Current Issues

Ini Media Sosial yang Berjaya dan Tumbang dalam Satu Dekade

Faanissaa

Posted on December 29th 2019

Kalian menggunakan smartphone sejak usia berapa? Sejak 10 tahun lalu? Kalau iya mungkin kalian bisa merasakan bagaimana kekuatan sejumlah platform media sosial dalam satu dekade ini (2010 - 2020).

Saking kuatnya, antar platform ini bahkan 'saling membunuh'. Sudah banyak platform media sosial yang akhirnya harus pamitan karena makin ditinggalkan penggunanya.

Yang mengejutkan, beberapa sosial media yang tutup itu sempat merajai. Seperti Blackberry Messenger atau BBM, Yahoo Messenger, dan Google+. Nah, tim mainmain.id telah merangkum beberapa sosial media yang di-launching dan yang tutup di dekade ini.

Instagram

Aplikasi yang diluncurkan pada 2010 ini diciptakan oleh Kevin Systrom dan Mike Krieger. Masih bertahan hingga akhir dekade ini dan bahkan semakin populer.

Pada 2012, aplikasi berbagi gambar ini diakusisi oleh Facebook. Hingga kini tercatat ada 500 juta pengguna aktif. Tidak sekedar berbagi gambar dalam feed, tapi pengguna juga bisa memposting cuplikan selama 24 jam dengan fitur Instagram Stories.

Hingga 2018 Instagram menjadi aplikasi gratis yang paling banyak diunduh kedua di App Store.

 

Snapchat

Evan Spiegel meluncurkan aplikasi Snapchat pada 2011. Saat itu Facebook, Twitter dan BBM sedang berada di puncak popularitas. Namun Snapchat masih mampu menarik audiens. Hingga Oktober 2019 ada 210 juta pengguna aktif harian. Mereka bermain dengan pesan yang menghilang. Fitur ini kemudian diadaptasi Instagram dan Facebook.

 

Telegram

Aplikasi pengirim pesan instan ini diluncurkan pada 2013. Telegram datang sebagai pesaing WhatsApp. Mereka mengklaim aplikasinya lebih aman. Tapi pengguna Telegram tetap tak bisa mengalahkan WhatsApp. Hingga 2018 jumlah penggunanya bisa mencapai 200 juta pengguna aktif bulanan. Telegram terus bersaing ketat dengan WhatsApp lewat cara mengupdate fitur-fitur di dalamnya.

 

TikTok

Meski baru diluncurkan pada 2017, namun TikTok berhasil menjadi sosial media yang paling cepat berkembang. Hingga saat ini, jumlah penggunanya tidak berbeda jauh dengan Instagram. Hampir 500 juta pengguna aktif. Data terbaru dari App Annie menunjukkan bahwa TikTok melanjutkan pertumbuhan eksplosifnya di seluruh dunia.

 

Pinterest

Aplikasi yang menawarkan penemuan informasi online dalam bentuk gambar, gif, dan video ini diluncurkan pada 2010. Hingga Agustus 2019 lalu tercatat ada 300 juta pengguna aktif Pinterest. Seiring waktu, platform ini telah menarik lebih dari 200 miliar pin Pinterest, dan lebih dari 4 miliar papan Pinterest. Menariknya, 70 persen pengguna Pinterest adalah perempuan.

 

Tinder

Tinder hadir pada 2012 dan langsung diterima dengan tangan terbuka. Kini bahkan menjadi sangat populer. Tidak hanya di kalangan remaja, tetapi juga di kalangan orang dewasa. Hingga 2018 sudah ada lebih dari 57 juta orang menggunakan Tinder di seluruh dunia. Sebanyak 4,1 juta pelanggan Tinder membayar untuk Tinder Plus dan Tinder Gold premium. Tinder digunakan di 190 negara, dan tersedia dalam 40 bahasa.

 

Facebook Messenger

Aplikasi yang diluncurkan pada 2011 ini terpisah dari Facebook. Pengguna Facebook yang ingin mengobrol dengan temannya melalui pesan Harus mendownload Facebook Messenger dulu. Tahun lalu Facebook memperkenalkan bot AI bagi bisnis untuk mengobrol dengan klien dengan mudah.

