Interest

Kolaborasi Karakter 2 Maestro dalam '57x76'

Syahzanan Haunan

Posted on July 2nd 2018

(via: Instagram @galerinasional)
 
Pameran karya seni rupa yang bertajuk ‘57x76’ ini merupakan pameran kolaborasi antara dua seniman maestro, yaitu Hanafi dan Goenawan Mohamad. Hanafi telah lama menghasilkan karya-karya seni rupa beraliran abstrak sejak tahun 1990-an hingga saat ini. Beberapa pameran tunggal Hanafi yang telah digelar sebelumnya adalah ‘Migrasi Kolong Meja’ di Semarang dan Ubud pada tahun 2013-2014, serta ‘Pintu Belakang | Derau Jawa’ di Galeri Nasional tahun 2016. Sedangkan, Goenawan Mohamad sudah berkecimpung sebagai jurnalis sekaligus sastrawan sejak tahun 1970-an. Dalam bidang jurnalistik dan sastra, Goenawan Muhamad berperan sebagai salah satu pendiri Majalah Tempo dan mengisi kolom artikel pendek di Majalah Tempo yang dikenal dengan ‘Catatan Pinggir (Caping)’, selain itu beberapa kumpulan esainya yang terkenal adalah ‘Kesusastraan dan Kekuasaaan’ (1993), ‘Setelah Revolusi Tak Ada Lagi’ (2001), ‘Goenawan Mohamad Selected Poems’ (2004), dan ‘Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai’ (2007).
 
Pameran ‘57x76’ ini digelar mulai dari tanggal 21 Juni hingga 2 Juli 2018 di Galeri Nasional, Karya yang dipamerkan berjumlah 80 karya dari 200 karya kolaborasi Hanafi dan Goenawan Mohamad selama kurang lebih enam bulan. Selain menggelar pameran karya-karya seni rupa, acara ini juga mengadakan lokakarya yang berkaitan dengan metode Hanafi dan Goenawan Mohamad berkolaborasi dalam proses berkarya. Pemilihan ‘56x76’ sebagai nama pameran ini dikarenakan usia Hanafi yang 57 tahun dan Goenawan Mohamad yang 76 tahun, sedangkan simbol ‘x’ merupakan representasi dari bentuk kolaborasi keduanya.
 
Pada pembukaan pameran Kamis (21/6/18), baik Hanafi maupun Goenawan Mohamad menyatakan jika sebagian besar karya diselesaikan di studio masing-masing tanpa tatap muka dan tak ada diskusi mengenai konsep yang mendalam antara satu sama lain. Metode yang digunakan keduanya ternyata mampu menghasilkan spontanitas dan kepercayaan atas gagasan-gagasan artistik yang berkaitan dengan pengkaryaan.
 
Menurut Agung Hujatnikajennong, kolaborasi dari Hanafi dan Goenawan Mohamad bukanlah sebagai seorang seniman, tetapi kesepakatan keduanya sebagai individu yang saling melengkapi dan melepaskan karakter masing-masing untuk karya bersama.
 
Goenawan Mohamad meyakini jika makna yang lebih dalam dari kata ‘dirusak’ dalam proses pengkaryaan rupa adalah sebuah metamorfosis pada garis, bidang, dan warna.
 
Saat memasuki gedung utama Galeri Nasional, karya berbentuk garis vertikal dan horizontal dengan berbagai tekstur dan warna merupakan karya pertama hasil kolaborasi Hanafi dan Goenawan yang disuguhkan. Menurut Hanafi, karya ini adalah sebuah representasi dari ‘Habluminallah’ yang merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan ‘Habluminannas’ yaitu hubungan antara manusia dengan sesamanya.
 
Kemudian, menuju ke ruang tengah dari pameran ini, terdapat karya ‘Bak Mandi’, yaitu sebuah instalasi yang menampilkan karya sketsa dari Hanafi dan Goenawan Mohamad. Alasan yang memprakarsai karya-karya itu ditampilkan menggunakan instalasi tersebut berawal dari fenomena yang terjadi saat ini, yaitu pengunjung yang memunggungi karya rupa saat dipajang di dinding galeri untuk eksistensi di dunia maya. Diharapkan melalui instalasi ‘Bak Mandi’ tersebut, pengunjung dari pameran ‘57x76’ dapat saling bertatap muka dan mengapresiasi karya dengan lebih dalam.
 
