Current Issues

Banjir Bisa Bikin Manusia Merasakan 'Eco-Anxiety', Apa Itu?

Delima Pangaribuan

Posted on January 2nd 2020

(Liputan6)

 

Memasuki hari kedua di tahun 2020, banjir masih menghantui sejumlah wilayah di Indonesia. Terutama di Jakarta dan sekitarnya. Gara-gara curah hujan tinggi dan kurang maksimalnya drainase perkotaan, warga pun terpaksa mengawali tahun baru dengan kebanjiran.

Kondisi ini bisa memunculkan yang namanya "eco-anxiety". Psikolog dan praktisi emotional healing Adjie Santosoputro baru-baru ini ngetwit soal eco-anxiety di akunnya, menyusul banjir besar yang melanda Jabodetabek. Menurutnya, banjir berkaitan erat sama kesehatan mental manusia. Salah satu bentuknya adalah eco-anxiety.

 

Apa itu eco-anxiety?

Kamu pasti familiar dengan istilah anxiety atau gangguan kecemasan. Nah, kecemasan juga bisa muncul akibat kondisi lingkungan sehingga muncullah istilah tersebut.

Lebih jelasnya, Medical News Today menjabarkan eco-anxiety sebagai kecemasan akan terjadinya kerusakan lingkungan atau bencana ekologis. Asosiasi Psikiater Amerika (APA) menyingkatnya sebagai ketakutan kronis akan malapetaka lingkungan. Kecemasan ini didasarkan pada kondisi yang banyak terjadi sekarang sekaligus perkiraan masa depan di mana perubahan iklim terjadi secara signifikan.

Medical News Today mengutip studi yang dilakukan Yale University di Amerika Serikat pada 2018. Sebanyak 70 persen masyarakat AS mengaku khawatir dengan perubahan iklim, dan 51 persen di antaranya bahkan merasa nggak ada harapan. Eco-anxiety bisa muncul akibat cuaca ekstrem atau kehilangan tempat tinggal akibat bencana.

Eco-anxiety menimbulkan trauma dan syok, depresi, penyalahgunaan obat, menjadi agresif, dan perasaan kehilangan kontrol atas kehidupannya, serta putus asa. Ketika banjir, kita nggak punya tempat tinggal layak. Susah dapat makanan. Harta benda rusak dan ludes. Jelas kita nggak bisa beraktivitas seperti biasa, sekolah atau bekerja. Yang berbahaya adalah ancaman penyakit yang bisa menjangkiti.

Tapi, sebelum kena tipes atau leptosprirosis beneran, bisa jadi orang sudah kena eco-anxiety ini dulu.

 

Gimana caranya aku tahu aku lagi merasakan eco-anxiety?

Gejalanya hampir sama seperti gangguan kecemasan pada umumnya. Antara lain serangan panik, gelisah, kelelahan, pusing, sulit berkonsentrasi, hingga rasa sakit di dada maupun masalah pencernaan.

Semua orang bisa kena eco-anxiety. Secara umum, eco-anxiety dirasakan oleh orang yang kerap khawatir dengan perubahan iklim dan pemanasan global yang makin menjadi. Nggak spesifik ketika terjadi bencana saja. Tapi, Medical News Today menyebutkan ada beberapa kelompok yang paling rawan. Korban bencana dengan gangguan kesehatan fisik atau gangguan mental, masyarakat dengan stasus sosio-ekonomi rendah, anak-anak dan remaja, serta lansia.

 

Apa yang harus aku lakukan kalau aku merasakan tanda-tanda eco-anxiety?

Kalau merasa ada masalah mental yang muncul setelah mengalami musibah, ada baiknya kita langsung mencari bantuan profesional. Namun, jika kondisi belum memungkinkan, kita bisa melakukan beberapa hal untuk setidaknya mengurangi rasa nggak nyaman akibat gangguan tersebut.

Antara lain dengan menumbuhkan kepedulian terhadap sekitar. Misalnya bantu-bantu tetangga atau ikut kegiatan yang bisa mengalihkan perhatian dari rasa nggak nyaman itu. Minta bantuan orang lain kalau kita ngerasa nggak mampu mengerjakan sesuatu, misalnya membersihkan rumah yang kotor setelah banjir. (*)

Baca juga: Bagaimana Cara Memperbaiki Surat-surat Penting yang Terendam Banjir
Waspada, Hujan Ekstrem Diprediksi Terjadi Pertengahan Januari 2020

Artikel Terkait
Current Issues
Kepanikan Massal Akibat Corona Bisa Picu Gangguan Kecemasan

Current Issues
Mengenal Istilah Ghosting, Haunting, dan Breadcrumbing dalam Hubungan Romantis

Current Issues
Nonton Vagabond Cuma Semalam? ini Penjelasan Psikologis dari Kemampuan Supermu