Cerpen

Ikhlas Tanpa Batas

Masalah hanya datang untuk sementara, rasa ikhlas akan singgah selamanya

Hafizh Pratama

Posted on July 31st 2018

Di teras rumah yang lengang, pikiranku melayang. Mengambang di antara langit siang yang sedang terik-teriknya. Sudah Jumat lagi ternyata. Tapi rasanya seperti baru kemarin aku mengetahui hasil tes masukku di salah satu universitas favorit di Yogyakarta.

Jumat lalu, kampus itu bilang aku diterima. Hasil lolos seleksi jalur undangan yang jadi impian banyak calon mahasiswa. Jangan tanya bagaimana senangnya aku. Dadaku nyaris meledak dan semangatku begitu meletup-letup! Sedikit sedih sempat kurasakan karena membayangkan akan berpisah dengan teman-teman dan orang tua. Tapi tak apa. Tak masalah. Toh mereka pasti akan senang juga melihatku bisa meraih apa yang telah lama aku cita-citakan.

Aku pun bergegas menghampiri Ibu di kamarnya. Tak sabar ingin menceritakan rencana persiapanku dan apa yang kira-kira bakal kulakukan di sana. Namun tepat sebelum menyentuh ambang pintu, langkahku terhenti. Kudengar percakapan Ibu dengan seseorang yang memaksaku bergeser ke arah jendela.

“Hafizh lulus, Ta,” ujar Ibu kepada seseorang yang ternyata adalah tanteku. Tante Ta namanya.

“Alhamdulillah, Des. Akhirnya impian Hafizh terwujud,” nada gembira Tante terdengar jelas gara-gara Ibu mengaktifkan pelantang ponselnya. “Terus kapan daftar ulangnya?” tanya Tante kemudian.

Ibu tak segera menjawab. Justru helaan napas panjang yang keluar. Seketika, perasaanku tak  enak. “Itu masalahnya, Ta. Jangankan daftar ulang. Des bahkan ndak punya cukup uang buat biaya kuliah Hafizh.”

Ucapan Ibu cukup untuk membuat seluruh tubuhku bergetar. Bagai kaki yang kehilangan tulangnya, aku lunglai seketika. Terduduk lemas di lantai, di bawah jendela kamar Ibu.

Percakapan Ibu dan Tante selanjutnya makin membuat cita-citaku seperti tikus yang diembat elang di tengah sawah. Lenyap, sekali sambar. Ibu butuh empat belas juta buat biaya kuliahku? Wah, ini gila.

Realistis, Fizh, anak penjual di kantin sekolah sepertimu mana bisa kuliah di tempat yang begitu mahal? suara hatiku terus mengusik. Dan begitu tiba di kamar, segera kuhempaskan diri ke kasur dan kubenamkan kepala di balik bantal. Tidak, tidak. Anak laki-laki tidak menangis. Dan aku tidak sedang menangis. Aku cuma merasa mataku panas karena dadaku mendadak sesak.

Menjelang makan malam, kuberanikan diri keluar kamar. Berusaha sekasual mungkin seperti tidak pernah mendengar apa-apa. Kupastikan juga mataku sudah tidak bengkak. Akan sangat canggung kalau Ibu sampai tahu. Apa lagi, kalau kami duduk bersebelahan seperti ini.

“Bang, kapan mau bayar uang kuliah?” tanya Ibu sambil menyedokkan nasi ke piringku.

“Minggu depan terakhir, Bu. Emangnya kenapa?” kuterima piring berisi nasi itu dengan raut wajah sepolos mungkin. 

“Nggak pa-pa. Ibu nanya aja.” Ibu tersenyum padaku. Tangannya lantas terulur mengelus kepalaku. “Makan yang banyak ya,” katanya. Sepatah kata yang membuat dadaku kembali sesak, sampai nasi yang hendak kutelan hanya bisa menggumpal di ujung kerongkongan.

Ibu lalu berdiri dan tampak berusaha menyibukkan diri di dapur. Mengurusi cucian piring yang hanya satu-dua, menata gelas dan piring yang jelas-jelas sudah tertata, merapikan lemari isi mi instan yang bahkan tak perlu dirapikan, apa saja ia lakukan demi mengalihkan kegelisahannya. Aku tahu ia sedang menghindariku. Karena selama itu, tak ada sekelebat pun ia memutar badan ke arahku.

Aku tahu di balik punggungnya itu Ibu sedang diam-diam berairmata. Dan aku, belum pernah merasa sebersalah ini meski jelas-jelas aku tak sedang melakukan kesalahan.

“Bang....” Ibu yang masih sok menyibukkan diri tiba-tiba berkata. Ada parau terselip dalam suaranya. Tipis sekali. “Hari Senin, bantu Ibu jualan di kantin yang baru, yuk. Ibu mau bikin porsi lebih banyak. Kemarin jualan Ibu laris banget loh. Ibu sampai kewalahan. Mau nggak?”

Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan. “Siap, Bos, 86!”

Ibu tetap memunggungiku. Tapi aku tahu ada kelegaan di balik sana. Ibu memang selalu berjuang demi kelayakan pendidikanku. Jika Ibu tidak patah arang dengan kondisi ini, maka aku pun harus tetap optimis. Harapan itu masih ada. Tuhan tidak pernah menguji sesuatu di luar batas kekuatan hamba-Nya, bukan?

Kembali ke kamar, kuraih sajadah. Sisa air wudu di wajah yang terkena hembusan kipas angin terasa begitu menyegarkan. Sejuknya menjalar sampai ke hati. Menuntunku tunduk dalam khusyuk, meminta penuh harap kepada-Nya agar Senin berjalan lancar.