 
Selanjutnya, terdapat lukisan dan instalasi untuk mengenang Stephen Hawking yang telah wafat pada Maret 2018. Mayoritas karya yang diciptakan oleh Hanafi dan Goenawan Mohamad berasal dari spontanitas intersubjektif dan peristiwa yang terjadi selama enam bulan waktu kolaborasi. Selain sama-sama spontan dalam menciptakan karya, keduanya juga terinspirasi dari seniman yang sama yaitu Antoni Tapies, Pablo Picasso, dan Max Ernst, inspirasi ketiga sosok ini tergambarkan dari lukisan tiga sejoli di sudut tembok berwarna merah.
 
Tiga sejoli Pablo Picasso, Max Ernst, dan Antoni Tapies (via: Instagram @kolaborasi_57x76)
 
 
 
(via: Instagram @galerinasional)
 
Pameran karya seni rupa yang bertajuk ‘57x76’ ini merupakan pameran kolaborasi antara dua seniman maestro, yaitu Hanafi dan Goenawan Mohamad. Hanafi telah lama menghasilkan karya-karya seni rupa beraliran abstrak sejak tahun 1990-an hingga saat ini. Beberapa pameran tunggal Hanafi yang telah digelar sebelumnya adalah ‘Migrasi Kolong Meja’ di Semarang dan Ubud pada tahun 2013-2014, serta ‘Pintu Belakang | Derau Jawa’ di Galeri Nasional tahun 2016. Sedangkan, Goenawan Mohamad sudah berkecimpung sebagai jurnalis sekaligus sastrawan sejak tahun 1970-an. Dalam bidang jurnalistik dan sastra, Goenawan Muhamad berperan sebagai salah satu pendiri Majalah Tempo dan mengisi kolom artikel pendek di Majalah Tempo yang dikenal dengan ‘Catatan Pinggir (Caping)’, selain itu beberapa kumpulan esainya yang terkenal adalah ‘Kesusastraan dan Kekuasaaan’ (1993), ‘Setelah Revolusi Tak Ada Lagi’ (2001), ‘Goenawan Mohamad Selected Poems’ (2004), dan ‘Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai’ (2007).
 
Pameran ‘57x76’ ini digelar mulai dari tanggal 21 Juni hingga 2 Juli 2018 di Galeri Nasional, Karya yang dipamerkan berjumlah 80 karya dari 200 karya kolaborasi Hanafi dan Goenawan Mohamad selama kurang lebih enam bulan. Selain menggelar pameran karya-karya seni rupa, acara ini juga mengadakan lokakarya yang berkaitan dengan metode Hanafi dan Goenawan Mohamad berkolaborasi dalam proses berkarya. Pemilihan ‘56x76’ sebagai nama pameran ini dikarenakan usia Hanafi yang 57 tahun dan Goenawan Mohamad yang 76 tahun, sedangkan simbol ‘x’ merupakan representasi dari bentuk kolaborasi keduanya.
 
Pada pembukaan pameran Kamis (21/6/18), baik Hanafi maupun Goenawan Mohamad menyatakan jika sebagian besar karya diselesaikan di studio masing-masing tanpa tatap muka dan tak ada diskusi mengenai konsep yang mendalam antara satu sama lain. Metode yang digunakan keduanya ternyata mampu menghasilkan spontanitas dan kepercayaan atas gagasan-gagasan artistik yang berkaitan dengan pengkaryaan.
 
Menurut Agung Hujatnikajennong, kolaborasi dari Hanafi dan Goenawan Mohamad bukanlah sebagai seorang seniman, tetapi kesepakatan keduanya sebagai individu yang saling melengkapi dan melepaskan karakter masing-masing untuk karya bersama.
 
Goenawan Mohamad meyakini jika makna yang lebih dalam dari kata ‘dirusak’ dalam proses pengkaryaan rupa adalah sebuah metamorfosis pada garis, bidang, dan warna.
 
