Current Issues

Terbunuhnya Jenderal Iran ini Picu Kekhawatiran Terjadinya #WorldWarIII

Surya Dipa Nusantara

Posted on January 4th 2020

Coba kalian cek di Twitter, ada tanda pagar (tagar) yang trending dan cukup mengerikan: #WorldWarIII dan #WWIII. Hingga kemarin dua tagar itu memuncaki Worldwide Trending. Kalian tahu gak apa yang menyebabkan tagar itu trending

Ternyata penyebabnya adalah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di perbatasan Irak. Ketegangan ini sebenarnya telah berlangsung lama.

Tapi ketegangan itu semakin memburuk pasca seorang perwira tinggi militer Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani dilaporkan mereggang nyawa akibat serangan udara Amerika Serikat.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuding Amerika Serikat adalah dalang dibalik penyerangan itu, Donald Trump pun mengiyakannya. 

Trump justru memperjelas, dengan menyatakan bahwa dialah yang memberikan izin atas penyerangan terhadap Jendral Qasem Solemaini, Kepala Korps Pasukan Elit Quds tersebut.

Dan memburuknya ketegangan ini membuat dunia khawatir ini merupakan pemicu perang terbuka. Perang itu, juga disinyalir menjadi pembuka World War III.

Dilansir dari Associated Press, masalah pelik tersebut bermula pada 27 Desember 2019 lalu. Saat di mana pangkalan militer AS di Kirkuk, Irak, dihujani puluhan roket. Penyerangan itu menelan lima korban.

Empat tentara militer, dan satu kontraktor kewarganegaraan Amerika Serikat juga turut menjadi korban. Inisiator dari serangan itu adalah milisi Kataib Hizbullah. Amerika yang kebakaran jenggot dan menuding bahwa ada peran Iran di balik aksi penyerangan itu.

Trump pun mengutus militernya untuk melancarkan serangan balasan pada 29 Desember 2019. Akibatnya, lima markas Kataib Hizbullah, hancur lebur. Korban kembali berjatuhan di hari itu. Namun, AS berkilah, bahwa serangan itu mereka lancarkan untuk mempertahankan diri. Alih-alih meminta maaf, justru AS mengultimatum Iran agar menarik mundur pasukan dan milisi-milisinya.

Puncak dari kemelut ini adalah 31 Desember 2019 lalu. Menjelang pergantian tahun, demo besar-besaran terjadi di Irak. Selama satu hari penuh, massa berupaya menerobos kantor Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika. Massa berhasil menembus barikade, dan gedung Kedubes dibakar. Corat-coret ditembok tentang segala anti-Amerika bertebaran.

Pada serangan itu, ada beberapa tokoh milisi Iran yang tampak disekitaran kedubes. Amerika pun kian meradang. Trump dalam akun Twitternya, menyatakan bahwa ia akan membalas Iran dalam waktu dekat. “Ini bukan ancaman, tapi perlakuan. Iran akan membayar mahal tragedi ini. Selamat tahun baru!” cuit Trump.  

Amerika Serikat membuktikan bahwa ancaman mereka bukan omong kosong belaka. Pembunuhan Qasem adalah salah satu pernyataan Amerika, bahwa mereka tak main-main. Selain sang Jenderal, penasihat Qasem, Abu Mahdi al-Muhandis, dan lima orang lainnya pun turut menjadi korban.

Amerika menyebut pola serangan udara kali ini memanfaatkan drone. Namun, hal itu seolah ditutup-tutupi oleh Iran. Dalam rilis resmi, mereka mengatakan bahwa Qaseem, Abu Mahdi, dan kelima orang lainnya meninggal akibat serangan helikopter.

Menteri pertahanan AS mengatakan, keputusan Trump menuntut balas adalah untuk menjaga keselamatan personel mereka yang tengah berada di Irak. "Serangan ini bertujuan menghentikan rencana serangan Iran di masa mendatang," ujar Kemhan AS. 

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamanei mengatakan bahwa Iran tak akan tinggal diam. (Getty Images)

Atas serangan ini, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamanei mengatakan bahwa Iran tak akan tinggal diam. Ini adalah awal dari perang terbuka bagi keduanya.

“Balas dendam yang besar akan dikenakan terhadap para kriminal yang melumuri tangan-tangan bodoh mereka dengan darahnya (Soleimani). Insya Allah, pengabdian dan jasanya tidak akan berhenti,” tukas Khamenei melalui kicauannya di Twitter.

Sementara, Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, mengatakan bahwa perlakuan AS adalah langkah bodoh dan kekanak-kanakan. Ia mengutuk serangan itu, dan mencibir bahwa pemerintahan Amerika Serikat telah melakukan blunder.

Bagi Zarif, pembunuhan ini adalah ‘eskalasi berbahaya’ antara Washington-Teheran. Bagi dia, Trump telah membuat masalah semakin runyam. Hmm..kalau sampai beneran terjadi perang dunia III, ngeri banget ya, guys?

Artikel Terkait
Current Issues
Mengenal Qasem Soleimani, The Shadow Commander yang Ditakuti Amerika Serikat

Interest
Iran Hujani Barak Tentara AS dengan Rudal, Trump Bersumpah akan Balas Dendam

Current Issues
Awal Mula Perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran