Cerpen

Itu Bukan Mama!

GERIMIS: Geng Cerita Mistis

Insani U.J

Posted on December 12th 2019

"TER! SE! RAH! Aku gak peduli!"

Dan terjadi lagi. Terjadi terus. Pertengkaran tiada akhir mama-bapak yang membuatku tidak pernah paham apa itu "pulang ke rumah". Matahari saja sudah malas menyala jam segini, apalagi aku. Yang lunglai dibabibukan oleh ulangan harian yang berujung ulangan setiap hari. Tahu begini, tadi aku terima saja tawaran Fre untuk menginap di rumahnya, maraton anime sampai akhir pekan.

"Ya kamu seneng kan lek aku mati?!"

Sial. Kalimat ancaman itu lagi. Pertengkaran ini semakin membabi buta. Setibanya aku di rumah, aku tidak tahu bagaimana awal mulanya dan kuharap tidak usah pernah tahu. Kalimat-kalimat template mereka satu sama lain selalu saja tak pernah jauh-jauh dari "Ceraikan aku!" atau "Aku mati kamu ya gak peduli!"

Puluhan tahun hidup bersama, lalu memutuskan untuk berpisah. Aku tidak pernah mengerti apa yang menggerogoti otak para pasangan di muka bumi ini. Mereka pikir yang disiksa siapa? Pasangan yang mereka benci? Enggak! Ya pasti anak! Kecuali sejak lahir mereka putuskan untuk potong telinga dan siram mata anak mereka dengan minyak panas. Barulah itu anak tidak bakal tahu apa pun tentang keluarga carut-marutnya.

Dan juga selalu saja. Setiap pertengkaran yang berujung mahadahsyat begini, siklusnya pasti sama: Mama teriak-teriak dari balik pintu kamar, dan bapak pergi keluar setelah menggebrak pintu ruang tamu. Lalu tak akan kembali sampai besok pagi.

Lalu kami bertiga?

Jelaslah yang paling bahagia. Duduk meringkuk saling berpelukan di lantai ruang TV. Sampai hari berganti. Bahagia sekali, bukan?

Saking bahagianya teriakan mama kini terdengar sayup-sayup ... menghilang. Seiring hilangnya segala pandang. Mataku sudah tinggal 5 watt dan tak mungkin jadi sumber penerang kedua adikku yang masih sibuk dengan isak tangis mereka. Meratapi nasib, mencoba menenangkan teriakan mama yang malah berubah jadi saling meneriaki. Ah, peduli setan. Kepalaku pusing. Selamat malam.

***

Aku terbangun.

Apakah segala kapal pecah ini sudah berakhir? Sepertinya iya. Yang kudengar cuma suara jarum-jarum jam dinding yang terus berputar entah sampai kapan. Seolah jadi soundtrack aku yang terbangun di dini hari.

Sebenarnya aku ingin duduk 3 detik saja, lalu beranjak meneguk segelas air mineral. Tapi kalau ingat tidur adalah satu-satunya cara berkeliling dunia karena dalam beberapa jam lagi aku harus kembali ke realita, maka berusaha agar petualangan ini tidak diinterupsi adalah satu-satunya keputusan inovatif.

Tapi tunggu.

Punggungku mulai kaku saking dinginnya. Leher pun juga susah digerakkan. Terakhir yang kuingat, kedua adikku masih sibuk menangis dan aku sibuk mengantuk di sini. Setan. Tertidur tanpa bantal adalah kebodohan nomor dua setelah makan mi instan goreng tanpa irisan lombok.

"Dek, dek ...." Maksud hati kubangunkan adik biar mengambilkan bantal, tapi tangan tambun berlimpah lemak di sampingku ini bukanlah ciri adikku mana pun.

Bapak?!

"Lho, Pak?! Bapak kok ikut tidur di sini?" tersentak aku setengah pusing karena kepala terangkat tiba-tiba.

"Hmm ...?"

