Pop-Sci

Hasil Riset: Hilangnya Fitur 'Likes' IG Bisa Pacu Kreativitas Bikin Konten

Regina

Posted on November 29th 2019

Instagram (IG) sudah sejak beberapa bulan lalu melakukan percobaan mematikan fitur 'likes' di aplikasinya. Eksperimen itu baru dilakukan di beberapa negara seperti Canada, Australia, Brazil, dan Jepang.

Nah, kalian mungkin sudah banyak yang tahu kenapa Instagram berencana mematikan fitur itu selamanya. Tapi, bagi yang belum tahu, mainmain akan kasih penjelasannya. Jadi, Instagram mencoba mematikan fitur 'likes' salah satunya karena alasan kesehatan mental.

Iya, karena banyak kasus para influencer yang perang 'likes'. Artinya jumlah 'likes' seringkali dinilai mempengaruhi kualitas seorang influencer.

Dilansir dari Bussiner Insider, ada studi tentang platform pemasaran influencer yang dilakukan Hype Auditor. Lembaga itu meneliti dampak dari 'likes' di Instagram. Menurut lembaga pemasaran yang beroperasi di Inggris dan Jepang itu, 'likes' mampu meningkatkan pengikut influencer dari 100 ribu hingga satu juta.

Di beberapa tahun terakhir, Instagram pun jadi lahan kompetisi. Di mana influencer selebriti saling berlomba mendapatkan pengikut dan jumlah 'likes' terbanyak. Nah, Instagram coba menyembunyikan fitur 'likes' dengan harapan mampu membuat para selebriti dan influencer lebih fokus pada konten mereka, bukan pada pencapaian ketenaran.

CEO inzpire.me --sebuah brand pencocokan brand untuk influencer-- mengatakan bahwa penghapusan fitur 'likes' ini bisa memberi tantangan bagi para influencer untuk lebih memikirkan konten yang baik. Juga tidak ada saling iri antara mikro influencer dan makro influencer. Menurutnya, bagi para influencer kecil adalah kesempatan untuk lebih membuat konten yang lebih bagus lagi.

Tidak hanya untuk para selebriti dan influencer saja, dihapusnya fitur 'likes' juga diharapkan mampu mengurangi kurangi tingkat kecemasan. Dilansir dari Medscape, pada survei yang dilakukan pada 2017 terharap 790 remaja Amerika Serikat, menghasilkan laporan tentang dampak positif dan negatif Instagram.

Sue Verma, seorang psikatris mengatakan, Instagram mungkin bisa dijadikan lahan 'tantangan baru' bagi orang dewasa. Namun, bagi remaja sebaliknya. Mereka bisa cemas karena menilai value dirinya dari jumlah 'likes' di Instagram.

“Remaja seharusnya tidak khawatir tentang dirinya di dunia nyata ataupun cyber. Media sosial bukan penentu nilai seseorang, biarkan menjadi tempat untuk berekspresi saja,” katanya.

Menurut riset itu, kompetisi di media sosial akan selalu ada. Dari perbandingan diri sampai nilai kesuksesan seseorang ditentukan dari postingan foto. Fenomena ini akan selalu ada, dan internet merupakan alat yang menyebar luaskan hal itu. Mematikan fitur 'likes’' mengajarkan anak muda untuk tidak candu dalam bermedia sosial.


Alyssa Kulani, Seorang Influencer yang Sudah Mengalami Ekperimen Matikan Fitur 'Likes' Instagram (bussinerinsider)

Nah, ada pengakuan dari salah seorang influencer asal Canada, Alyssa Kulani. Dia sudah memiliki subscribers di YouTube-nya sebanyak 677ribu. Kepada Insider dia mengatakan bahwa awalnya memang terganggu dengan ketiadaan fitur likes. Sebab, banyak brand yang akhirnya tidak bisa melihat engagement.

Dia sempat khawatir tidak ada brand yang bakal bekerja sama dengannya lagi. “Tapi jujur saya pikir itu sangat membantu kesehatan mental saya. Aku jadi ingat banyak gadis-gadis di sekolah sering membandingkan 'likes' mereka. Seringkali mereka menilai semakin banyak 'likes' semakin populer,” ujarnya pada Insider. Nah kalau menurut kalian bagaimana guys, perlu tidak fitur 'likes' dihapus selamanya, termasuk di Indonesia?(*)

Baca juga: Mengapa Instagram Berencana Hapus Jumlah Likes?

 

 

 
Related Articles
Pop-Sci
Kenapa sih Rindu Itu Berat?

Pop-Sci
Mengenal Lebih Jauh 'Flight Shaming' yang Bikin Geger Dunia Penerbangan

Pop-Sci
Leonardo Di Caprio Anggap Greta Thunberg sebagai Pemimpin Masa Depan

Meet The Creator



Regina

Quote Of The Day

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda