Current Issues

Jakarta Bakal Larang Penggunaan Plastik Sekali Pakai Juli 2020, Efektifkah?

Vita Kartika

Posted on January 8th 2020

Larangan penggunaan plastik sekali pakai resmi dilaksanakan di Jakarta pada Juli 2020 mendatang (Create Digital)

 

Aturan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai telah resmi diterbitkan di DKI Jakarta. Berdasarkan Pergub Nomor 142 Tahun 2019, setiap pengelola pusat perbelanjaan, toko swalayan, hingga pasar tradisional harus menggunakan kantong belanja ramah lingkungan.

Pergub ini telah ditandatangani Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sejak 27 Desember 2019 lalu, walaupun baru marak diberitakan beberapa hari belakangan. Dilansir dari Liputan 6, pada 7 Januari 2020, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih pun mengiyakan bahwa Pergub ini telah diterbitkan.

Banyak masyarakat yang kemudian bertanya-tanya, apakah Pergub ini dikeluarkan karena bencana banjir yang melanda berbagai titik di Jakarta pada momen tahun baru silam. Dilansir dari The Jakarta Post, Anies Baswedan memmbantah. Ia mengatakan bahwa penggunaan plastik perlu diatur dalam perundangan karena limbah plastik adalah salah satu penyebab perubahan iklim secara global.

“Melalui Pergub ini, kita berharap masyarakat memiliki kesadaran (awareness) untuk mengurangi limbah plastik,” ujarnya.

Walaupun sudah resmi diterbitkan, Pergub ini baru akan efektif ditetapkan pada Juli 2020 mendatang, karena akan didahului dengan sosialisasi kepada masyarakat selama enam bulan. Dalam pelaksanaannya nanti, pelaku usaha dilarang menyediakan kantong plastik sekali pakai dan diganti dengan kantong ramah lingkungan yang berbayar.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih mengatakan bahwa pelaku usaha yang tidak menaati aturan tentu akan dikenakan sanksi, mulai dari sanksi administratif berupa teguran tertulis, denda, hingga pembekuan izin dan pencabutan izin. Sebaliknya, pelaku usaha yang taat aturan akan diberi reward berupa insentif dan keringanan pajak.

 

Reusable bag, baiknya digunakan berapa kali? (Thought Co)

 

Seberapa efektif mengganti kantong plastik dengan tas ramah lingkungan?

Berdasarkan aturan tersebut, kantong plastik didefinisikan sebagai tas transparan yang terbuat dari berbagai jenis plastik, termasuk polyethylene dan thermoplastics. Sebaliknya, tas ramah lingkungan bisa terbuat dari beragam material, mulai dari daun, kertas, kain, katun, polyester, bahan daur ulang, dan lain-lain.

Plastik dinilai berbahaya karena bahan ini membutuhkan hingga 400 tahun untuk terurai. Tapi, kita juga perlu bijak dalam menggunakan tas ramah lingkungan. Kalau kalian beli reusable bag hanya untuk dipakai sekali, lalu beli yang baru lagi tiap kalian berbelanja, maka dampaknya pun tidak baik bagi bumi.

Dilansir dari Science Alert, efektif atau tidaknya penggunaan tas ramah lingkungan bisa dipahami melalui life cycle assessments, yang memperhitungkan segala faktor, termasuk material mentah yang digunakan, cara produksi, metode transportasi barang dari satu tempat ke tempat lain, dan pembuangan akhirnya.

Riset yang dilakukan di Denmark pada 2018 silam menyatakan bahwa polypropylene bag (tas ramah lingkungan yang sering dijual di supermarket) harus dipakai setidaknya 37 kali agar setara dengan carbon footprint yang telah dihasilkan. Sedangkan paper bag harus digunakan 43 kali, tote bag harus dipakai 373 kali, dan cotton bag harus dipakai hingga 7100 kali.

Wah, kok beda-beda gitu, ya? Dan kenapa tas berbahan katun harus dipakai selama itu? Ini karena butuh energi yang tak sedikit untuk memproduksi benang kapas, termasuk juga pupuk yang digunakan selama pertumbuhan kapas dan limbahnya yang berdampak pada kehidupan bawah laut. Selain itu, tas katun juga memiliki partikel yang relatif besar, sehingga butuh waktu lama untuk terurai.

Pada intinya, apapun jenis tas yang kamu gunakan, selalu gunakan untuk berkali-kali, ya. Langsung masukkan reusable bag ke tas sekolah atau tas bermainmu, supaya kamu bisa langsung memakainya kalau kamu butuh membeli sesuatu. Kalau kamu sudah bosan dengan reusable bag-mu, jangan Cuma disimpan, apalagi dibuang! Donasikan saja ke orang lain yang lebih membutuhkan.

 

Butuh komitmen nasional untuk kurangi limbah plastik secara signifikan di Indonesia

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh McKinsey and Co. dan Ocean Conservancy, Indonesia adalah negara penghasil sampah plastik nomor dua di dunia setelah Cina. Artinya, dibutuhkan komitmen di tingkat nasional untuk mengurangi penggunaan sampah plastik di Indonesia.

Dilansir dari The Jakarta Post, sudah ada beberapa daerah di Indonesia yang menerapkan aturan pelarangan penggunaan plastik sekali pakai. Di antaranya Banjarmasin, Balikpapan, Bali, dan Jakarta pada Juli 2020 mendatang.

Di Kota Pahlawan sendiri, sebenarnya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sudah pernah mengeluarkan surat edaran terkait imbauan pelarangan penggunaan kantong plastik sekali pakai. Edaran tersebut memuat imbauan agar tidak lagi menggunakan bungkus plastik dan sterofoam pada makanan, minuman, ataupun sebagai wadah dan kemasan. Tri Rismaharini juga mengimbau agar masyarakat melakukan pemilahan sampah, setidaknya untuk sampah sisa makanan, plastik, dan kertas, sehingga sampah tersebut bisa didaur ulang.

Imbauan ini diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 01 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah dan Kebersihan di Kota Surabaya. Sayangnya, imbauan ini sifatnya hanya berupa sosialisasi yang tidak mengikat, karena belum ada sanksi yang diterapkan.

Gimana menurutmu? Perlukah Surabaya menyusul jejak Jakarta untuk melarang dengan tegas penggunaan plastik sekali pakai? (*)

Related Articles
Current Issues
Anti Plastik, Warga Thailand Belanja Pakai Kandang Ayam sampai Jemuran

Current Issues
Perubahan Iklim Sebabkan Dua Pulau Di Sumsel Tenggelam

Current Issues
Bisa Selamatkan Bumi, IMF Sebut Satu Paus Setara dengan Seribu Pohon