Current Issues

Awal Mula Perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran

Anastasia Zhellin

Posted on January 7th 2020

Awal Mula Perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran (Middle East Eye)

 

Hubungan antara Iran dan AS Serikat (AS) kian bergejolak sejak kematian pimpinan militer Iran, Qassem Soleimani. Soleimani tewas imbas serangan rudal di terminal keberangkatan Bandara Internasional Baghdad, Irak, Jumat (3/1). Aksi penyerangan tersebut dilakukan oleh Departemen Pertahanan AS, yang disebut-sebut mendapat perintah langsung dari presiden mereka, Donald Trump.

Jika menelaah pembunuhan Soleimani, kita bisa menarik ke belakang konflik AS-Iran.  Hubungan mereka yang sempat harmonis memang menuai tensi yang fluktuatif dari akhir abad 20. Perlu diketahui bahwa semenjak 1980, AS dan Iran tidak memiliki hubungan diplomatik secara resmi.

 

Revolusi Iran 1979

 

Demonstrasi besar-besaran terjadi ketika AS berhasil melarikan Raja Reza Pahlevi, yang sedang diberontak oleh rakyatnya, keluar. Demonstrasi tersebut menggiring pada revolusi yang kemudian berhasil menggulingkan pemerintahkan Iran yang sebelumnya monarki menjadi Republik Islam dibawah pimpinan Ayatollah Khoemini pada 1 April 1979.

 

Konfrontasi Langsung dan Penembakan Pesawat Penumpang Iran 1988

 

Iran dan AS pada 1988 telibat pada konfrontasi langsung di jalur laut hingga merusak enam kapal nelayan dan dua tambang minyak Iran. Tak hanya itu, kapal perang AS, USS Vincennes, juga menembak pesawat sipil Iran Air di Teluk Persia. Hal tersebut dapat terjadi karena AS mengira bahwa pesawat sipil itu sebagai jet tempur. Dapat dipahami karena wilayah Teluk Persia yang konfliktual atas kandungan minyak dan mineralnya.

 

2002 ‘Axis of evil’

 

Pada 2002, Presiden AS, George Bush, menyatakan bahwa Iran adalah bagian dari ‘axis of evil’ atau ‘poros kejahatan’ bersamaan dengan Iraq dan Korea Utara dengan tuduhan pengembangan senjata pemusnah massal.

 

Sanksi Nuklir pada Tahun 2000-an

 

Pada tahun 2002, sebuah kelompok oposisi Iran mengungkapkan bahwa Iran sedang mengembangkan fasilitas nuklir, termasuk pemberdayaan uranium. AS lalu menuduh Iran memiliki program senjata nuklir rahasia, yang kemudian dibantah oleh Iran. Hal ini mengakibatkan pengawas nuklir PBB yang terus mengintai aktifitas pemberdayaan nuklir Iran. 

Beberapa sanksi kemudian dijatuhkan oleh PBB, AS, dan Uni Eropa yang menentang pemerintahan konservatif Mahmoud Ahmadinejad. Hal ini mengakibatkan Iran kehilangan 2/3 nilai mata uangnya dalam kurun waktu hanya dua tahun.

 

2013-2016 Hubungan yang Makin Harmonis dan Perjanjian Nuklir

 

Pada September 2013 setelah  terpilihnya presiden moderat Iran, Hassan Rouhani, AS melalui presiden Barrack Obama mengadakan perundingan dengan Iran untuk pertama kalinya setelah 20 tahun lebih memanas. AS meminta Iran untuk menegosiasikan program nuklirnya dengan negara besar lain di dunia.

Diplomasi negara AS, Inggris, Perancis, Tiongkok, Rusia, dan Jerman (P5 + 1) berhasil pada tahun 2015, Iran menyetujui pengurangan aktifitas nuklirnya. Sebagai ganti, Iran meminta sanksi ekonomi terhadapnya dicabut. Hal tersebut disetujui oleh negara P5 +1 dengan harapan dapat menghambat Iran untuk menciptakan senjata pemusnah massal.

 

2018 - 2019: Ketegangan yang Memuncak

 

Pada Mei 2018, Presiden Donald Trump meninggalkan perjanjian nuklir, sebelum memberlakukan kembali sanksi ekonomi terhadap Iran. Tak hanya itu, Presiden Trump juga mengancam akan memberlakukan hal yang sama terhadap perusahaan yang tetap mengimpor minyak dari Iran.

Hubungan AS dan Iran memburuk pada Mei 2019, ketika AS memperketat sanksi yang menargetkan ekspor minyak Iran. Sebagai tanggapan, Iran menyerukan kampanye anti-tekanan.

Pada Mei dan Juni 2019, terdapat ledakan di enam tanker di Teluk Oman, dan AS menuduh Iran sebagai pelakunya. Disusul tanggal 20 Juni, tentara Iran menembak drone AS di Selat Hormuz. AS bersikeras bahwa itu merupakan perairan internasional yang bebas dilalui, berbeda dengan Iran yang membantah bahwa perairan tersebut masih termasuk dalam teritorinya.

Iran kemudian mulai menggulirkan kembali komitmen terhadap nuklirnya pada bulan Juli 2019.

Waah... cukup buat deg-degan nih ya perseteruan antar kedua negara ini. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Iran Beri Imbalan 80 Juta Dollar Bagi Mereka Yang Bisa Penggal Kepala Trump

Interest
Iran Hujani Barak Tentara AS dengan Rudal, Trump Bersumpah akan Balas Dendam

Current Issues
Terbunuhnya Jenderal Iran ini Picu Kekhawatiran Terjadinya #WorldWarIII