Entertainment

7 Film Indonesia Terbaik Tahun 2019

Versi Mainmain~

Mainmain.id

Posted on December 31st 2019

2019 telah memanjakan kita dengan film-film ciamik, terutama karya anak-anak Negeri. Tahun satu ini merupakan bukti kalau dunia perfilman Indonesia tengah bangkit -- benar-benar bangkit, karena berani mengkomersilkan film-film yang mengangkat topik 'tabu'. Ada pula film yang berhasil mewujudkan mimpi lama pecinta superhero Indonesia, yakni punya superhero Tanah Air yang bukan nggak mungkin -- mampu bersaing dengan superhero asing.

Tim Mainmain.id mengumpulkan tujuh film Indonesia terbaik versi kami di tahun 2019:

 

1. Kucumbu Tubuh Indahku (Garin Nugroho)

 

Menyoal perkara isu-isu yang dianggap tabu—seperti LGBT—di Indonesia bukanlah perkara mudah. Perlu nyali yang tebal untuk membicarakan hal itu. Garin Nugroho, memilih menempuh jalan terjal itu. Ia dalam film terakhirnya, memilih mengangkat kisah perjalanan Riyanto, seorang penari Lengger Lanang. Salah satu catatan penting dari film ini adalah, tokoh biografi ditampilkan secara jujur dan gamblang.

Alih-alih menampilkan tokoh sebagai persona suci dan agung, justru di Kucumbu Tubuh Indahku, Juno—nama tokoh utama di film ini—ditampilkan dengan wajah bopeng, dan menjalani hidup penuh onak dan duri. Sekaligus, Garin berupaya mendedah stigma dan meredam represi masyarakat awam terkait LGBT, dengan menampilkan budaya Warok dan Gemblak—sebuah relasi yang sudah dikenal sejak dulu dan dianggap wajar oleh masyarakat Jawa. Kucumbu Tubuh Indahku adalah kisah pertarungan seorang anak manusia untuk merayakan tubuhnya secara utuh. 


2. 27 Steps of May (Ravi Bharwani)

Dibalik kehidupan yang serba modern, rupanya kita masih memiliki borok yang begitu menganga. Luka itu adalah, kekerasan terhadap perempuan yang terus meningkat saban tahunnya. Kesadaran kesetaraan hak dan pola pikir masyarakat yang masih patriarkis adalah salah satu faktornya. Di film ini, Ravi Bharwani mengkisahkan kehidupan seorang perempuan bernama May. Di suatu malam jahanam, May diperkosa oleh sekelompok dugal sepulang sekolah.

Setelah itu, kehidupan May tak pernah lagi sama. Ia, bertahun-tahun tak berani keluar rumah lebih dari dua puluh tujuh langkah. Dunia luar adalah setan baginya. Ia selalu dihantui ingatan-ingatan masa lalu, betapa kejamnya para brengsek merampas hidupnya. Narasi yang dibangun secara liris antara May, dan bapaknya yang berjuang menumpas trauma itu akan menyita airmatamu. Sekaligus, film ini perlu dikenang untuk mengingatkan kepada diri kita, bahwa pelecehan seksual adalah momok yang perlu kita perangi bersama. 


3. Bumi Manusia (Hanung Bramantyo)

 

Sederet komentar nyinyir pasca Hanung mengumumkan bahwa Iqbaal eks-Coboy Junior dipilih menjadi pemeran Minke, betul-betul dibayar lunas. Film berdurasi hampir 3 jam ini, berhasil merangkum sebuah novel kanon karya Pramoedya Ananta Toer secara apik. Set yang dibangun secara serius, produksi yang proper, serta akting Iqbaal yang diluar dugaan adalah salah satu kejutan dari sinema di film ini.

Meskipun banyak komentar tak puas bahwa film ini tak 100% mirip dengan novelnya, bagi kami, Bumi Manusia garapan Hanung tetap perlu untuk diapresiasi. Lagian, apakah film yang mengadaptasi novel harus benar-benar persis? Tentu tidak. Karena, keterbatasan durasi yang ada di film merupakan hambatan yang tak bisa diakal. Mendambakan kemiripan 100 persen antara novel dengan film adalah salah satu sesuatu paling tak masuk akal yang pernah kami dengar. Sori, snob~


4. Susi Susanti (Sim F)

 

Sentimen ras adalah sebuah konflik yang tak akan berkesudahan. Di tahun 1998, sudah menjadi rahasia umum bahwa etnis Tionghoa adalah salah satu sasaran empuk, bagi mereka yang mendaku dirinya sebagai pribumi. Satu-satunya yang menyatukan mereka adalah: bulu tangkis. Saat bendera Indonesia dikerek di tempat tertinggi pada Olimpiade Barcelona 1992, kesadaran toleransi mulai muncul. Siapa pemersatu umat itu? Adalah Susi Susanti, pebulu tangkis yang berhasi merebut emas di malam itu. 