Cerdas. Jawaban apa lagi yang kamu harapkan dari seseorang setengah sadar setelah kerahkan segala tenaga untuk teriak-teriak semalaman.

Entah bagaimana ceritanya. Setelah aku duduk dan membuka mata, rupanya semua orang tidur tanpa alas di ruang TV bersamaku. Bak pindang di jajaran meja pasar. Bapak di samping kiriku dengan lengan kirinya sebagai bantalan si adik bungsu. Sedangkan adik tertuaku memilih spot tak simetri di sudut lemari. Sementara aku sudah tidak berminat tidur di sini. Lebih baik seperti mama di dalam kamar di atas kasur di bawah selimut.

Seperti ...

Sebentar. Itu siapa?

Mama?

"MAAA!"

Sial sial sial. Apa yang baru aku lihat?! Baju terusan motif bunga lili itu. Rambut tergerai wajah tertutupi itu. Kaki lunglai pucat pasi itu.

Dan leher ... bergelantung di tali tampar biru itu. Mama gantung diri?

"MAAA! PAAAK! Bapak! Bangun! Mama, Pak!"

Kedua lututku bak kehilangan tempurungnya. Punggungku yang sedari tadi dingin, seketika meleleh menopang ujung-ujung kaki mama yang kaku. Telingaku sendiri pun sudah tak bisa mendengar pekikan tangisku yang tanpa henti.

Bapak terperanjat menggantikanku menopang tubuh mama. Kedua adikku semburat mencari pijakan untuk digeret ke dekat tubuh mama.

"Kamu pegang ujung talinya, Dek! Biar aku iris!" adik tertuaku tak kalah sesenggukannya denganku.

Sepersekian detik setelah tali tampar itu putus, bapakku langsung menadah mama di pangkuannya. Adik bungsuku berlari mengambil selimut. Aku sekuat tenaga menggosok tangan mama agar tak sebeku ini lagi.

Tak sebeku ini lagi. Tak sebeku ... sebeku ... beku ... nihil.

"MAAA!!!" suara kami entah sudah sekeras apa di kesunyian sedini hari ini. Bapak semakin erat mendekap mama di pelukannya. Berulang kali mengusap pipi mama, berharap yang ditangisi membuka mata. Napasku tersengal. Yang kudengar terakhir kali, suara penuh sesal dengan tempo selambat-lambatnya, terbata-bata. Berulang kali.

"Bapak minta maaf ... bapak ... nggak bermaksud ... buat ma— bapak ... minta ... maaf ...."

Jantungku rasanya berhenti.

***

Deg!

Jantungku berdetak lagi?!

Bantalan empuk, selimut hangat, jangan bilang aku sudah di bangsal rumah sakit setelah mengantar mama ke kamar jenazah. Seseorang tampar aku biar aku bangun dari mimpi. Aku tahu ini mimpi. Seseorang, aku mohon.

Jdug!

Seseorang baru saja menoyor kepalaku bagian belakang.

"He!" Aku terbangun -- kali ini benar-benar terbangun. Tangan kiriku secepat mungkin mengalihkan tangan jahil itu. Milla rupanya, adik tertuaku. Tidur pulas masih dengan tabiatnya sebagai genk Nero. Tendang kiri, toyor kanan, hadap kiri, hadap kanan. Persis genk Nero yang dipaksa upacara bendera.

Kan? Apa aku bilang. Mimpi. Semua omong kosong tadi cuma mimpi. Sial sial sial. Aku pikir aku sudah terbunuh mimpiku sendiri. Kalau orang di luaran sana mati serangan jantung karena dapat berita buruk, masa iya aku serangan jantung karena mimpi buruk.

Meski aku tidak ingat kapan aku membawa tubuhku sendiri ke kamar ini, semoga saja kebiasaanku meletakkan segelas air di meja ujung sana tidak kulupakan juga tadi.

