Current Issues

Banjir Terjang Jakarta, Netizen Suarakan #shameOnyouFormulaEJakarta

Mainmain.id

Posted on January 3rd 2020

- Penyelenggaraan Formula E Dianggap Mahal dan Boros

- Dianggap Memangkas Anggaran Penanggulangan Banjir dan Rehab Sekolah, tapi Telah Dibantah

- Tanpa Formula E, Tetap Harus Kampanyekan Mobil Listrik

Banjir di Jakarta merembet ke urusan politik. Lalu merembet pula ke urusan olahraga. Itu yang terjadi beberapa jam belakangan ketika netizen menyuarakan tagar #shameOnyouFormulaEJakarta.

Tagar itu merujuk pada penyelenggaraan event akbar Formula E di Jakarta, 6 Juni 2020. Ya, Jakarta memang bakal menjadi salah satu tuan rumah perhelatan balapan mobil cepat masa depan ini untuk musim 2020.

Bagi kalian yang belum tahu, Formula E merupakan kejuaraan motorsport dengan tempat duduk tunggal (seperti halnya Formula 1) yang hanya diikuti mobil listrik. Kejuaraan ini mulai dirintis pada 2011. Tapi lomba perdananya dimulai di Beijing, September 2014.

Sejak awal, penyelenggaraan Formula E di Jakarta ini memang menuai kontroversi. Tapi sebenarnya kontroversinya lebih pada persoalan belum move on-nya para pendukung dan haters Anies Baswedan. Seperti kita tahu, saat Pilkada DKI 2017 --yang berujung pada terpilihnya Anies Baswedan-- masyarakat kita terbelah menjadi beberapa kubu. Sampai sekarang sebagian dari mereka belum bisa move on.

Penggagas agar Jakarta menjadi tuan rumah Formula E memang Anies Baswedan. Gubernur DKI Jakarta itu pada media sempat menyampaikan bahwa mobil listrik Formula E merupakan bentuk inisiatif untuk mengembangkan dan menggunakan energi terbarukan, mengembangkan pariwisata, olahraga, dan investasi.

Menurut Anies, penyelenggaraan Formula E di Jakarat selama lima musim balap berturut-turut bisa berdampak pada sejumlah hal. Pertama, bisa memicu pengembangan ekonomi berkelanjutan.

Kadua, aktivitas ekonomi akan bertambah dan dampaknya terasa secara langsung melalui investasi pemerintah untuk pembangunan infrastruktur pendukung, operasional persiapan dan penyelenggaraan pada 2019-2020, serta mobilitas pengunjung.

Ketiga, bisa menciptakan lapangan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi, dan penambahan pendapatan pelaku usaha masyarakat.

Dan terakhir, penyelenggaraan Formula bisa menjadi sarana mengampanyekan lingkungan hidup energi bersih. Sebab penggunaan mobil listrik memang bisa berdampak pada pengurangan emisi karbon.

"Serta menumbuhkan penelitian dan pengembangan bisnis seputar mobil listrik," kata Anies dalam rapat paripurna DPRD DKI Jakarta di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Nah, kebijakan Anies menjadikan Jakarta tuan rumah Formula E ini terus dikritik sejumlah pihak. Terlebih oleh kelompok yang memang selama ini berseberangan dengan dia.

Pada rapat paripurna DPRD DKI Jakarta saat itu, salah satu kelompok yang menentang adalah anggota legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia atau PSI.

Dikutip dari Kompas.com, sekretaris Fraksi PSI DPRD DKI Anthony Winza Probowo menilai Anies tak menerapkan prinsip prioritas penganggaran saat mengusulkan penyelenggaraan Formula E. Menurut politikus PSI, ajang balap mobil listrik tersebut hanya dinikmati oleh masyarakat golongan menengah ke atas.

Anthony juga menyebut bahwa Formula E bukan program prioritas karena tidak terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Percepatan Pelaksanaan Kegiatan Strategis Daerah (KSD).

Politisi muda ini juga menyebut tidak ada bukti yang menjelaskan bahwa Formula E akan menumbuhkan ekonomi lokal.

Tak hanya itu, lanjut Anthony, nilai penyertaan modal daerah (PMD) untuk Formula E lebih besar dibandingkan dengan PMD pembangunan LRT. Padahal, LRT merupakan Program Strategis Nasional (PSN).

Anggaran yang digelontorkan Pemprov DKI Jakarta untuk penyelenggaraan Formula E memang gede banget. Itu terbagi di setiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Di Dinas Pemuda dan Olahraga misalnya, ada anggaran Rp 396 miliar untuk membayar commitment fee penyelenggaraan Formula E.

Lalu ada juga penganggaran di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sebesar Rp 15 miliar untuk menggelar pre-event Formula E. Selain itu, ada dana Penyertaan Modal Daerah (PMD) bagi PT Jakarta Propertindo selaku pihak yang ditunjuk Pemprov DKI untuk menggelar Formula E di Jakarta sebesar Rp 2,2 triliun.

Nah, anggaran yang begitu besar inilah yang kemudian dikaitkan dengan sejumlah isu. Misalnya, Anies menyunat anggaran penanggulangan banjir dan rehabilitasi sekolah untuk pelaksanaan Formula E.

