Current Issues

Apa itu Impeachment atau Pemakzulan Atas Presiden AS Donald Trump?

Pemakzulan Presiden juga pernah dilakukan di Indonesia

Anastasia Zhellin

Posted on December 20th 2019

 

Kalau kamu login Twitter dan bingung kenapa banyak tagar #IMPEACHMENT atau #TRUMPIMPEACHED, kamu bukan satu-satunya. You’re not alone. Lalu buka LINE TODAY, isinya ramai tentang ‘Pemakzulan Trump’. Sebenarnya, apa sih impeachment dan pemakzulan itu?

Impeachment atau yang disebut pemakzulan di Amerika Serikat (AS) ialah sebuah proses konstitusional yang dilakukan untuk mengajukan tuntutan terhadap pejabat pemerintahan, termasuk presiden, yang dianggap melakukan kejahatan.  Sedangkan pemakzulan dalam KBBI berarti ‘proses, cara, perbuatan memakzulkan’. Pemakzulan merupakan turunan dari kata makzul, yang berarti ‘berhenti memegang jabatan; turun takhta’.

Contoh mudahnya adalah ketika kamu di sekolah melakukan pelanggaran berat seperti mencuri atau merusak properti sekolah. Sanksinya pasti besar banget. Kamu bahkan terancam untuk dikeluarkan dari sekolah. Sementara itu dalam kasus Trump, dia juga dianggap sudah melakukan kejahatan, sehingga dia sekarang sedang di kondisi yang cukup bikin deg-degan: bisa lanjut jadi presiden, bisa juga ia harus rela melepas jabatannya.

Nah, kenapa sih, AS membutuhkan pemakzulan?  Hal ini merupakan upaya AS untuk menegakkan balance of power. Proses pemakzulan melibatkan dua pintu, yang pertama melalui House of Representative (HoR), dan keputusan final yang berada di tangan Senat.

Trump yang merupakan presiden dari Partai Republik tersebut resmi didakwa pada Kamis (19/12) dengan dua pasal, yakni penyalahgunaan kekuasaan atas kepentingan politik dan diri sendiri, serta menghalangi penyelidikan kongres terkait isu Ukraina. Trump mengancam penangguhan bantuan militer ke Ukraina sebesar $400 juta untuk menginvestigasi Joe Biden pada pemilu AS tahun 2016.

 

 

Gugatan yang dilemparkan oleh HoR harus menembus suara dari 2/3 Senat agar dapar lolos dan menjatuhkan presiden dari jabatannya. Persidangan yang diperkirakan akan berlangsung pada bulan Januari tersebut akan dijalankan oleh 100 orang anggota Senat Amerika Serikat, dengan rincian 53 Senator Partai Republik, 45 Senator Partai Demokrat, dan dua Senator independen. Sehingga jika menggunakan itungan matematis, dibutuhkan setidaknya 67 suara Senator agar Trump dapat berakhir dimakzulkan. Dengan asumsi semua Senator Demokrat dan dua senator independen setuju pemakzulan tersebut, masih dibutuhkan sedikitnya 20 suara Senator Republik untuk menyetujuui dugaan itu.

Dalam sejarahnya, proses pemakzulan ini belum pernah ada yang sukses. Trump merupakan presiden Amerika Serikat ketiga yang terkena pemakzulan setelah Presiden Bill Clinton (1998) dan Andrew Johnson (1868) yang pada akhirnya lolos di persidangan Senat. Presiden Richard Nixon (1974) juga pernah termakzulkan, dan akhirnya memilih mundur sebelum proses persidangan.

 

Pemakzulan Pernah Terjadi di Indonesia

Proses pemakzulan sendiri juga pernah terjadi di Indonesia, tepatnya pada masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 2001. Hal ini berawal dari munculnya kasus Buloggate dan Bruneigate pada tahun 2000. Buloggate adalah hilangnya dana Bulog senilai US$ 4 miliar karena dipinjam oleh pemerintah tanpa adanya konsultasi dengan DPR. Sedangkan Bruneigate adalah sumbangan dari Sultan Brunei melalui Presiden Gus Dur, yang langsung disetor pada kas negara tanpa adanya pelaporan.

 

 

Atas dua kasus tersebut, DPR menyimpulkan bahwasannya presiden melanggar prinsip-prinsip penyelenggaraan negara. Hal ini diikuti oleh pengeluaran Memorandum I kepada Presiden pada Februari 2001, dan Memorandum II pada April 2001. Presiden yang tidak menghiraukan Memorandum tersebut mengancam akan membubarkan DPR yang kemudian menjadi krisis politik berkelanjutan.

Juli 2001, Presiden Gus Dur mengeluarkan Maklumat Presiden RI untuk membekukan MPR/DPR, membekukan Partai Golkar, dan percepatan pemilu. Hal ini kemudian direspon oleh MPR dengan menggelar sidang istimewa yang memutuskan untuk tidak mengakui maklumat tersebut dan secara resmi memberhentikan Presiden Abdurahman Wahid dari jabatan Presiden RI. Atas pemakzulan tersebut, diangkatlah Presiden Megawati sebagai pengganti Presiden Abdurahman Wahid untuk mengisi sisa masa jabatan.

Sama seperti kejadian turunnya Gus Dur, bisa dipastikan, pemakzulan Trump juga bakal menghiasi buku pelajaran Sejarahmu. Jadi, ikutin terus ya beritanya! (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Donald Trump Jadi Presiden Pertama yang Dimakzulkan Dua Kali

Current Issues
Trump Segera Rilis Platform Media Sosial, Tertarik Join?

Current Issues
Belum Satu Bulan Diluncurkan, Blog Donald Trump Ditutup