Current Issues

Mengenal Qasem Soleimani, The Shadow Commander yang Ditakuti Amerika Serikat

Surya Dipa Nusantara

Posted on January 4th 2020

Siapa sih sosok Qasem Soleimani yang terbunuh oleh serangan udara Amerika Serikat itu? Dan bagaimana sosoknya hingga kematiannya memicu kemarahan besar Iran hingga membuat dunia khawatir terjadi perang dunia (world war) seri III? 

Sebagai seorang negarawan, sosok Qasem begitu misterius dan dingin. Kiprah Qasem tak banyak diekspose dunia. Sebab ia lebih suka bergerak dalam sunyi dalam menyusun strategi dan merancang taktik melumpuhkan musuh. Beberapa negara bagian barat dunia pun sampai menjulukinya, The Shadow Commander.

Qasem pertama kali terjun di medan perang saat Iran dan Iran bergejolak. Ia turun ke perbatasan dua negara tersebut sekitar 1980-an. Saat itu ia berjuang selama delapan tahun untuk perebutan wilayah dua negara tetangga tersebut.

Qasem adalah salah satu orang yang diberi mandat oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei untuk merangsek ke markas tentara Irak. Saat itu, Irak tengah dipimpin oleh Saddam Husein.

Berada dalam kondisi hidup dan mati selama delapan tahun membuat otak Qasem terasah dalam membaca situasi perang. Selain itu, sebagai figur yang karismatik, Qasem juga merupakan salah satu tokoh yang ditakuti oleh Amerika.

Pemikiran briliannya adalah ancaman bagi lawan. Bahkan, sebagian negara timur tengah seperti Lebanon, Suriah, dan Yaman menjulukinya sebagai ‘Pelindung Republik Islam’.

Kariernya kian gemilang saat ia berhasil memukul mundur ISIS dari Iran. Hal tersebut membuat namanya mulai dibicarakan dan menjadi primadona bagi warga negaranya.

Salah satu keberhasilannya adalah menumpas operasi ISIS yang berencana mengembom beberapa Masjid—seperti Masjid Keluarga Nabi Muhammad di Karbala, Masjid Zainab di Suriah, dan sebagainya— yang pada akhirnya gagal. Qasem, tak pernah mencecap kekalahan selama ia di medan perang.

Bahkan, Qasem adalah salah satu ideolog sekaligus eksekutor yang ditakuti oleh pejabat Amerika Serikat. Selain pandai berperang, Qasem juga piawai menyaru sebagai mata-mata, dan mendanai organisasi bawah tanah untuk melancarkan serangan kepada Amerika —yang berhasil menembus mobil baja tentara Amerika—saat demonstrasi. Tapi tentu saja, hal itu dibantah keras oleh Iran, yang mengatakan serangan itu tak ada hubungannya dengan mereka.

Dilansir dari TIME, pria berusia 62 tahun itu, mendorong Pasukan Quds, cabang Garda Revolusi Iran untuk melakukan operasi di luar negeri. Hal tersebut meliputi dari sabotase dan serangan teror, hingga memasok milisi yang beroperasi sebagai pasukan pengganti Iran.

"Dia telah berperang sepanjang hidupnya. Prajuritnya mencintainya. Dia orang yang pendiam, karismatik, jenius dan operator taktis," kata Letnan Jenderal Mark Hertling, seorang analis keamanan, intelijen, dan terorisme nasional.

Salah satu faktor Amerika Serikat menjadikan Qasem Soleimani sebagai sasaran adalah, Gedung Putih mendengar desas-desus bahwa Qasem akan menyerang diplomat Amerika dalam waktu dekat. Maka dari itu, sebelum digempur oleh pasukan Quds, Amerika Serikat mengeksekusi lebih dahulu pentolannya lewat serangan udara.

Akhirnya, nasib naas pun menempa sang Jenderal. Pada 3 Januari 2020 lalu, ia harus mereggang nyawa bersama enam korban lainnya setelah mendapat serangan tak terduga dari seteru abadi mereka: Amerika.(*)

 

Artikel Terkait
Current Issues
Terbunuhnya Jenderal Iran ini Picu Kekhawatiran Terjadinya #WorldWarIII

Interest
Iran Hujani Barak Tentara AS dengan Rudal, Trump Bersumpah akan Balas Dendam

Current Issues
Para Pemimpin Dunia Kutuk Kerusuhan di Gedung US Capitol