Tapi hal itu pernah dibantah oleh Pemprov DKI Jakarta. Misalnya terkait pemangkasan anggaran penanggulangan banjir. Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI, Juaini Yusuf, menjelaskan pemprov memotong anggaran banjir untuk program yang tidak terserap. Misalnya untuk pembebasan waduk dan sungai 2019. Anggaran totalnya Rp 850 miliar, tapi hanya terserap Rp 350 miliar.

Nah soal isu Anies memangkas anggaran rehabilitasi sekolah untuk penyelenggaraan formula juga sudah dibantah oleh Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan DKI Syaefulloh Hidayat. Dilansir dari Beritasatu.com, Syaefulloh Hidayat menegaskan tidak ada pemotongan anggaran rehab gedung sekolah untuk Formula E.

Anggaran rehabilitasi total gedung sekolah yang tercantum dalam rancangan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD DKI 2019 ada sebanyak 105 lokasi dengan usulan anggaran sebesar Rp 2,57 triliun.

Memang dalam perjalanannya ada penyesuaian anggaran rehabilitasi, namun itu dilakukan setelah dibahas bersama anggota DPRD Jakarta dalam Rapat Komisi dengan dasar hasil penelitian teknis dari Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta.

Akhirnya anggaran yang disepakati bersama sebesar Rp 2,11 triliun untuk merehab 86 lokasi sekolah. Sisa anggaran kemudian digunakan untuk pembangunan unit sekolah baru SMK dan pembangunan ruang kelas baru SMK.

Ternyata isu miring soal pemangkasan anggaran sekolah untuk pelaksanaan Formula E itu banyak disampaikan oleh akun-akun anonim di media sosial.

Di tengah kondisi ekonomi saat ini, jika penyelenggaraan Formula E menelan biaya besar sih memang patut disayangkan. Tapi semangat untuk memasyarakatkan mobil listrik tetap harus digalakkan. Bagaimana pun caranya, asal efisien dan efektif. Tidak juga harus lewat cara menjadi tuan rumah Formula E.

Alasan Anies bahwa penyelenggaraan Formula bisa menjadi sarana mengampanyekan energi bersih dan menumbuhkan penelitian serta pengembangan kendaraan listrik memang bener banget. Indonesia memang sudah jauh tertinggal dalam urusan teknologi mobil listrik.

Di negara lain, mobil listrik sliweran di jalan-jalan sudah biasa. Di Indonesia hal tersebut masih berkutat pada urusan regulasi.

Di luar negeri --terutama di negara-negara Eropa-- pemerintahnya mendorong masyarakat untuk membeli mobil listrik. Para pemilik mobil listrik diberikan sejumlah previllage. Mulai dari pajak kendaraan yang super ringan, gratis tol, gratis parkir dan kelebihan lainnya. Norwegia salah satu negara yang menerapkan previllage luar biasa untuk pengguna mobil listrik.

Salah satu penggagas mobil listrik di Indonesia adalah Dahlan Iskan. Dahlan saat masih menjabat sebagai Menteri BUMN pernah mengeluarkan dana pribadinya untuk membuat tim riset mobil listrik.

Saat itu dia memanggil anak-anak muda hebat asal Indonesia --yang punya keahlian membuat mobil listrik-- untuk membuat prototipe mobil listrik nasional. Harapannya, Indonesia tak sekedar menjadi pasar bagi pabrikan mobil luar negeri seperti saat ini. Sayangnya gerakan itu kandas di tengah jalan.

Dalam tulisan di blognya DI's Way, Dahlan membahas kenapa program mobil listrik nasional susah sekali berjalan. Sebab hal itu berkaitan dengan banyak hal. Mungkin juga termasuk mafia migas yang selama ini berkepentingan terhadap impor BBM.

Kenapa kita perlu segera beralih ke mobil listrik? Selain bisa menekan impor bahan bakar minyak (BBM), juga agar lingkungan kita bersih. Seperti kita ketahui, sumber pencemaran udara saat ini terbesar berasal dari emisi kendaraan bermotor. Dan emisi yang dihasilkan kendaraan bermotor itu menjadi penyumbang terbesar penyakit infeksi saluran pernafasan akut atau ISPA.

Jadi, menyelenggarakan Formula E atau tidak, Jakarta --bahkan Indonesia-- tetap harus segera membudayakan penggunaan kendaraan listrik. Agar lingkungan kita bisa jauh lebih baik. Agar persoalan BBM segera terselesaikan: impor BBM bisa berkurang dan bisa dialihkan untuk kepentingan rakyat yang lebih besar.(*)

Agar bisa lebih memahami kenapa kita perlu mobil listrik? Tonton video di bawah ini:

 

Artikel Terkait
Tech
Perusahaan BBM Jepang Idemitsu Ikutan Terjun Produksi Mobil Listrik

Tech
Perusahaan Baterai Terbesar Dunia, CATL Luncurkan Layanan Tukar Baterai untuk EV

Tech
Volvo, Daimler dan Traton Bangun 1,700 Jaringan Pengisian Truk Listrik di Eropa