Current Issues

Viral Keraton Agung Sejagat! Kenapa Kok Ada yang Percaya? Ini Penjelasan Ahli

Saniah

Posted on January 16th 2020

Santoso Hadiningrat dan Dyah Gitarja (Merdeka) 

 

Belakangan ini media sosial dihebohkan dengan kemunculan kerajaan jadi-jadian, yakni Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah. Keraton mengklaim punya 400-an pengikut ini pun mendadak viral. Keyword dan tanda pagar (tagar) terkait keraton ini trending di berbagai platform.

Mungkin bagi kalian yang gak ngikuti, mainmain.id kasih penjelasan dikit soal keraton jadi-jadian ini. Di keraton ini ada raja yang dipanggil Sinuwun. Dia adalah Santoso Hadiningrat. Dalam banyak video yang beredar, Santoso digambarkan duduk di singgasana bersama istrinya yang dipanggil Kanjeng Ratu Dyah Gitarja.

Santoso Hadiningrat dan istrinya berpakaian bak raja dan ratu. Di video juga terlihat para pengikuti Santoso yang menggunakan seragam penuh emblem seperti pasukan kerajaan. Santoso membuai para pengikutnya dengan iming-iming mendapatkan uang yang selama ini disimpan di bank Swiss.

Keraton Agung Segajat menurut Santoso lahir dari karena dia mendapat wangsit dari leluhur dan raja Sanjaya --yang disebutnya sebagai keturunan raja Mataram-- untuk meneruskan pendirian Kerajaan Mataram di Kecamatan Bayan, Purworejo.

Kini Santoso dan istrinya telah diamankan di Mapolres Purworejo untuk dilakukan pemeriksaan. Dia diduga telah membujuk sejumlah orang dengan tawaran dan iming-iming palsu. Salah satu bukti yang dikantongi polisi adalah dokumen-dokumen palsu yang dibuat sendiri oleh Santoso.

Nah, bakal mainmain.id bahas di sini adalah kenapa sih masih ada saja orang percaya terkait hal seperti ini? Termasuk percaya keberadaan Keraton Agung Sejagat yang jelas terkesan mengada-ada ini? Yuk ikuti penjelasan para ahli berikut ini.

Pengamat Budaya yang juga Guru Besar Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Bani Sudardi mengungkapkan pada Tribunnews beberapa alasan mengapa ada orang percaya pada hal-hal semacam ini.

Pertama, menurut Bardi, orang yang percaya hal seperti ini karena kurang pengetahuan. "Orang-orang yang menerima menjadi bagian kerajaan itu mungkin tidak memiliki wawasan antara lain wawasan agama, wawasan politik, dan juga kewarganegaraan," tutur Bani.

Kedua, para pengikuti itu ingin membuat sensasi. "Bisa jadi mereka ingin menciptakan sensasi supaya diperhatikan. Ingin menjadi bagian dari kelompok yang terlihat hebat dan eksklusif," ujarnya.

Ketiga, para pengikuti seperti itu merasa punya kepentingan yang sama. "Bisa jadi ada orang-orang yang punya kepentingan tertentu, saya tidak bisa mengatakan kepentingannya apa. Tetapi nanti akan terungkap sekira setahun atau dua tahun kedepan," pungkasnya.

 

Para Pengikut Keraton Agung Sejagat (Indozone) 

 

Sementara Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Drajat Tri Kartono mengatakan pada tim Kompas ada dua kemungkinan fenomena tersebut bisa muncul.

Pertama, adanya rasa kekecewaan terhadap negara dan pemerintahan yang tidak mampu memberikan ketenangan. "Ada kemungkinan juga karena kekecewaan terhadap pemerintah Indonesia yang bertahun-tahun isinya kok berantem terus, seolah-olah negara tidak bisa membawa kedamaian ketenteraman dan keadilan," kata Drajat.

Kedua adalah adanya kepercayaan kepada nilai-nilai fatalistik tentang masa lalu yang masih kuat di masyarakat. "Karena kepercayaan kepada sistem dan nilai-nilai fatalistik tentang itu yang masih kuat di masyarakat. Makanya ada orang yang mendeklarasikan itu," paparnya.

Menurutnya, kepercayaan atau keyakinan tentang bangsa Jawa yang besar ini sudah ada dari dulu sampai sekarang. Drajat mencontohkan ramalan Kertonegoro, yaitu ramalan yang menyebutkan akan adanya Ratu Adil. Atas dasar keyakinan itulah masyarakat bisa dengan mudah percaya ketika ada orang ujug-ujug hadir dengan menyebut dirinya Ratu Adil.(*)

Related Articles
Current Issues
Viral Challenge Minum 5 Liter Boba, ini Tanggapan Dokter

Current Issues
Gegara Pelihara Ribuan Cebong, Remaja Ini Viral di TikTok

Current Issues
Ini Daftar Kabupaten/Kota yang Terapkan PPKM Darurat Paling Ketat