Opinion

Alasan Mengapa Tak Perlu Berlebihan Merisak Organizer Konser Kita

Berkaca dari Locstock Fest 2 Yogyakarta

Surya Dipa Nusantara

Posted on December 3rd 2019

Enam tahun lalu seorang organizer asal Jogja memutuskan bunuh diri setelah dirisak habis-habisan oleh warganet di dunia maya. Ia adalah Bobby Cahyadi, ketua penyelenggara sebuah event yang di tahun 2013 baru memasuki tahun kedua, Lockstock Fest 2 Yogyakarta.

Setelah mencecap segelas teh di angkringan sebelah rel kereta api, Bobby Cahyadi yang saat itu berusia 36 tahun, segera bergegas. Langkahnya mantap menuju rel kereta. Sementara dari sebelah barat, kereta api jurusan Jakarta – Surabaya melesat.

Bobby, berhenti di tengah-tengah rel kereta. Dalam sekejap, lokomotif baja menyasak tubuhnya. Bobby meregang nyawa, dan kabut gelap menyelimuti scene independen Indonesia hari itu.

 

 

Keputusan Bobby adalah rentetan tragedi yang mendera dirinya. Saat itu, ia tengah menggelar Lockstock Fest 2 Yogyakarta. Tak kurang ada sekitar 120 band akan tampil dalam perayaan pesta yang ditahun pertama mencuri banyak perhatian itu.

Ada nama-nama band bernas seperti Kelelawar Malam (JKT), Rajasinga (Bandung), Payung Teduh, Tohpati, Efek Rumah Kaca, dan sederet artis independen tanah air lain yang akan mengisi acara tersebut. Jika dilihat hari ini, Lockstock Fest 2 ini merupakan embrio dari Synchronize Festival. Ratusan band nasional tumplek blek dalam satu festival.

Namun nahas, tiket tak sampai target. Hingga hari H, Bobby tak sanggup membayar seluruh band yang sudah tiba di Jakarta. Akibatnya, beberapa artis mogok main. Sementara, penonton yang sudah kadung membeli tiket melayangkan protes. Bobby saat itu tersudut, dan ia memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya.

Salah satu dorongan kuat yang meyakinkan Bobby untuk bunuh diri adalah serangan tanpa jeda yang ia terima dari dunia maya. Ia dirisak. Identitas pribadinya dibongkar. Bobby beberapa kali menunjukan sinyal bahwa ia telah menyerah. Salah satu cuitan yang mengindikasikan ia akan berbuat nekat berbunyi seperti di bawah ini:

 

Satu bulan ke belakang, ada dua festival musik akbar yang dijadikan bulan-bulanan oleh netizen. Yang pertama adalah Lokatara Festival. Meskipun telah beberapa kali sukses mendatangkan band-band kaliber internasional seperti Tame Impala, Mac Demarco, dan sederet musisi lain, Lokatara Festival tak sanggup mengulang kesuksesannya di tahun ini.

Enam artis mereka mogok manggung, berbagai alasan dan rumormengenai alasan batalnya The Drums, Gus Depperton, Sophie Meirs dan sederet artis internasional pun berkelindan. (baca: Sederet Musisi Internasional Batal Tampil di Lokatara),  

Sebagian artis mengungkap bahwa mereka belum dibayar lunas atau rider-nya tidak dipenuhi. Sementara sebagian lainnya mengatakan bahwa Lokatara tak mempersiapkan visa kerja mereka. Alhasil, penonton pun merisak akun medsos Lokatara dengan berbagai macam cacian. Salah satu yang paling kerap dilontarkan adalah, penonton menuntut refund.

Belum juga kasus Lokatara mereda, kini giliran Musikologi Festival juga didera masalah serupa. Karena masalah teknis, acara mereka akhirnya molor. Sehingga, beberapa penampil seperti Fourtwenty dan Feelkoplo batal manggung.

statement dan kronologi dari pihak Musikologi: pic.twitter.com/fpQCTJjlP5

Related Articles
Entertainment
Jerman Bikin Konser Musik dengan 4 Ribu Penonton Untuk Amati Persebaran Covid-19

Entertainment
Festival Brotherground jadi Ajang Reunian Penggemar Musik Cadas Surabaya

Entertainment
Shawn Mendes Penuhi Janji Konser di Indonesia!