Current Issues

Belajar dari Film ini, Stop Lakukan Body Shaming

Hilda Rifky

Posted on December 19th 2019

Hari ini seluruh bioskop Indonesia serentak menayangkan Film Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan. Film yang disutradarai Ernest Prakasa itu menceritakan kisah Rara (Jessica Mila) yang selalu diintimidasi teman-temannya karena tubuhnya yang gendut.

Rara bekerja di lingkungan yang dipenuhi perempuan cantik dan ideal. Hal tersebut membuatnya tidak pede. Terlebih dia kerap menjadi korban bully.  

Setelah merasa direndahkan karena masalah body shaming, Rara bertekat memperbaiki diri. Mulai dari mengatur pola makan hingga lebih merawat diri. Dan hasilnya dia berhasil menjadi perempuan ideal. Kurus dan cantik.

Imperfect bukan satu-satunya film yang mengangkat perkara body shaming. Film Regret!, 200 Pounds Beauty, Insatible juga memiliki alur yang nyaris sama. Ketiganya bercerita tentang ada seseorang berbadan gendut yang akhirnya menjadi olok-olokan di lingkungannya. Dan ending-nya mereka akan berubah menjadi manusia "ideal" meski butuh waktu panjang dan sulit selama menjalani proses diet.

 

Apa sih Body Shaming itu?

Menurut Oxford Dictionary, body shaming adalah the practice of making negative comments about a person’s body shape of size. Atau dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai perilaku mengutarakan komentar negatif tentang bentuk dan ukuran tubuh seseorang.  

Body shaming atau mengomentari kekurangan fisik orang lain memang tanpa sadar sering kita lakukan. Dari mulai basa-basi, bercanda kelewatan, atau bahkan demi mencairkan suasana. Padahal, sebenarnya kebiasaan buruk ini tidak baik dilakukan terus-menerus.

Banyak perkataan yang tanpa disadari merupakan body shaming. Ini beberapa contoh perkataan yang sering dilontarkan padahal itu termasuk body shaming.

”Itu perut atau kantong beras, Bro?”

”Jerawatmu kok makin banyak sih?”

”Wah makin langsing aja, say.” Padahal lawan bicara kamu berbadan gendut.

Ingat! metabolisme tubuh seseorang itu berbeda-beda. Ada yang dari lahir sudah gendut dan ada yang berperawakan langsing. Jadi, stop basa basi dengan cara mengomentari tubuh orang lain. Kalian bisa mengganti basa-basi dengan tanya kabar atau kesibukan yang sedang dilakukan saat ini.

 

 

Body Shaming Bisa Dipidana Loh!

Lantaran di Indonesia ada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) No. 11 Tahun 2008 yang kemudian diubah dengan UU No. 19 Tahun 2016, maka kalian harus hati-hati dengan pernyataan body shaming. Sebab, pasal-pasal karet di UU ITE itu bisa saja digunakan untuk menjerat kalian dengan hukuman pidana oleh orang yang keberatan dengan pernyataanmu. Apalagi jika pernyataanmu itu diungkapkan di media sosial.

Pasal-pasal yang rentan digunakan untuk menjerat mereka yang menyampaikan body shaming antara lain pasal Pasal 27 ayat 3 juncto Pasal 45 ayat 3 UU ITE. Polri sendiri pernah mengungkapkan bahwa penghinaan terhadap seseorang bisa merujuk pada sejumlah pasal. 

Jika memanfaatkan media sosial, maka acuannya memang UU ITE. Tapi jika tidak melalui media sosial, bisa saja pasal yang diterapkan pencemaran nama baik yang ada di KUHP. Pasalnya bisa pasal 310 atau 311. Tapi perkara body shaming ini tentu harus ada pelapornya. Meskipun delik aduan, tapi tetap saja lebih baik kita menghindari pengungkapkan pernyataan-pernyataan yang mengarah ke body shaming. Sekalipun orang yang kita kata-katain tak marah.(*)

Artikel Terkait
Entertainment
Begini Cara Selena Gomez Balas Ujaran Haters Soal Tubuhnya, Singkat dan Tepat

Entertainment
Jesy Nelson Ungkap Satu Momen yang Bikin Ia Tahu Harus Keluar dari Little Mix

Opinion
Sadar Nggak sih Selama ini Kamu Udah Melakukan Body Shaming?!