Saat memasuki gedung utama Galeri Nasional, karya berbentuk garis vertikal dan horizontal dengan berbagai tekstur dan warna merupakan karya pertama hasil kolaborasi Hanafi dan Goenawan yang disuguhkan. Menurut Hanafi, karya ini adalah sebuah representasi dari ‘Habluminallah’ yang merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan ‘Habluminannas’ yaitu hubungan antara manusia dengan sesamanya.
 
Kemudian, menuju ke ruang tengah dari pameran ini, terdapat karya ‘Bak Mandi’, yaitu sebuah instalasi yang menampilkan karya sketsa dari Hanafi dan Goenawan Mohamad. Alasan yang memprakarsai karya-karya itu ditampilkan menggunakan instalasi tersebut berawal dari fenomena yang terjadi saat ini, yaitu pengunjung yang memunggungi karya rupa saat dipajang di dinding galeri untuk eksistensi di dunia maya. Diharapkan melalui instalasi ‘Bak Mandi’ tersebut, pengunjung dari pameran ‘57x76’ dapat saling bertatap muka dan mengapresiasi karya dengan lebih dalam.
 
 
Selanjutnya, terdapat lukisan dan instalasi untuk mengenang Stephen Hawking yang telah wafat pada Maret 2018. Mayoritas karya yang diciptakan oleh Hanafi dan Goenawan Mohamad berasal dari spontanitas intersubjektif dan peristiwa yang terjadi selama enam bulan waktu kolaborasi. Selain sama-sama spontan dalam menciptakan karya, keduanya juga terinspirasi dari seniman yang sama yaitu Antoni Tapies, Pablo Picasso, dan Max Ernst, inspirasi ketiga sosok ini tergambarkan dari lukisan tiga sejoli di sudut tembok berwarna merah.
 
Tiga sejoli Pablo Picasso, Max Ernst, dan Antoni Tapies (via: Instagram @kolaborasi_57x76)
 
 
 
(via: Instagram @galerinasional)
 
Pameran karya seni rupa yang bertajuk ‘57x76’ ini merupakan pameran kolaborasi antara dua seniman maestro, yaitu Hanafi dan Goenawan Mohamad. Hanafi telah lama menghasilkan karya-karya seni rupa beraliran abstrak sejak tahun 1990-an hingga saat ini. Beberapa pameran tunggal Hanafi yang telah digelar sebelumnya adalah ‘Migrasi Kolong Meja’ di Semarang dan Ubud pada tahun 2013-2014, serta ‘Pintu Belakang | Derau Jawa’ di Galeri Nasional tahun 2016. Sedangkan, Goenawan Mohamad sudah berkecimpung sebagai jurnalis sekaligus sastrawan sejak tahun 1970-an. Dalam bidang jurnalistik dan sastra, Goenawan Muhamad berperan sebagai salah satu pendiri Majalah Tempo dan mengisi kolom artikel pendek di Majalah Tempo yang dikenal dengan ‘Catatan Pinggir (Caping)’, selain itu beberapa kumpulan esainya yang terkenal adalah ‘Kesusastraan dan Kekuasaaan’ (1993), ‘Setelah Revolusi Tak Ada Lagi’ (2001), ‘Goenawan Mohamad Selected Poems’ (2004), dan ‘Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai’ (2007).
 
Pameran karya seni rupa yang bertajuk ‘57x76’ ini merupakan pameran kolaborasi antara dua seniman maestro, yaitu Hanafi dan Goenawan Mohamad. Hanafi telah lama menghasilkan karya-karya seni rupa beraliran abstrak sejak tahun 1990-an hingga saat ini. Beberapa pameran tunggal Hanafi yang telah digelar sebelumnya adalah ‘Migrasi Kolong Meja’ di Semarang dan Ubud pada tahun 2013-2014, serta ‘Pintu Belakang | Derau Jawa’ di Galeri Nasional tahun 2016. Sedangkan, Goenawan Mohamad sudah berkecimpung sebagai jurnalis sekaligus sastrawan sejak tahun 1970-an. Dalam bidang jurnalistik dan sastra, Goenawan Muhamad berperan sebagai salah satu pendiri Majalah Tempo dan mengisi kolom artikel pendek di Majalah Tempo yang dikenal dengan ‘Catatan Pinggir (Caping)’, selain itu beberapa kumpulan esainya yang terkenal adalah ‘Kesusastraan dan Kekuasaaan’ (1993), ‘Setelah Revolusi Tak Ada Lagi’ (2001), ‘Goenawan Mohamad Selected Poems’ (2004), dan ‘Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai’ (2007).
 