*

Senin tiba. Kursi sudah tertata, bahan jualan sudah siap. Sambil menunggu jam istirahat yang akan datang setengah jam lagi, kupandangi sesaat spanduk di lapak Ibuku penuh keyakinan. Hari ini, sesuatu yang baik pasti datang.

Bel istirahat pertama berdentang. Pintu-pintu kayu berderak. Para siswa semburat menuju kantin. Riuh celoteh mereka yang beradu dengan decit sepatu seketika mewarnai suasana kantin.

“Tanteee, beli ayam pakai nasi!”

“Tante, sambalnya banyakin, ya.”

“Kak, es tehnya satu! ”

Ibuku benar. Kantin baru ini sangat ramai. Tak sedetik pun aku berhenti mengucap syukur. Di antara panas minyak goreng menguarkan semerbak ayam tepung, aku sadar Tuhan sedang menguji kesungguhanku.

Siang datang dan aku makin tak bisa memercayai kejadian ini. Ramainya pelanggan di siang ini dua kali lipat melebihi pelanggan pagi tadi! Jika terus seperti ini hingga seminggu ke depan, bukan tidak mungkin aku bisa membayar uang kuliahku. Benar-benar kekuatan doa itu tak bisa diremehkan.

Sebelum jam istirahat siang usai, kami terpaksa menutup lapak. Hari Senin ini kami pecah rekor! Ibu bahkan beberapa kali menolak pengunjung karena dagangannya sudah habis. Wah, tak sabar rasanya menunggu esok tiba. Keramaian semacam ini benar-benar menyulut semangat dan rasa optimisku.

Aku dan Ibu baru akan menaikkan beberapa peralatan ke atas motor saat sekelompok orang menghadang.

“Mau ke mana?” tegur mereka.

Aku dan Ibu saling pandang. “Mau...pulang,” jawabku berusaha tenang.

Seorang ibu berbadan sintal, yang kuketahui berdagang soto di kantin kami, maju selangkah sambil berkacak pinggang. “Enak ya, baru datang sudah habis. Pakai pelaris apa?” 

Aku mengernyit. 

“Gara-gara kalian, pelanggan kami lari!” Seorang bapak berkaus Metallica ikut menimpali tak kalah sinis. Ia penjual ketoprak di lapak samping kami. 

“Pulang sana yang jauh! Nggak usah balik lagi kemari!” Seru dua pedagang lain yang tak mau ketinggalan emosi.

Aku menarik napas panjang. Sabarku mulai sampai ke tepi. “Pak, Bu, kami hanya jualan ayam kentucky. Kenapa Bapak sama Ibu marah-marah? Rejeki sudah diatur Allah!” 

“Anak kecil nggak usah sok tahu! Minggir ka—“ 

“Kalian yang minggir!” Ibu tahu-tahu sudah berdiri di depanku. Menantang tak kalah galak dari pedagang-pedagang iri itu. Sehingga mereka yang semula merangsek maju untuk menyudutkanku, perlahan mundur karena ciut menghadapi kegarangan Ibu.

“Apa yang bikin kalian iri sama kami? Jualan kita saja sudah jelas-jelas berbeda. Mencari rezeki halal kok dihalang-halangi. Iya, kami pakai pelaris. Berupa doa dan shalat Dhuha,” tegas Ibu di depan massa. “Kita pulang sekarang, Bang. Nggak usah pedulikan mereka. Besok kita jualan lagi seperti biasa,” kata Ibu lagi.

Ketika kami sudah di atas motor, aku masih bisa mendengar kasak-kusuk para pedagang yang belum ikhlas itu. Entah kelicikan apa yang akan mereka rencanakan esok hari, aku tak peduli. Aku hanya ingin membantu Ibu yang sudah tidak putus asa demi mewujudkan cita-citaku. 

Motor berjalan. Waktu berjalan. Doa-doa tak putus kami ucapkan. Usaha tak henti kami lakukan. Ketika akhir pekan tiba, sesuatu terjadi dan ini membuatku sangat tak percaya. Mustahil, tapi nyata. Empat belas juta yang kubutuhkan untuk membayar kuliahku berhasil terkumpul!

“Alhamdulillah, Bang....” Ibu memelukku sangat erat. Degup jantungnya yang tak kalah cepat dari jantungku, berlomba saling mengisi. Kami gembira. Sangat gembira. Syukur bahkan tak mampu mewakili ini semua. Seminggu ini benar-benar memberi pelajaran berharga. Tentang ikhlas yang telah mengantarkanku pada jalan keluar, pada jalan-Nya, lewat sebuah ujian untuk memantaskan diri sebelum mendapat apa yang aku inginkan.

Aku memejam. Setitik hangat yang tak bisa lagi kubendung, bergulir dari sudut mataku. Terima kasih, Ibu. Doamu adalah anak panah yang tak pernah bisa dibendung semesta. Terima kasih, Tuhan. Hari ini indah, cerah, menyenangkan. 

*

“Sudah siap semuanya?” Ibu menghampiriku. Seiring bunyi pintu rumah yang baru saja terkunci, pikiranku kembali.

“Sudah, Bu. Yuk!” aku tersenyum. Menggandeng Ibu memasuki taksi yang akan mengantarkan kami ke stasiun. Ya, kami akan ke Yogya. Melakukan daftar ulang ke sebuah kampus yang sudah lama aku impikan.

Di sisa perjalanan, aku kembali memejam seperti sedang meresapi dunia. Kurasakan hatiku mengembang, terus mengembang, merasakan hangat yang mengisi relungnya. Jika masalah hanya datang untuk sementara, maka buah dari rasa ikhlas akan singgah untuk selamanya.

Artikel Terkait
Cerpen
Lima Belas Cupcake Pertama

Cerpen
Siapa Yang Seharusnya Sadar?

Cerpen
Di Lapangan Saat Aku Menyadari Kamu