 

Periscope

Periscope merupakan aplikasi live streaming yang diluncurkan pada 2015 oleh Twitter. Sebagai penerus Meerkat, Periscope masih mampu bertahan di tengah kolapsnya beberapa sosial media. Sayangnya Twitter tidak mengungkapkan statistik penggunaan Periscope.

 

WhatsApp

Aplikasi pesan instan ini sebenarnya diluncurkan pada akhir dekade sebelumnya. Tepatnya pada 2009. Meski artikel ini membahas daftar sosial media yang lahir pada 2010-2019, tapi keberadaan WhatsApp tidak bisa diabaikan. Sebab evolusinya terjadi pada dekade ini. Aplikasi ini menjadi aplikasi pesan paling populer di dunia pada 2015. Dan, pada Februari 2018, aplikasi ini dinikmati lebih dari 1,5 miliar pengguna di seluruh dunia.

 

Google+

Saat diluncurkan pada 2011, Google+ menjanjikan banyak hal. Namun dalam perjalanannya, aplikasi ini harus menyerah pada kompetisi melawan Facebook dan sosial media lainnya. Masalah keamanan yang menjadi penyebab utamanya. Hal itu memaksa Google+ tutup pada April 2019. Perusahaan juga mengklaim bahwa pengguna platform sosial medianya tidak banyak.

BlackBerry Messenger

BlackBerry Messenger atau yang biasa disebut BBM juga memutuskan untuk tutup pada awal Mei 2019. Kesulitan menghadirkan pengguna baru menjadi alasan utamanya. BBM adalah salah satu aplikasi pesan instan yang sempat populer di masanya. Namun popularitasnya semakin menurun seiring dengan munculnya WhatsApp dan Facebook Messenger.

 

Vine

Pada 2016, Twitter mengumumkan bahwa mereka mematikan Vine, aplikasi loop video populer yang menawarkan pengguna kemampuan untuk membuat dan berbagi video selama enam detik.

Aplikasi ini tidak dapat bersaing dengan meningkatnya popularitas Instagram. Pengguna yang pernah dianggap sebagai selebriti Vine mulai memposting video di Instagram sebagai gantinya. Instagram dapat dianggap sebagai alasan besar mengapa Vine menjadi usang.

 

Yahoo Messenger

Anak 90-an pasti nggak asing dengan aplikasi ini. Ya, aplikasi ini pernah menjadi bagian dari kehiduoan sosial media mereka. Pada tahun-tahun utamanya (2000-2010), layanan ini paling banyak digunakan karena merupakan alternatif berkirim pesan selain lewat email dan pesan SMS. Namun, dengan kedatangan smartphone, Facebook, dan akhirnya WhatsApp, Yahoo Messenger kehilangan kekuatannya dan pengguna mulai beralih.

 

Path

Aplikasi yang diluncurkan pada November 2010 ini berfungsi sebagai semacam jurnal pribadi yang dapat dibagikan dengan keluarga dan teman. Path pernah memperoleh lebih dari satu juta pengguna. Tetapi akhirnya harus tutup usia pada 2018 karena kurangnya pertumbuhan dan meningkatnya persaingan.

 

Friendster

Bisa dibilang Friendster adalah platform yang memulai era sosial media. Friendster pertama kali diluncurkan pada 2003. Tapi seiring kehadiran Facebook mereka dengan cepat kehilangan kredibilitas karena masalah teknologi.

Ada masalah dalam peluncuran fitur, dan menjadi tidak relevan. Apalagi Facebook saat itu mendapatkan momentum dengan cepat. Menariknya, pada hari-hari awal, investor Friendster dilaporkan telah mendekati Facebook dengan kesepakatan akuisisi, yang kemudian ditolak oleh Mark Zuckerberg.

Zuckerberg kemudian membeli seluruh portofolio paten jejaring sosial Friendster dengan harga USD 40 juta. Friendster akhirnya menutup platformnya pada 2015. (*)

 

Related Articles
Opinion
Yuk Kenalan Sama Leluhurnya Para Medsos

Tech
Gara-Gara WhatsApp “Berulah”, Signal dan Telegram Kebanjiran Pengguna Baru

Tech
Makin Nyaman, YouTube, Gmail, Twitter, hingga WhatsApp Bisa Mode Gelap