Cerpen

Kamu Sudah Tahu?

GERIMIS: Geng Cerita Mistis

Drian Bintang

Posted on December 19th 2019

(Kompasiana)

 

Kejadian ini terjadi sekitar 4-5 tahun lalu. Saat itu, saya masih mengenyam pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Surabaya. Sebagai pribadi yang tidak pernah memiliki pengalaman supranatural sama sekali, saya mengaku menjadi orang yang bodo amat dengan kejadian-kejadian mistis yang terjadi di sekitar saya. Meskipun, tidak memungkiri saya masih yakin bahwa hal-hal semacam itu memang nyata adanya.

Hingga akhirnya, saya bertemu dengan salah satu teman saya semasa kuliah. Anggap saja namanya, Rian. Pemuda asal Tuban itu, tinggal di salah satu indekos yang ada di dekat kampus. Indekosnya berada di gang 5. Kawasan tersebut memang terkenal menyediakan indekos yang lumayan banyak bagi mahasiswa yang kuliah di sana. Tak ayal jika kawasan tersebut juga selalu ramai.

Selain terkenal sebagai salah satu gang penyedia indekos terbanyak, gang 5 juga terkenal dengan hal lain. Kawasan tersebut paling jago membuat bulu kuduk berdiri, bagi siapa saja yang lewat situ di atas pukul 17.00. Bagi kami yang sering lewat kawasan tersebut, sebenarnya sudah mengerti. Di gang 5, terdapat sebuah kuburan. Area tersebut lah, yang memisahkan area pemukiman warga dan area kampus.

Kuburan tersebut memang terkenal dengan penghuninya yang suka 'nakal'. Banyak mahasiswi-mahasiswi yang menjadi korban kejahilannya. Mulai dari penampakan api yang bertengger di salah satu nisan di kuburan, hingga penampakan-penampakan lain yang memperlihatkan sesosok makhluk gaib yang bisa menjadi alasan yang melihat untuk lari tunggang-langgang.

Nah, teman saya Rian ini, tinggal di indekos sebelah kuburan persis. Selama 4 tahun dia kuliah di sana, mungkin ada sekian banyak pengalaman yang pernah dia alami. Namun, ada satu pengalaman yang membuat bulu kuduk saya berdiri, dan membuat saya ogah lewat gang 5 selama beberapa hari.

Rian menceritakan, saat itu dia memiliki janji bertemu dengan teman sepermainannya di Tuban. Anggap saja namanya Andi. Tidak hanya berbagi kampung halaman yang sama, Rian dan Andi, ini dulu juga mengenyam pendidikan yang sama ketika masih berada di Tuban. Setelah lulus SMA, mereka memutuskan untuk pergi ke Surabaya meneruskan pendidikan.

Namun, selama itu pula, keduanya tidak pernah bertemu sama sekali. Andi memutuskan untuk berkunjung ke indekos Rian, setelah sekian lama. Dia ingin melepas kangen, dengan ngobrol-ngobrol santai. Indekos Rian merupakan indekos yang sempit. Kamarnya, hanya  muat diberi satu kasur dan lemari. Kamar Rian tidak memiliki jendela sama sekali. Membuatnya harus membuka pintu untuk membiarkan udara masuk dan bersirkulasi.

Saat itu, indekosnya juga sedang dibangun tingkat ketiga. Masih belum ada sekat-sekat kamar. Tapi, tangga untuk menuju ke tingkat tersebut sudah dibangun. Banyak mahasiswa yang akhirnya menggunakan tempat lapang tersebut untuk menjamu tamu. Termasuk Rian, ketika Andi datang. Selain angin yang sepoi-sepoi, pengunjung indekos Rian disuguhi pemandangan langsung ke kuburan sebelah. Bukan pemandangan yang enak untuk dilihat sih, tapi mereka juga tidak memiliki pilihan lain.

Keduanya pun terlibat percakapan berjam-jam. Banyak hal yang mereka bicarakan. Mulai dari kehidupan mereka semasa SMA, hingga kehidupan kuliah mereka saat itu. Andi juga berkuliah di PTN yang sama dengan saya dan Rian. Namun, dia merupakan mahasiswa fakultas sebelah.

Jarum jam pun menunjukkan pukul 22.00. Sekali pun ingin meneruskan percakapannya, Andi izin untuk mengundurkan diri. Besok dia harus bangun pagi dan memulai kuliahnya sebelum pukul 07.00. Maklum, sebagai calon guru, dia memang harus membiasakan untuk bangun pagi-pagi sekali. Dia harus berada di kampus pada pukul 06.30. Sedangkan, Andi sendiri bukan lah orang yang suka bangun pagi. Dia pun harus membiasakan dirinya dengan tidur lebih cepat pula.

Rian yang masih enggan menyudahi obrolannya, pun meminta Andi untuk tidak pulang dulu. Besok, dia baru masuk di siang hari. Andi yang sebenarnya juga masih ingin melanjutkan obrolan, pun menawarkan diri untuk membeli cemilan. Salah satu penjual gorengan di ujung gang 5 memang terkenal yang paling enak. Dia pun menawarkan diri, untuk membeli gorengan di ujung gang. ”Tapi ini sudah malam, jadi engga tahu yang jual gorengan sudah tutup atau belum,” ucap Andi kala itu.

