Current Issues

Aturan PPDB Berubah Lagi, Kasih Tahu Yang Lain!

Nadiem Makarim Pangkas Kuota Zonasi

Faanissaa

Posted on December 13th 2019

Sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SD, SMP, SMA, dan SMK Negeri sempat bikin ribut tahun ini. Sekolah harus menerima siswa baru yang 90 persennya ditentukan melalui jarak rumah. Yang rumahnya jauh dari sekolah teriak minta keadilan.

Muncul demonstrasi di berbagai kota. Bahkan di Surabaya mama-papa calon siswa didik demo di Kantor Dinas Pendidikan Surabaya sampai larut malam. Setelah demo itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akhirnya menurunkan persentase zonasi jadi 80 persen. Yang demo lumayan lega tapi tetap belum puas.

Jadi sistem zonasi itu dicetuskan pertama kali oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) saat masih dijabat Muhadjir Effendy. Aturannya dibuat lewat Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang Pedoman PPDB tahun 2019. Muhadjir saat ini sudah tak lagi jadi Menteri Pendidikan. Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu ditugaskan sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Mendikbud yang baru Nadiem Makarim ternyata masih mempertahankan sistem zonasi ala Muadjir. Namun mantan bos Go-Jek itu mengutak atik aturan mainnya sesuai masukan dari para mama-papa calon peserta didik yang demo tadi. Kuota zonasi dipangkas drastis jadi 50 persen. Lalu sisanya bagaimana?

Sisanya mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 44 Tahun 2019 tentang Pedoman PPDB. Sisa 50 persen yang ada dibagi lagi lewat 3 jalur lainnya. Jalur perpindahan orang tua wali murid tetap dipertahankan di angka 5 persen. Jalur afirmasi untuk siswa tak mampu diberi jatah minimal 15 persen.

Nah, 30 persen sisanya diberikan ke jalur prestasi. Pada PPDB tahun ini jalur prestasi untuk siswa yang punya piagam lomba akademik maupun non akademik dapat jatah 5 persen. Para atlet berprestasi, atau siswa-siswa yang punya piagam lomba akademik banyak yang tak kebagian kuota.  

Setelah diprotes, Mendikbud menambahi jatah kuota jadi 15 persen pada Juni lalu. Untuk tahun depan Nadiem nampaknya menangkap problem itu. Dia memberikan jatah hingga 30 persen bagi para siswa berprestasi.

"Jadi bagi ibu dan bapak, para orangtua yang sangat bersemangat mem-push anaknya mendapatkan nilai baik dan prestasi baik, maka inilah kesempatan bagi mereka buat mendapatkan sekolah yang baik. Yang diinginkan oleh mereka," ujar Nadiem seperti disampaikan pada sejumlah media.

Dia menerangkan bahwa Permendikbud 44 Tahun 2019 hanya menjadi kisi-kisi. Pemerintah daerah harus membuat aturan yang lebih detail tentang PPDB. Tiap kota bisa berbeda-beda kebijakannya.(*)

Related Articles
Current Issues
Ingat UN Tidak Dihapus! Malah Jadi Penentu PPDB Jalur Prestasi

Current Issues
3 Fakta Penting yang Harus Kamu Tahu Tentang Hari Guru Nasional 2019

Interest
Sudah Resmi, Kini Bayar SPP Bisa Lewat GoPay. Begini Caranya!