Pameran ‘57x76’ ini digelar mulai dari tanggal 21 Juni hingga 2 Juli 2018 di Galeri Nasional, Karya yang dipamerkan berjumlah 80 karya dari 200 karya kolaborasi Hanafi dan Goenawan Mohamad selama kurang lebih enam bulan. Selain menggelar pameran karya-karya seni rupa, acara ini juga mengadakan lokakarya yang berkaitan dengan metode Hanafi dan Goenawan Mohamad berkolaborasi dalam proses berkarya. Pemilihan ‘56x76’ sebagai nama pameran ini dikarenakan usia Hanafi yang 57 tahun dan Goenawan Mohamad yang 76 tahun, sedangkan simbol ‘x’ merupakan representasi dari bentuk kolaborasi keduanya.
Pameran ‘57x76’ ini digelar mulai dari tanggal 21 Juni hingga 2 Juli 2018 di Galeri Nasional, Karya yang dipamerkan berjumlah 80 karya dari 200 karya kolaborasi Hanafi dan Goenawan Mohamad selama kurang lebih enam bulan. Selain menggelar pameran karya-karya seni rupa, acara ini juga mengadakan lokakarya yang berkaitan dengan metode Hanafi dan Goenawan Mohamad berkolaborasi dalam proses berkarya. Pemilihan ‘56x76’ sebagai nama pameran ini dikarenakan usia Hanafi yang 57 tahun dan Goenawan Mohamad yang 76 tahun, sedangkan simbol ‘x’ merupakan representasi dari bentuk kolaborasi keduanya.
 
Pada pembukaan pameran Kamis (21/6/18), baik Hanafi maupun Goenawan Mohamad menyatakan jika sebagian besar karya diselesaikan di studio masing-masing tanpa tatap muka dan tak ada diskusi mengenai konsep yang mendalam antara satu sama lain. Metode yang digunakan keduanya ternyata mampu menghasilkan spontanitas dan kepercayaan atas gagasan-gagasan artistik yang berkaitan dengan pengkaryaan.
 
Menurut Agung Hujatnikajennong, kolaborasi dari Hanafi dan Goenawan Mohamad bukanlah sebagai seorang seniman, tetapi kesepakatan keduanya sebagai individu yang saling melengkapi dan melepaskan karakter masing-masing untuk karya bersama.
 
Goenawan Mohamad meyakini jika makna yang lebih dalam dari kata ‘dirusak’ dalam proses pengkaryaan rupa adalah sebuah metamorfosis pada garis, bidang, dan warna.
 
Saat memasuki gedung utama Galeri Nasional, karya berbentuk garis vertikal dan horizontal dengan berbagai tekstur dan warna merupakan karya pertama hasil kolaborasi Hanafi dan Goenawan yang disuguhkan. Menurut Hanafi, karya ini adalah sebuah representasi dari ‘Habluminallah’ yang merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan ‘Habluminannas’ yaitu hubungan antara manusia dengan sesamanya.
 
Kemudian, menuju ke ruang tengah dari pameran ini, terdapat karya ‘Bak Mandi’, yaitu sebuah instalasi yang menampilkan karya sketsa dari Hanafi dan Goenawan Mohamad. Alasan yang memprakarsai karya-karya itu ditampilkan menggunakan instalasi tersebut berawal dari fenomena yang terjadi saat ini, yaitu pengunjung yang memunggungi karya rupa saat dipajang di dinding galeri untuk eksistensi di dunia maya. Diharapkan melalui instalasi ‘Bak Mandi’ tersebut, pengunjung dari pameran ‘57x76’ dapat saling bertatap muka dan mengapresiasi karya dengan lebih dalam.
 