Untuk mempersingkat waktu, Andi pun membuat perjanjian. Jika memang ada, dia akan kembali ke indekos Rian untuk membawa gorengan. Juga sekalian meneruskan obrolan mereka, hingga setidaknya pukul 00.00. Kalau orang jual gorengannya tutup, dia akan langsung menuju ke indekosnya yang berada di gang sebelah. Dia akan memberi tahu Rian, bahwa gorengannya tutup dan dia harus kembali ke indekos. ”Yaudah gitu aja, aku tunggu di lantai 3 ya,” seru Rian yang melihat temannya ke bawah dan pergi ke ujung gang.

Sekitar 10 menit berselang, Andi pun kembali dengan membawa sebungkus besar gorengan. Isinya bermacam-macam, mulai dari bakwan atau ote-ote, cireng, tahu isi, tempe, singkong, ketela, dan lain-lain. Plastiknya mengepul dengan uap, menandakan gorengan tersebut baru saja disajikan dari penggorengan. Melihat hal tersebut, mata Rian langsung mengkilat. Perutnya mendadak keroncongan, mengingat sedari tadi dia belum makan malam. Waktunya dia habiskan ngobrol dengan Andi.

Tak canggung, Rian pun langsung melahap beberapa gorengan yang disajikan oleh Andi di dalam kantung plastik. Setelah dua-tiga gorengan dia lahap, baru lah mulutnya bisa berbicara. Setelah menghabiskan semua gorengan yang dia lahap seketika itu. Mereka akhirnya kembali dengan topik pembicaraan kehidupan mereka semasa sekolah. Bagaimana, Rian dan Andi sangat kangen kehidupan mereka ketika masih tinggal di Tuban.

Berjam-jam mereka habiskan untuk berbicara mengingat masa lalu. Gorengan yang dibawa Andi pun sudah hampir habis mereka lahap. Jarum jam pun menunjukkan pukul 00.00. Tidak ada satu pun dari mereka yang melihat jam sama sekali, ketika sedang asik mengobrol dan makan gorengan. Hingga tiba-tiba handphone Rian berdering. Tanda sebuah pesan pendek dari whatsapp masuk. Sembari sedang menarik napas karena keasikan ngobrol dengan temannya, Rian pun merogoh saku celananya tempat handphone tersebut diletakkan.

“Bro tukang gorengannya sudah tutup, sorry ngga ngabarin ini aku udah di kosan daritadi,”

Ya pesan tersebut berasal dari temannya, Andi. Rian yang melihat pesan itu, kemudian langsung tersadar. Selama dua jam ini, dia tidak benar-benar ditemani temannya Andi. Bulu kuduknya sontak berdiri, angin malam seakan terasa lebih dingin menusuk ke paru-paru. Wajah orang yang ada di sebelah Rian pun langsung berubah, dari yang tersenyum berseri-seri menjadi terlihat murung dan terus menunduk. Wajahnya bahkan sudah tidak terlalu terlihat, tertutup oleh bayangan karena sedari tadi menunduk. Rian seakan sudah tidak mengenali sosok tersebut sebagai Andi temannya.

“Ada apa bro?” ujar sosok tersebut.

Rian yang tidak mau terlihat takut, memutar otaknya untuk keluar dari keadaan tersebut. Dia lantas menaruh gorengan tersisa yang ada di tangannya kembali ke kantung plastik. Rian mencoba untuk bertindak sebiasa mungkin.

”Bro aku ke bawah dulu ya, mau kencing bentar,” ujar Rian diikuti dengan dirinya yang langsung menuju ke tangga secara terburu-buru.

Rian yang enggan menoleh ke belakang mendengar sosok tersebut yang juga ikut berdiri lalu berseru.

”Kamu mau kencing atau emang sudah tahu?” ucap sosok yang menyerupai Andi tersebut.

“Ha? Apa? Engga aku emang mau kencing kok,” jawab Rian sekenanya. Setelah menjawab pertanyaan tersebut, Rian merasa ada angin yang sangat kencang menerpa tubuhnya. Semalaman Rian pun mengunci kamarnya, dan mencoba untuk tidur.

Keesokan harinya, Rian baru memberanikan diri untuk menuju ke lantai 3. Melihat apa yang sebenarnya dia makan semalam. Ketika berada di lantai 3, Rian hanya melihat sebuah kantung plastik yang berisi daun pisang kering. Dia yakin, kantung plastik itu lah yang dibawa oleh sosok yang menyerupai temannya Andi. Rian juga heran, bagaimana gorengan semalam terasa begitu enak. Ternyata dia semalam tidak memakan gorengan. Melainkan daun pisang yang sudah kering, seperti yang ada di kantung plastik yang dia temukan di lantai 3.

Karena cerita Rian, banyak dari kami yang enggan melewati gang 5 ketika dia tas pukul 17.00. Hanya Rian seorang, yang tidak memiliki pilihan lain selain menuju ke sana. (*)

Related Articles
Cerpen
Itu Bukan Mama!

Cerpen
Di Lantai Atas

Cerpen
Ibu Penunggu Lift Lantai 4 Apartemen Dekat Kuburan itu