Current Issues

Tamansari Digusur, Ruang Kesenian Anak Muda Bandung Kian Sempit

Surya Dipa Nusantara

Posted on December 12th 2019

Dua hari lalu, seluruh dunia memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional secara serentak. Namun, pagi tadi, warga Tamansari, Bandung, harus menghadapi represi yang dilakukan oleh operasi gabungan antara Polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat bertahan mempertahankan ruang hidupnya.

Tamansari memang tengah menjadi area sengketa sejak tahun 2017. Pemerintah kota Bandung, berupaya menggusur perkampungan tengah kota itu, dan mengantingnya dengan rencana rumah deret. Upaya pengkosongan lahan Tamansari bermula saat Bandung mendapat bantuan dana investasi sebesar 53,7 miliar rupiah dari pemerintah pusat untuk menjalankan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Di Bandung sendiri, luas kawasan kumuh mencapai 1.457 hektare. Dan targetnya, pada 2019, harus disikat habis. Tamansari, adalah salah satu targetnya.

Meskipun telah beberapa kali digusur, warga tetap bertahan menduduki tanah warisan nenek moyangnya itu. Bahkan, diantara puing-puing reruntuhan, warga dan banyak kolektif seni independen membuat sebuah festival berjudul Festival Kampung Kota yang digelar selama satu bulan penuh. Isi dari festival itu pun macam-macam. Mulai dari festival musik, diskusi, hingga pameran artwork dan fotografi. Setidaknya, 50 ribu orang hadir di satu bulan sepanjang festival itu. Aksi saling bahu membahu antara warga, aktivis, dan pelaku seni menjadikan Tamansari bak galeri terbuka yang bisa diakses oleh siapa saja.

Tiba-tiba, ruang itu lenyap pagi tadi. Galeri terbuka raksasa yang diiniasi warga itu, diratakan dengan tanah. Tepat pukul 09.00WB Polisi dan Satpol PP yang mengawal alat berat mulai tiba di pemukiman. Mereka memaksa warga keluar dari rumah, sekaligus barang-barangnya diangkut. Warga yang kaget, tidak tahu harus berbuat apa. Sebagian berjaga di depang gang, dan menghadang kehadiran aparat dengan apa saja yang mereka punya. Seorang ibu-ibu berteriak.

“Pak, ini ada anak bayi! Jangan ngawur. Kami bayar PBB setiap tahun, dan gugatan belum tuntas. Jangan sembarang usir paksa,” tukasnya seraya memekik histeris.

Namun, hal itu sama sekali tak membuat mundur aparat. Baru satu jam berselang, barisan solidaritas mahasiswa dan aktivis mulai merapat dan membantu warga mengevakuasi segala benda yang berada di rumah mereka. Namun, justru tembakan gas air mata melesat ke arah warga dan aktivis yang tengah berada di dekat Masjid. Bahkan, atap salah satu rumah warga pun turut terbakar karena ledakan gas airmata.

Hilangnya Tamansari tak hanya berimbas pada dampak hidup warga. Lebih dari itu, ruang kesenian di kota Bandung—yang jumlahnya minim—pun juga turut terkikis. Sekaligus, Tamansari adalah sebuah monumen bahwa setidaknya perlawanan dari warga yang mempertahankan tanahnya bisa dilakukan dengan elegan. Lewat seni dan diskusi, Tamansari menemukan nyalanya sekali lagi. 

Salah satu ingatan tentang Tamansari bisa dilihat di sini.

 

 

Related Articles
Current Issues
Konflik India Dipicu Oleh Sentimen Politis

Current Issues
Ibu Greta Thunberg Ungkap Perjuangan Putrinya Lawan Autisme di Buku Terbarunya

Current Issues
18 Tahun Lalu, Komedian Sekaligus Aktivis Dono Warkop Meninggal Dunia