 
Selanjutnya, terdapat lukisan dan instalasi untuk mengenang Stephen Hawking yang telah wafat pada Maret 2018. Mayoritas karya yang diciptakan oleh Hanafi dan Goenawan Mohamad berasal dari spontanitas intersubjektif dan peristiwa yang terjadi selama enam bulan waktu kolaborasi. Selain sama-sama spontan dalam menciptakan karya, keduanya juga terinspirasi dari seniman yang sama yaitu Antoni Tapies, Pablo Picasso, dan Max Ernst, inspirasi ketiga sosok ini tergambarkan dari lukisan tiga sejoli di sudut tembok berwarna merah.
 
Tiga sejoli Pablo Picasso, Max Ernst, dan Antoni Tapies (via: Instagram @kolaborasi_57x76)
 
 
 
 
Pada pembukaan pameran Kamis (21/6/18), baik Hanafi maupun Goenawan Mohamad menyatakan jika sebagian besar karya diselesaikan di studio masing-masing tanpa tatap muka dan tak ada diskusi mengenai konsep yang mendalam antara satu sama lain. Metode yang digunakan keduanya ternyata mampu menghasilkan spontanitas dan kepercayaan atas gagasan-gagasan artistik yang berkaitan dengan pengkaryaan.
 
 
Goenawan Mohamad meyakini jika makna yang lebih dalam dari kata ‘dirusak’ dalam proses pengkaryaan rupa adalah sebuah metamorfosis pada garis, bidang, dan warna.
 
Saat memasuki gedung utama Galeri Nasional, karya berbentuk garis vertikal dan horizontal dengan berbagai tekstur dan warna merupakan karya pertama hasil kolaborasi Hanafi dan Goenawan yang disuguhkan. Menurut Hanafi, karya ini adalah sebuah representasi dari ‘Habluminallah’ yang merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan ‘Habluminannas’ yaitu hubungan antara manusia dengan sesamanya.
 
Kemudian, menuju ke ruang tengah dari pameran ini, terdapat karya ‘Bak Mandi’, yaitu sebuah instalasi yang menampilkan karya sketsa dari Hanafi dan Goenawan Mohamad. Alasan yang memprakarsai karya-karya itu ditampilkan menggunakan instalasi tersebut berawal dari fenomena yang terjadi saat ini, yaitu pengunjung yang memunggungi karya rupa saat dipajang di dinding galeri untuk eksistensi di dunia maya. Diharapkan melalui instalasi ‘Bak Mandi’ tersebut, pengunjung dari pameran ‘57x76’ dapat saling bertatap muka dan mengapresiasi karya dengan lebih dalam.
 
 
Selanjutnya, terdapat lukisan dan instalasi untuk mengenang Stephen Hawking yang telah wafat pada Maret 2018. Mayoritas karya yang diciptakan oleh Hanafi dan Goenawan Mohamad berasal dari spontanitas intersubjektif dan peristiwa yang terjadi selama enam bulan waktu kolaborasi. Selain sama-sama spontan dalam menciptakan karya, keduanya juga terinspirasi dari seniman yang sama yaitu Antoni Tapies, Pablo Picasso, dan Max Ernst, inspirasi ketiga sosok ini tergambarkan dari lukisan tiga sejoli di sudut tembok berwarna merah.
 
Tiga sejoli Pablo Picasso, Max Ernst, dan Antoni Tapies (via: Instagram @kolaborasi_57x76)
 
 
 
Saat memasuki gedung utama Galeri Nasional, karya berbentuk garis vertikal dan horizontal dengan berbagai tekstur dan warna merupakan karya pertama hasil kolaborasi Hanafi dan Goenawan yang disuguhkan. Menurut Hanafi, karya ini adalah sebuah representasi dari ‘Habluminallah’ yang merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan ‘Habluminannas’ yaitu hubungan antara manusia dengan sesamanya.
 