Film ini tak hanya memuat tentang puja puji heroisme Susi Susanti. Lebih dari itu, film ini juga mengkisahkan bagaimana penindasan—sekalipun terhadap atlet yang menyumbang emas—bekerja tanpa pandang bulu. Keruwetan birokrasi, tak diakui sebagai warga negara, hingga kronik kemarahan massa 1998—yang menjadikan Tionghoa lagi-lagi jadi korban—diungkap dengan gamblang di film ini. Film ini adalah smash mematikan bagi mereka yang bermental fasis, yang menindas minoritas dan memperlakukan negara seperti miliknya sendiri.

 

5. Dua Garis Biru (Gina S. Noer)

Budaya Indonesia adalah nyinyir. Meski nggak menyenggol masalah LGBT, SARA, 'Dua Garis Biru' lebih dulu dipermasalahkan masyarakat karena bercerita tentang kehamilan di luar nikah. Nyinyiran tumbuh lebat seperti lumut di musim hujan, meski filmnya belum tayang.

'Dua Garis Biru' menceritakan kisah cinta Bima dan Dara. Keduanya masih duduk di bangku SMA, ketika melakukan hubungan intim di luar nikah. Hubungan tersebut menjadikan Dara seorang ibu di usia 17 tahun.

Film ini patut diberi aplaus karena berani mengangkat isu yang sebenarnya selalu ada di sekitar kita, namun kita suka pura-pura buta dan tuli. Nggak seperti yang dikhawatirkan, nggak ada normalisasi hubungan intim di luar nikah pada film ini. Gina S. Noer juga berhasil memberi gambaran realistis; apa yang bakal anak SMA dan orang tuanya lakukan kalau ada kejadian ini.

Sudut pandang realistis seperti ini menurut kami justru cocok banget ditonton muda-mudi. Supaya tahu, ada konsekuensi besar, sulit, bahkan mengancam nyawa, di balik kenikmatan sesaat.

 

6. Gundala (Joko Anwar)

Satu lagi film yang perlu diselebrasi. Indonesia akhirnya punya film superhero yang decent. Gundala dibuat berdasar karakter ciptaan Harya Suraminata pada tahun 1969.

Gundala menceritakan bagaimana masa kecil Sancaka (diperankan oleh Muzakki Ramdhan dan Abimana Aryasatya) begitu sulit. Ia ditinggal sendiri oleh ibunya setelah ayahnya meninggal, luntang-lantung seorang diri di kota.

Sancaka besar, nggak pernah mengira kalau dia harus menjadi pahlawan. Tetapi, ia harus melawan Pengkor, sosok jahat yang ingin meracuni persediaan beras nasional untuk memengaruhi otak janin.

Film ini mengajarkan tentang banyak hal, soal kebangkitan dan kepahlawanan. Bagaimana menjadi pahlawan itu nggak dengan menunggu adanya kejadian besar, tapi dimulai dari membantu orang-orang di sekitar.

 

7. Bebas (Riri Riza)

 

'Bebas' adalah film adaptasi Korea Selatan yang berjudul 'Sunny'. Sempat deg-degan apakah bakal sebagus 'Sunny', karena 'Sunny' merupakan film yang cukup ikonik di Negeri Ginseng. Apalagi, duo Riri Riza dan Mira Lesmana sudah tuwuk membuat film dengan genre serupa.

Namun, 'Bebas' melampaui ekspektasi kami. Ide ceritanya memang 'Sunny', tapi eksekusinya enggak. Berasa nostalgia banget, masa-masa di mana SMA adalah waktunya geng-gengan dan nggak jarang berujung tawuran. Komedinya pun dapet banget. To say that we're entertained is an understatement. Kami ngakak sepanjang film.

Pada masa lalu yang berlatar tahun 90an itu, Riri Riza juga menyisipkan sedikit 'ketegangan' menuju reformasi. Tetap dibawakan dengan gaya ringan, seperti saat Vina (diperankan oleh Maizura dan Marsha Timothy) jalan bareng cowok yang ia taksir, Andra (Giorgino Abraham) pas malam hari. Andra mengingatkan Vina untuk hati-hati ketika melewati penjual nasi goreng, karena pada masa itu, banyak intel yang menyamar sebagai penjual nasi goreng. Kakak Vina sendiri diceritakan sebagai mahasiswa aktivis garis keras yang sampai rela meninggalkan rumahnya demi ikut demo. Tapi, di masa kini, ia menjadi anggota DPR yang suka korupsi. Sounds familiar?

Nggak cuma kenangan SMA, masa kini di film itu juga mengajarkan banyak hal. Kita melihat bagaimana Vina (Marsha Timothy) akhirnya berani speak up dan nggak lagi jadi istri atau ibu yang pasif. Gimana Jojo (Baim Wong) akhirnya menerima dirinya sendiri dan jadi lebih bahagia, atau bagaimana kerennya Kris (Susan Bachtiar) sebagai seorang perempuan sekaligus teman. (*)

Related Articles
Entertainment
'Bumi Manusia' hingga 'My Stupid Boss' Kini Bisa Ditonton di Netflix!

Entertainment
Rilis Oktober, 3 Film Indonesia ini Wajib Kalian Tonton

Entertainment
'Kucumbu Tubuh Indahku' Raih 8 Piala Citra, Muhammad Khan Dedikasikan untuk SRK