Cerpen

Ibu Penunggu Lift Lantai 4 Apartemen Dekat Kuburan itu

GERIMIS: Geng Cerita Mistis

Mainmain.id

Posted on December 26th 2019

Jika banyak pakar keuangan memprediksi mayoritas anak millennial susah beli rumah, mungkin ada benarnya. Hal itu yang setidaknya saya rasakan.

Sebenarnya dengan gaji dari tempat saya bekerja cukup saja buat beli rumah. Tapi jauh di pinggiran kota. Atau malah bisa-bisa dapatnya di luar kota. Yang oleh marketingnya kerap disebut 'rumah di Surabaya Selatan' (padahal sebenarnya Sidoarjo) atau 'rumah di Surabaya Barat' (padahal di Gresik).

Punya rumah di luar Surabaya tentu tidak mengenakan, sebab sehari-hari saya harus bekerja di Surabaya --yang macetnya sudah mirip-mirip Jakarta ini.

Hal itu pula yang akhirnya membuat saya akhirnya memutuskan membeli hunian vertikal. Lebih murah. Meskipun tak menapak tanah (landed house) tak masalah. Yang penting masih di Surabaya. Yang penting tak jauh kalau mau ke mana-mana.

Meskipun saya juga sudah tahu dari cerita belasan tahun lalu bahwa lokasi apartemen yang saya beli itu horor. Tak apa, yang penting di Surabaya. Pikiran saya juga horornya bisa dinikmati bersama-sama. Bersama ribuan penghuni lainnya. Bukan cuma saya.

Tapi di luar dugaan saya. Horornya ternyata kadang keterlaluan.

Saya tinggal di apartemen itu tak terlalu lama sebenarnya. Sebab sekitar 3 bulan setelah saya huni, kantor menugaskan saya pindah ke Jakarta. Praktis, apartemen itu kerap kosong. Hanya saya tinggali setidaknya 3-4 hari dalam sebulan. Ketika saya balik dari Jakarta.

Suatu ketika, saya pulang dari Jakarta dan bermalam di apartemen itu. Sekitar pukul 2.15, saya terbangun oleh suara berisik dari lantai atas. Suaranya seperti orang memindahkan perabotan dari kayu yang menempel di lantai. Krek...krekk...krekk...

Malam itu saya biarkan suara itu. Saya anggap mungkin memang ada yang memindahkan perabot. Maklum serah terima apartemen ini kan relatif baru beberapa bulan lalu.

Tapi suara itu datang lagi di malam kedua. Saya kembali terbangun. Lama sekali suara itu muncul. Rasanya kok tidak mungkin orang selama itu memindahkan perabotnya. Malam-malam lagi. Seperti tidak ada waktu.

Hari ketiga suara itu muncul lagi.

Pada jam yang sama.

Saya pun penasaran. Saya memberanikan diri mengecek suara itu. Saya keluar kamar/unit.

Sunyi sekali.

Suara itu terdengar muncul di lantai atas unit saya. Unit saya ada di lantai 3. Saya rasa suara itu datang dari lantai 4. Tidak mungkin kalau dari lantai atasnya lagi suaranya bisa seterang itu.

Lift yang terletak di depan unit saya pencet. Bulu kuduk saya berdiri. Suasana malam itu mengerikan sekali. Lampu yang ada di depan lift tiba-tiba mati-hidup-mati-hidup. Lift di hadapan saya itu ada dua. Satu saya lihat berada di angka 15. Satu lagi di angka 5.

Sekedar diketahui di apartemen saya itu tak ada lantai 4, 13 dan 14. Lantainya 1,2,3,5,6,7,8,9,10,11,12,15,16,17,18,19,20,21. Saya tak tahu alasan pastinya. Yang jelas agen apartemen itu pernah bilang bahwa sang pengembang percaya soal fengshui.

Angka 13 selama ini kita kenal sebagai angka sial. Meskipun tidak selalu. Buktinya banyak bintang sepak bola sengaja menggunakan angka 13 untuk nomer jersey-nya.

Nah kalau angka 4 juga demikian. Di kalangan masyarakat Tionghoa dikenal membawa kesialan. Jika dirunut, angka 4 dalam Bahasa Cina dilafalkan dengan shi yang juga bermakna kematian. Oleh sebab itu banyak pengusaha yang menjauhi angka tersebut.

Saya heran kenapa lift di depan saya lama sekali turunnya. Padahal kan satunya hanya turun dari lantai 4 ke lantai 3. Cuma terpaut satu lantai. Sekitar dua menit lebih saya menunggu.

Tak ada ventilasi di lantai itu yang terbuka. Tapi tiba-tiba ada angin semilir-semilir saya rasakan berhembus. Ingin mengumpat rasanya saya malam itu. Tapi hanya bisa saya tahan dalam hati.

Setelah menunggu, akhirnya lift itu terbuka. Saya masuk. Saya pencet tombol angka 4 dan tombol menutup pintu.

