuk melepaskan diri dari sosial media. Coba diingat-ingat berapa jam dalam sehari kita menghabiskan waktu untuk mempercantik tampilan foto yang akan di-post di Instagram, atau memperkirakan filter-filter unyu untuk konten Instagram Story.

Nah, sekarang bayangkan bagaimana dengan mereka yang hidupnya bergantung dengan seberapa bagus konten yang ia hasilkan di media sosial? Kerapian feeds, warna, dan nilai estetika foto dan video mereka adalah hal yang krusial, karena dari sana mereka akan mendapatkan pendapatan. Sekali saja posting sesuatu yang tidak disukai oleh para pengikutnya, karier mereka menjadi taruhan.

Belum lagi, anonimitas dalam bersosial media membuat kita lebih mudah untuk berkomentar terus terang, dan dengan ini, membuat bullying lebih mudah terjadi. Para influencer yang sedari awal sudah pusing memikirkan kontennya, makin dibuat stress dengan komentar-komentar yang ia dapatkan, karena kita tahu, mustahil membuat sesuatu yang akan disukai semua orang.

Bayang-bayang anxiety kemudian menghantui para pengguna media sosial, khususnya bagi mereka yang sangat peduli akan engagement pada konten, jumlah likes, dan komentar-komentar orang. Memang benar mereka terlihat gampang saja mendapatkan uang, tapi kesehatan mental menjadi taruhan!

Dalam dua tahun terakhir, influencer seperti Lilly Singh, PewDiePie dan Elle Mills mengumumkan rencana untuk mengambil hiatus dari media sosial, banyak dari mereka mengutip perjuangan mereka dengan kelelahan akibat jadwal vlogging mereka.

"Aku berubah menjadi mesin. Aku merasa bahwa aku benar-benar kehilangan apa artinya menjadi manusia." Kata Singh, mengutip The Hollywood Reporter. Beberapa juga mengakui mereka harus menyembunyikan masalah internal mereka karena tuntutan besar menjadi sempurna di media sosial.

Aktor, musisi, dan pekerja seni lainnya pun sebenarnya mengalami hal serupa dengan para digital influencers ini. Mereka juga menghadapi pengawasan dari netizen dan dapat menjadi target pelecehan online.

Bedanya, para influencer ‘menjual’ kehidupannya yang nyata setiap hari, tekanannya sering kali lebih besar, kata Raina Penchansky, CEO agensi manajemen Digital Brand Architects, yang bekerja dengan banyak influencer.

Tidak hanya di Barat, hal ini juga terjadi di Indonesia dan negara-negara lainnya. Sebut saja Salmafina yang sempat mengambil hiatus dari medsos selepas kasusnya yang sempat menghebohkan publik saat itu. Ia mengaku bahwa dirinya sedang merasa lelah dan mengalami depresi.

Hiatus dengan waktu yang tak ditentukan ini diharapkan menjadi keputusan yang tepat untuk kembali memulihkan kondisinya. Merupakan sebuah keputusan yang tidak sepele jika seorang influencer memutuskan resign dari sumber pencariannya.

Untung saja, para pengembang media sosial makin ke sini juga tidak tinggal diam. Bergeraknya para creator dalam memerangi mental-illness yang disebabkan oleh media sosial memberi tekanan pada platform media sosial untuk melakukan hal yang sama, bisa dibilang bertanggung jawab.

Instagram, misalnya, pada bulan Juli 2019 kemarin memperkenalkan kebijakan baru untuk memerangi penindasan dan sedang menguji terobosan baru mereka; menyembunyikan jumlah likes dari publik. YouTube juga memperkenalkan kebijakan anti-pelecehan yang lebih kuat dari sebelumnya. (*)

Related Articles
Interest
Pusing Pikirkan Jumlah 'Like', Tom Holland Hapus Aplikasi Instagram

Portrait
Becky G, Musisi Muda Inspiratif yang Vokal tentang Isu-isu Sosial

Interest
Rehat dari Medsos Bantu Selena Gomez Cintai Diri Sendiri dan Hindari Depresi