Portrait

3 Seniman Difabel ini Sukses Menjadi Legenda

Surya Dipa Nusantara

Posted on December 4th 2019

Menyandang disabilitas bukan berarti sama dengan tak memiliki harapan. Tiga seniman ini, kendati memiliki kekurangan fisik maupun mental, bisa mengukir namanya di jagad seni rupa dunia. Mereka menjadi legenda, lewat karya-karyanya. Yuk berkenalan dengan tiga seniman inspiratif, yang membuka mata dunia bahwa penyandang disabilitas, tak bisa dipandang sebelah mata.

 

Van Gogh

Pria bernama asli Vincent Van Gogh ini adalah satu tokoh penting dalam sejarah seni rupa. Ia, adalah tokoh aliran seni ekspresionisme, sebuah dinasti seni rupa yang dibangun oleh seniman Prancis. Van Gogh, kehilangan salah satu telinganya karena depresi yang dideritannya. Ia adalah seorang seniman yang menyandang disabilitas mental, karena hidup dengan gangguan bipolar dan epilepsi lobus temporal.

Namun, justru masa kejayaan Van Gogh diraih saat ia tengah berjibaku dengan depresi akut yang dideritanya. Di era itu, Van Gogh menjadi sangat produktif. Salah satunya, ia berhasil membuat lukisan masterpiece berjudul The Starry Night, karena terinspirasi dari lingkaran-lingkaran sureal yang dilihatnya saat matanya tengah mengalami pembengkakan retina.

 

Peter Longstaff

Peter Longstaff adalah seorang perupa yang melukis menggunakan kakinya. Ia, terlahir tanpa lengan karena efek samping obat Thalidomide, yang mendera Ibunya di masa kehamilan. Peter Longstaff pun akrab dengan diskriminasi. Bahkan, keluarga besarnya pun menyisihkannya dari pergaulan sehari-hari.

Terinspirasi dari Pamannya—satu-satunya orang yang dekat dengannya—Peter akhirnya mulai berani bermimpi. Dengan motivasi dari sang Paman, ia akhirnya belajar menggunakan kaki sebagai pengganti tangan. Hingga akhirnya, ia menuntaskan lukisan pertamanya bergambar wajah sang paman. Lukisan itu, kelak akan membawa namanya sebagai salah satu seniman legendaris di akhir 90’an.

 

Henri Matisse

Ia pertama kali melukis pada tahun 1898. Saat itu, Henri masih berusia belia. Ia dikenalkan dengan seni rupa oleh Ibunya. Sejak saat itu, ia tekun melukis kendati harus duduk di kursi roda. Henri Matisse adalah seorang seniman berpengaruh di Prancis. Ia, adalah salah satu tokoh aliran seni rupa fauvisme.

Henri Matisse, harus kehilangan dua kakinya setelah menjalani operasi bedah kolostomi. Meskipun dengan kondisi demikian, Henri Matisse tetap tak berhenti melahirkan karya-karya ciamik. Salah satunya adalah sebuah buku berjudul Jazz, sebuah buku desain yang berisikan potongan kertas warna-warni yang dikolase, kemudian dibumbui oleh pengalaman pribadinya. Buku itu, menjadi tongak sejarah pergeseran gaya melukis Henri Matisse dari impresionisme, menjadi fauvisme. (*)

 

Artikel Terkait
Interest
Kehilangan Pendengaran Bukan Berarti Tidak Punya Kesempatan, Pria Ini Beri Bukti

Interest
Kebahagiaan Model Difabel Jillian Mercado Debut di NYFW

Tech
Facebook Kembangkan Fitur Baru yang Ramah Disabilitas