Kemudian, menuju ke ruang tengah dari pameran ini, terdapat karya ‘Bak Mandi’, yaitu sebuah instalasi yang menampilkan karya sketsa dari Hanafi dan Goenawan Mohamad. Alasan yang memprakarsai karya-karya itu ditampilkan menggunakan instalasi tersebut berawal dari fenomena yang terjadi saat ini, yaitu pengunjung yang memunggungi karya rupa saat dipajang di dinding galeri untuk eksistensi di dunia maya. Diharapkan melalui instalasi ‘Bak Mandi’ tersebut, pengunjung dari pameran ‘57x76’ dapat saling bertatap muka dan mengapresiasi karya dengan lebih dalam.
 
 
Selanjutnya, terdapat lukisan dan instalasi untuk mengenang Stephen Hawking yang telah wafat pada Maret 2018. Mayoritas karya yang diciptakan oleh Hanafi dan Goenawan Mohamad berasal dari spontanitas intersubjektif dan peristiwa yang terjadi selama enam bulan waktu kolaborasi. Selain sama-sama spontan dalam menciptakan karya, keduanya juga terinspirasi dari seniman yang sama yaitu Antoni Tapies, Pablo Picasso, dan Max Ernst, inspirasi ketiga sosok ini tergambarkan dari lukisan tiga sejoli di sudut tembok berwarna merah.
 
Tiga sejoli Pablo Picasso, Max Ernst, dan Antoni Tapies (via: Instagram @kolaborasi_57x76)
 
 
 
Saat memasuki gedung utama Galeri Nasional, karya berbentuk garis vertikal dan horizontal dengan berbagai tekstur dan warna merupakan karya pertama hasil kolaborasi Hanafi dan Goenawan yang disuguhkan. Menurut Hanafi, karya ini adalah sebuah representasi dari ‘Habluminallah’ yang merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan ‘Habluminannas’ yaitu hubungan antara manusia dengan sesamanya.
 
Kemudian, menuju ke ruang tengah dari pameran ini, terdapat karya ‘Bak Mandi’, yaitu sebuah instalasi yang menampilkan karya sketsa dari Hanafi dan Goenawan Mohamad. Alasan yang memprakarsai karya-karya itu ditampilkan menggunakan instalasi tersebut berawal dari fenomena yang terjadi saat ini, yaitu pengunjung yang memunggungi karya rupa saat dipajang di dinding galeri untuk eksistensi di dunia maya. Diharapkan melalui instalasi ‘Bak Mandi’ tersebut, pengunjung dari pameran ‘57x76’ dapat saling bertatap muka dan mengapresiasi karya dengan lebih dalam.
 
 
Selanjutnya, terdapat lukisan dan instalasi untuk mengenang Stephen Hawking yang telah wafat pada Maret 2018. Mayoritas karya yang diciptakan oleh Hanafi dan Goenawan Mohamad berasal dari spontanitas intersubjektif dan peristiwa yang terjadi selama enam bulan waktu kolaborasi. Selain sama-sama spontan dalam menciptakan karya, keduanya juga terinspirasi dari seniman yang sama yaitu Antoni Tapies, Pablo Picasso, dan Max Ernst, inspirasi ketiga sosok ini tergambarkan dari lukisan tiga sejoli di sudut tembok berwarna merah.
 
Tiga sejoli Pablo Picasso, Max Ernst, dan Antoni Tapies (via: Instagram @kolaborasi_57x76)
 
 
 
Kemudian, menuju ke ruang tengah dari pameran ini, terdapat karya ‘Bak Mandi’, yaitu sebuah instalasi yang menampilkan karya sketsa dari Hanafi dan Goenawan Mohamad. Alasan yang memprakarsai karya-karya itu ditampilkan menggunakan instalasi tersebut berawal dari fenomena yang terjadi saat ini, yaitu pengunjung yang memunggungi karya rupa saat dipajang di dinding galeri untuk eksistensi di dunia maya. Diharapkan melalui instalasi ‘Bak Mandi’ tersebut, pengunjung dari pameran ‘57x76’ dapat saling bertatap muka dan mengapresiasi karya dengan lebih dalam.
 