Kedua tanganku mulai menopang badanku, kedua kakiku mulai kuseret naik, kepala kuangkat bersiap duduk dari tidur yang penuh perjuangan. Rupanya melihat orang gantung diri di dalam mimpi berdampak pada bangun yang penuh perjuangan pula. Aku tahu semalam pertengkaran hebat mereka memang bukan bagian dari mimpi. Kalimat-kalimat ancaman itu. Kenapa mama harus berteriak begitu? Dia pikir alam bawah sadarku sudah disfungsi apa? Jelaslah mendengar orang ingin mati tepat sebelum aku tidur pasti berdampak ke mimpiku.

Tapi ya, seandainya. Kalau bapak dan mama terus-terusan bertengkar, seandainya. Mungkinkah di antara mereka akan mewujudkan ancaman template itu suatu hari nanti? Halah. Terserahlah. Kepalaku sudah 30 derajat kusandarkan ke tembok. Belum pernah kurasakan di tengah serangan kantuk tak terbentung begini aku harus dapat serangan jantung lewat mimpi mama bergelantung.

Aku sedang bersiap memejamkan mata lagi, ketika aku melihatnya. 

Aku sedang sadar, dan aku melihatnya.

Ini bukan mimpi!

 

"MAAA!!!"

Bruk!

Kubanting kepalaku ke bantal lagi dan kubatalkan niat beranjak dari kasur. MAMA BERGELANTUNG TEPAT DI ATAS UJUNG KAKIKU!

Mama bergelantung!

Aku mohon. Aku mohon beri aku sekali lagi kesempatan kalau mama gantung diri cuma di mimpi. Aku mohon. Seseorang, tampar aku. Aku mohon.

Posisi tidurku yang memunggungi adik, mempersulit tangan kiriku meraihnya. Aku hanya bisa memanggil adikku dalam hati. Mill, ayo bangun. Bantu topang mama. Mill, bangun ....

Serangan jantungku berbeda dari sebelumnya. Aku sudah tidak diberi kesempatan bermimpi. Kalau sebelumnya hanya suara jarum jam berjalan yang kudengar, sekarang suara-suara pengantar Subuh dari masjid belakang rumah ikut bergema.

Belum sempat kulihat apakah kali ini juga baju terusan bunga lili. Apakah kali ini juga rambut tergerai wajah tertutupi. Apakah kali ini juga kaki lunglai pucat pasi seperti mimpi sebelumnya.

 

 

Bukan.

Mama tidak serta-merta menggantung tubuhnya kali ini. Mama rela menyiksa tubuhnya lebih parah. Mama bakar diri!

Sebelum cepat-cepat kupejamkan mata tadi, kulihat kaki kurus tanpa daging hitam legam persis ujung kertas yang mulai dijalari api. Tepat di atas ujung kakiku. Aku mohon, kuatkan aku. Akan aku buka mataku sekali lagi.

Tarikan napas dalam ... kedua alis yang nyaris terpaut ... kubuka mataku perlahan ... sangat perlahan ....

Yang aku harapkan hanya satu: Entah bagaimana apa pun yang bergelantung tadi harus enyah dari situ. Entah ilusi, entah mimpi lagi-lagi. Harapanku hanya itu.

Mataku terbuka. Segaris.

Mama masih di situ!

Bola mataku mulai mengamati apa yang tidak ingin kulihat.

Kuamati lamat-lamat .... Kenapa nasib mama berakhir begini. Jari-jemari kakinya sudah tak berkuku, kulit hangus yang mengkerut, betis yang sudah tak berdaging, lutut yang tempurungnya tak lagi berbentuk, paha yang tak kalah kurusnya, pinggul yang menyusut, perut yang ...

ITU BUKAN MAMA!

Kupejamkan lagi mataku, kali ini sekuat tenaga aku tak ingin mataku terbuka. Tubuh itu bukan mama! Dia jauh lebih kecil dari mama yang kutahu! Dia bukan mama!