Tapi aneh, pintu tak kunjung tertutup. Saya merasa makin ketakutan. Apalagi semilir angin saya rasakan lagi. Seakan ikut masuk ke dalam lift itu. Setelah itu pintu berhasil tertutup. Lega...

Ting tong...lift pun berhenti.

Tapi betapa kagetnya ketika saya keluar dan menengok ke dinding lift itu. Ternyata di sana tertulis angka 15. Yang berarti saya berada di lantai 13.

Saya pun berusaha kembali masuk ke lift. Tapi pintunya tertutup. Saya pencet dua tombol lift di sana. Semuanya sudah berada di lantai 5 (alias lantai 4). Saya harus menunggu cukup lama di depan pintu lift itu. Kali ini angka di lift itu tak bergerak lagi. Tiba-tiba dua-duanya tertulis out of service.

Pikiran saya cuma dua. Menelepon teknisi, yang katanya on call 24 jam atau ke lift lain yang tersambung ke lobi utama apartemen itu.

Saya coba yang pertama: menghubungi teknisi. Ternyata tak ada yang mengangkat.

Saya agak ragu untuk menunju ke lift yang mengarah ke lobi utama. Sebab lift itu dekat jendela yang view-nya kuburan lama. Yang kata cerita --yang saya dapat belasan tahun silam-- kuburan itu angker.

Tapi tak ada jalan lain. Ada sebenarnya lewat pintu darurat. Tapi menurut saya bakal lebih horor. Karena harus turun manual sampai ke lantai 4, ups lantai 5.

Saya pun terpaksa harus ke lift itu. Berjalan melintasi lorong yang sepi di lantai 13 itu, eh lantai 15. Beberapa lampu di lorong itu entah mengapa terkesan redup dibanding lorong yang ada di lantai unit saya (lantai 3).

Saya sampai di depan lift. kembali saya harus menunggu lama. Lift sama-sama berada di lantai dasar (lobi).

Saya lihat lift yang sebelah kiri bergerak: 1,2,3,5 dan berhenti cukup lama di sini. Pikiran saya, ah mungkin ada orang yang turun di lantai itu.

Saya pencet lift yang satunya (sebelah kanan) bergerak juga: 1,2,3,5,6,7,8,9,10,11,12,15,16,17,18,19,20,21.

Apartemen ini memang mentok di lantai 21. Saya pikir dari lantai 21 itu lift akan turun. Ternyata tidak. Lift itu berhenti cukup lama di lantai 21. Saya pencet-pencet terus tombol lift dua-duanya. Yang sebelah kiri pun bergerak: 5,6,7,8,9,10, 11, 12 dan ting tong. Lift berhenti di lantai tempat saya berada. Pintu terbuka. 

Saya pun langsung masuk. Tapi lagi-lagi saya merasakan ada yang aneh. Semilir angin berhembus seolah ikut masuk ke dalam lift itu. Buru-buru saya pencet tombol angka 5 dan tombol tutup pintu.

Lift pun kali ini normal. Bisa berhenti di lantai 5. Saya keluar. Tapi aneh, pintu lift itu tak kunjung menutup. Tak saya hiraukan. Saya pun melangkah ke unit yang terletak tepat di atas unit saya. 

Suasana begitu mencekam. Saya memperkirakan malam itu masih sekitar pukul 3. Setelah berjalan cukup jauh. Saya sampai di unit yang tepat di atas unit saya.

Saya lihat banyak tumpukan surat terselip di unit itu. Juga unit sebelah kanan dan kirinya. Tumpukan surat itu seperti tagihan listrik dan air yang biasa dikirimkan badan pengelola apartemen. Juga kadang ada brosur-brosur promosi yang diselipkan secara ilegal.

Biasanya ketika sebuah unit banyak selipan kertas seperti itu tandanya tak ada penghuninya. Saya pun makin merinding. Yang ada di pikiran saya, "berarti suara itu (suara orang memindahkan furniture kayu) dari mana asalnya?"

Saya pun berlari ke arah lift yang terdekat. Yang tadi bertuliskan out of service. Kali ini tulisannya tidak ada. Tapi posisi lift sama-sama di lantai 14 (lantai 13). Saya pencet gak berubah hingga beberapa saat.

Saya lantas berlari ke lift yang berhasil mengantarkan saya ke lantai 5 ini. Dan saya kaget bukan main. Lift itu dari tadi masih terbuka.

Tapi di dalam lift itu ada seorang ibu tua. Dia seolah berupaya menutup pintu lift tapi tak kunjung bisa. Melihat saya masuk dia tersenyum. Seolah memberi tanda mungkin saya bisa membantunya menutup pintu.

Saya pencet angka 3, lantai unit saya. Saya ingin segera kembali ke unit. Segera tidur dengan berbagai cara.