 
Selanjutnya, terdapat lukisan dan instalasi untuk mengenang Stephen Hawking yang telah wafat pada Maret 2018. Mayoritas karya yang diciptakan oleh Hanafi dan Goenawan Mohamad berasal dari spontanitas intersubjektif dan peristiwa yang terjadi selama enam bulan waktu kolaborasi. Selain sama-sama spontan dalam menciptakan karya, keduanya juga terinspirasi dari seniman yang sama yaitu Antoni Tapies, Pablo Picasso, dan Max Ernst, inspirasi ketiga sosok ini tergambarkan dari lukisan tiga sejoli di sudut tembok berwarna merah.
 
Tiga sejoli Pablo Picasso, Max Ernst, dan Antoni Tapies (via: Instagram @kolaborasi_57x76)
 
 
 
Kemudian, menuju ke ruang tengah dari pameran ini, terdapat karya ‘Bak Mandi’, yaitu sebuah instalasi yang menampilkan karya sketsa dari Hanafi dan Goenawan Mohamad. Alasan yang memprakarsai karya-karya itu ditampilkan menggunakan instalasi tersebut berawal dari fenomena yang terjadi saat ini, yaitu pengunjung yang memunggungi karya rupa saat dipajang di dinding galeri untuk eksistensi di dunia maya. Diharapkan melalui instalasi ‘Bak Mandi’ tersebut, pengunjung dari pameran ‘57x76’ dapat saling bertatap muka dan mengapresiasi karya dengan lebih dalam.
 
 
Selanjutnya, terdapat lukisan dan instalasi untuk mengenang Stephen Hawking yang telah wafat pada Maret 2018. Mayoritas karya yang diciptakan oleh Hanafi dan Goenawan Mohamad berasal dari spontanitas intersubjektif dan peristiwa yang terjadi selama enam bulan waktu kolaborasi. Selain sama-sama spontan dalam menciptakan karya, keduanya juga terinspirasi dari seniman yang sama yaitu Antoni Tapies, Pablo Picasso, dan Max Ernst, inspirasi ketiga sosok ini tergambarkan dari lukisan tiga sejoli di sudut tembok berwarna merah.
 
Tiga sejoli Pablo Picasso, Max Ernst, dan Antoni Tapies (via: Instagram @kolaborasi_57x76)
 
 
 
Selanjutnya, terdapat lukisan dan instalasi untuk mengenang Stephen Hawking yang telah wafat pada Maret 2018. Mayoritas karya yang diciptakan oleh Hanafi dan Goenawan Mohamad berasal dari spontanitas intersubjektif dan peristiwa yang terjadi selama enam bulan waktu kolaborasi. Selain sama-sama spontan dalam menciptakan karya, keduanya juga terinspirasi dari seniman yang sama yaitu Antoni Tapies, Pablo Picasso, dan Max Ernst, inspirasi ketiga sosok ini tergambarkan dari lukisan tiga sejoli di sudut tembok berwarna merah.
 
Tiga sejoli Pablo Picasso, Max Ernst, dan Antoni Tapies (via: Instagram @kolaborasi_57x76)
 
 
Selanjutnya, terdapat lukisan dan instalasi untuk mengenang Stephen Hawking yang telah wafat pada Maret 2018. Mayoritas karya yang diciptakan oleh Hanafi dan Goenawan Mohamad berasal dari spontanitas intersubjektif dan peristiwa yang terjadi selama enam bulan waktu kolaborasi. Selain sama-sama spontan dalam menciptakan karya, keduanya juga terinspirasi dari seniman yang sama yaitu Antoni Tapies, Pablo Picasso, dan Max Ernst, inspirasi ketiga sosok ini tergambarkan dari lukisan tiga sejoli di sudut tembok berwarna merah.
 
 
 
 
 
Artikel Terkait
Interest
‘Balik Bandung’ Pameran Pembukan #BDGARTMONTH2018

Interest
Siapa Tandingan Asus Zenfone Max Pro M1?

Interest
Stroke Bukan Penyakit Orang Tua Loh, Anak Muda Pun Bisa Terkena