Ya Tuhan, dia tepat di atasku. Dia bergelantung di sana. Milla, bangun. Ayo lari. Ada entah-siapa-itu bergelantung tepat di atas kita. Milla, ayo bantu aku beranjak dari kasur ini. Semilimeter pun tak rela kugerakkan ibu jari kakiku, atau ... atau aku akan menyentuh ibu jari entah-siapa-atau-apa-itu. Selain gemetar sekujur tubuh, yang bisa kulakukan hanya menangis sejadi-jadinya. Tanpa suara. Aku ingin sekali berteriak sekalipun harus membangunkan sekampung. Asalkan aku diselamatkan dari sosok yang belum kulihat rautnya in—

Demi penguasa bumi dan surga. Jangan. Aku mohon jangan. Jangan sampai dia turun dari sana dan raut wajahnya mendekati wajahku. Aku mohon siapa pun bangun dan bawa aku kabur dari sini. Napasku sudah tak karuan, bantalku sampai basah saking tumpahnya airmata, ini sisa tenagaku untuk terakhir kali. Seseorang ... aku mohon ... bantu aku ....

***

"Bangun, Cha! Bangun! Adik sudah berangkat kamu masih di sini. Tidur pukul berapa kamu semalam?"
"Ha?"
"Ha he, ha he, makanya jangan begadang, bangun! Sekolahmu keburu telat!"

06.10

Angka di pojok kiri layar ponselku. Artinya aku cuma punya 20 menit untuk mandi, ganti, sekaligus menata buku. Perasaan semalam aku sudah pasang alarm 05.30. Setan. Bagaimana bisa aku tak mendengar apa-apa.

Tapi bantalku setengah kering, bak disiram air lalu dibiarkan begitu saja. Kepalaku pusing bukan main. Punggungku rasanya seperti habis ditimpuk Godam meski aku sendiri juga belum pernah ketemu Godam. Perasaan aku tidur cukup, pukul 22.13 yang tampak di layar ponselku tepat sebelum aku larut dalam alunan MP3 Player semalam.

"Belum siap-siap?! Alasan sakit gitu?"
"Ha, enggak. Nggak alasan. Badanku memang sakit semua."
"Lha habis ngapain?"
"Nggak tahu. Kayak salah tidur campur kurang tidur."
"Makanya kebiasaan Youtube-an sampai Subuh."
"Tapi aku nggak tidur Subuh kok tadi."
"Halah," mama berlalu ke balik pintu.

Aku benar-benar tidak tidur dini hari. Aku yakin. Yang jelas ada yang membuatku kelelahan semalam, tapi bukan YouTube. Setelah pertengkaran tak berujung kemarin mana doyan aku streaming anime, bisa senyum saja sukur.

***

22.10

Tiga menit menuju waktu kemarin saat aku mulai tertidur. Seharian di sekolah badanku serasa dibanting saking ambruknya. Dari jam pelajaran Geografi sampai Matematika yang bisa kulakukan hanya berselonjor di bangku pojokan lalu tidur sepuas-puasnya. Aku tidak ingat bagaimana kemarin aku bisa di kamar ini, bagaimana aku bisa kelelahan, aku tidak ingat apa-apa. Betapa hari serasa sekedipan mata dan sekarang mata ini sudah ingin memejam lagi.

***

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaik ...

Salawat Tarhim ini lagi, bacaan yang selalu aku dengar menjelang Subuh berkumandang. Sepertinya ada yang tak asing. Baru-baru ini aku juga bangun diiringi pujian pengantar imsak yang masih sama. Kapan ya? Kemarin? Bedanya kemarin aku bukannya ingin ke toilet begini. Kenapa ya?

Mungkin kalau aku bangun aku bisa ingat sesuatu.

Mungkin kalau aku buka mata aku bisa...(*)

Related Articles
Cerpen
Kamu Sudah Tahu?

Cerpen
Di Lantai Atas

Interest
Podcast Horor Terseram Buat Friday The 13th-mu