Pintu lift tertutup dan bisa berhenti dengan sempurna di lantai tempat saya tinggal. Si ibu tadi saya pamiti. Dia hanya tersenyum. Saya menoleh lagi pintu lift belum tertutup, tapi si ibu tadi sudah tidak ada.

Saya pun lari dengan cepat ke arah unit saya. Pintu saya buka lalu saya kunci lagi dan segera berupaya tidur.

Keesokan harinya adalah hari terakhir saya menginap di apartemen. Sebab besoknya lagi, subuh-subuh harus kembali ke Jakarta.

Nah pas bangun ternyata jam sudah menunjukkan pukul 9. Begitu saya keluar unit, saya ketemu seorang petugas cleaning service yang sedang ngepel lorong. Saya tanya, apakah di atas unit saya ada penghuninya? Dia menjawab, "Tidak ada penghuninya". 

Petugas Cleaning service seperti dia lebih hafal dengan penghuni apartemen. Sebab dialah yang sehari-hari membersihkan lorong demi lorong. 

Hari itu saya pun menyempatkan ke badan pengelola untuk menyelesaikan pembayaran-pembayaran bulanan. Di sana saya cerita pada seorang staf tentang kejadian yang saya alami.

Eh ternyata seorang teknisi menyambar obrolan saya. Dia bercerita bahwa yang mengalami seperti saya banyak: Mendengar suara orang memindahkan perabotan tapi dicari sumber suaranya tidak ketemu.

"Rata-rata ya tetangga sampeyan semua (penghuni lantai 3). Ada juga yang tinggal di lantai 12," ujarnya. Berarti yang mengalami teror mereka yang tinggal di bawah lantai keramat: 4 dan 13.

Si mas teknisi ini kemudian iseng melihatkan CCTV di mana saya mengecek sumber suara itu. Ternyata yang mengejutkan tak ada ibu tua itu di dalam lift, seperti yang saya alami.

Keesokan harinya sebelum subuh saya meninggalkan apartemen, untuk mengejar flight paling awal ke Jakarta. Penerbangan saya pukul 4.15.

Saat itu belum ada taksi online seperti saat ini. Oleh karena itu saya punya langganan taksi yang sudah hafal dengan kebiasaan saya jika harus balik ke Jakarta.

Malam harinya si sopir saya telepon. "Mas besok jemput seperti biasa ya," ujar saya pada si sopir. Dia sudah hafal, seperti biasa itu berarti berangkat dari apartemen jam 2.30.

"Oke mas. Ini sampeyan (Anda) beneran kan mas?" tanya dia.

"Iya, memang kenapa? Nomerku gak disimpan ya?" tanya saya balik.

"Tak simpan mas. Sudah besok saja aku ceritani (ceritakan)," ujar pria asal Lamongan itu.

Pukul 2.20 si sopir telepon: "Mas saya sudah di depan lobi barang".

"Oke aku turun," jawab saya. Saya pun turun dengan membawa satu koper dan sebuah backpack.

Di dalam taksi si sopir ini ternyata cerita yang tidak mengenakan. 

"Mas, kenapa aku kemarin tanya yang telepon beneran sampeyan atau bukan?" ujarnya

"Kenapa, Mas?" balas saya.

"Kapan hari aku pikir sampeyan pulang ke Surabaya. Tapi kok aneh gak akhir bulan. Nah, sampeyan telepon aku. Suaranya mirip sampeyan. Minta dijemput seperti biasanya juga (pukul 2.30)," ceritanya.

Waktu itu si sopir ini dengan santainya menunggu di depan lobi barang, seperti biasanya dia menjemput saya. Dia menunggu 'saya' hingga 30 menit tapi yang ditunggu tak kunjung turun. 

"Setelah aku telepon lah kok nyambungnya bukan ke nomer sampeyan. Yang angkat suaranya ibu-ibu gitu. Dia hanya bilang tunggu dulu, katanya mau turun dari lantai 5," ujarnya.

Si sopir pun menunggu hingga satu jam. Tapi nomer itu ketika dihubungi sudah tak aktif lagi. 

"Kejadian itu tak ceritakan ke teman-teman sopir yang lain. Ternyata pernah ada yang dikerjain seperti itu, Mas. Makanya kemarin saya memastikan yang telepon aku sampeyan beneran atau bukan," pungkasnya. Perjalanan dari apartemen ke bandara itu pun tak terasa dengan cerita dari si mas sopir taksi.

Saya pun bergegas turun dari taksi. Sebelum pintu taksi saya tutup, saya bilang ke si mas sopir: "Saya kemarin juga ketemu si ibu itu di lantai 5. Ati-ati, mas. Ceritanya kita lanjut bulan depan pas aku balik Surabaya." (*)

 

 

 

Related Articles
Cerpen
Di Lantai Atas

Cerpen
Kamu Sudah Tahu?

Cerpen
Itu Bukan Mama!