Current Issues

Jokowi Tunjuk Sejumlah Milenial Jadi Stafsus, Mereka Punya Latar Belakang Keren!

Drian Bintang

Posted on November 21st 2019


Stafsus Presiden yang berasal dari para Milenial. (Instagram Jokowi)

Sosok-sosok milenial makin banyak di lingkaran Istana. Setelah munculnya Nadiem Makarim dan Angela Tanoesoedibjo di jajaran kabinet, hari ini (Kamis, 21 November) Presiden Joko Widodo (Jokowi) merekrut anak-anak muda sebagai staf khusus (stafsus) Kepresidenan.

Tujuh dari stafsus milenial itu dikenalkan Jokowi ke awak media. Seperti jabatannya, tugas dari anak-anak muda ini adalah menunjang kinerja Presiden RI. Tim mainmain.id, telah merangkum beberapa profil Stafsus 'Milenial' ini.

 

1. Adamas Belva Syah Devara

Pria yang akrab disapa Belva itu merupakan pendiri dari Ruang Guru. Sebuah bimbingan belajar pertama yang menganut sistem online. Belva lahir di Jakarta pada 30 Mei 1990. Saat ini dia tengah menginjak usia 29 tahun.

Dulu, Belva bersekolah di SMP Al Azhar 4 Jakarta. Ketika lulus, Belva pun meneruskan pendidikannya ke SMA Presiden, di Bekasi. Saking pinternya, Belva tidak dikenakan biaya apa pun. Dia mendapatkan beasiswa penuh selama bersekolah di SMA Presiden.

Ketika kuliah, Belva memilih untuk meneruskan ke Nanyang Technological University di Singapura. Tidak main-main, Belva mengambil dua gelar sekaligus dalam satu study (double degree). Yakni pada Bisnis dan Ilmu Komputer. Di Nanyang, Belva juga mendapatkan beasiswa penuh atas studinya.

Tak berhenti di situ. Belva melanjutkan studinya ke Stanford University di Amerika Serikat. Di sana dia mendapatkan gelar Master of Business administration (MBA). Belva juga menyandang gelar Master of Public Administration (MPA) dari Harvard University pada 2014-2016. Berbagai penghargaan pernah dia terima. Pada Juli 2014 lalu lah, Belva memutuskan untuk mendirikan Ruang Guru di Indonesia.

 

2. Putri Tanjung

Dari namanya saja, mungkin beberapa dari kalian sudah tahu siapa dia. Ya, Putri merupakan anak sulung dari pengusaha sukses, Chairul Tanjung. Putri sendiri tercatat sebagai CEO dari sebuah event organizer bernama El Paradiso.

Perusahaan ini didirikan sendiri oleh Putri pada Desember 2011 lalu. Berdasarkan website-nya, perusahaan ini didirikan Putri dalam rangka membuat acara yang menghibur sekaligus menginspirasi para anak muda.

Untuk latar belakang pendidikannya, Putri merupakan jebolan dari Academy of Art University di San Fransisco, Amerika Serikat. Putri mengambil jurusan Multimedia Communication. Dia menempuh studi pada 2015-2019 ini.

Ketika masih menjadi mahasiswa, Putri terkenal sebagai mahasiswa yang suka beroganisasi. Putri merupakan Ketua dari Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat Academy of Art University San fransisco (Permias AAU).

 

3. Andi Taufan Garuda Putra Amartha

Pria yang lahir pada 24 Januari 1987 itu merupakan founder dari lembaga keuangan mikro Amartha. Dia tercatat sebagai CEO di perusahaan tersebut. Kantornya berada di daerah Ciseeng, Bogor. Andi juga sempat bekerja di IBM.

Setelah resign dari IBM, Andi memutuskan untuk membangun lembaga keuangannya sendiri di pinggiran kota Bogor. Andi ingin membantu masyarakat sekitar, yang bahkan tidak pernah memasukan uangnya ke bank. Tujuan utama Andi adalah untuk membebaskan masyarakat dari lilitan utang yang diberikan oleh rentenir.

Karena jasanya, pria lulusan Manajemen Bisnis, ITB tersebut dianugerahi sekian banyak penghargaan. Seperti Finalis Indonesia MGDs Awards, Finalis IPA Social Innovations and Entrepreneurship (Solve) Awards, dan lain-lain. Andi melanjutkan S2-nya ke Harvard Kennedy School pada 2015-2016 lalu. Dia mendapatkan gelar Master of Public Administration (MPA).

 

4. Ayu Kartika Dewi

Perempuan kelahiran Banjarmasin ini, merupakan alumnus Manajemen Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) di Surabaya. Karena prestasinya, Ayu menjadi mahasiswa berpresasi se-FE selama dua tahun berturut-turut.

Pada 2003 lalu, Ayu bahkan dinobatkan sebagai mahasiswi dengan peringkat ke-4 terbaik se-Unair. Lulus dari Unair, Ayu lantas memutuskan untuk merantau ke Singapura. Dia terdaftar sebagai Consumer Insight Manager di P&G Singapura.

Tiga tahun dia bekerja, mulai 2007-2010. Setelah itu Ayu memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Dia merasa terpanggil, untuk ikut dalam program yang diprakarsai Anies Baswedan, ketika menjadi Menteri Pendidikan dulu, yakni Indonesia Mengajar.

Tiga tahun mengajar, Ayu pun membangun SabangMerauke. Sebuah program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia. Karena prestasinya, Ayu lantas mendapatkan beasiswa di Duke University, Amerika Serikat. Dia sempat bekerja sebagai konsultan di McKinsey. Hingga akhirnya kembali ke Jakarta, dan menjadi staf mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok).

 

5. Gracia Billy Mambrasar

Pria kelahiran Serui Papua ini berhasil mengenyam pendidikan hingga ke Oxford Inggris. Pria 30 tahun itu saat ini merupakan pendiri yayasan Kitong Bisa pada 2009 lalu. Billy berniat membantu anak-anak di Papua agar bisa mengenyam pendidikan lebih layak.

Saat ini Kitong Bisa memiliki 9 pusat belajar, 158 relawan, dan 1.100 anak yang diasuh. Kini 20 anak didik Kitong Bisa bahkan berhasil meneruskan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Billy sendiri, dulu merupakan anak orang tidak mampu. Ayahnya—Gracia Billy Yosaphat Y Mambrasar—merupakan seorang guru honorer. Setiap bulan, gajinya selalu tidak menentu. Sedangkan ibunya, dulu membantu menafkahi keluarga dengan berjualan kue di pasar.

Billy bisa bersekolah karena program sekolah gratis hingga 12 tahun. Biaya pendidikan kuliahnya ke ITB pun dibiayai oleh beaisswa afirmasi dan otonomi khusus dari pemerintah. Hingga akhirnya, Billy bisa melanjutkan kuliahnya hingga ke Inggris, dan beberapa negara lainnya.

 

6. Angkie Yudistira

Perempuan kelahiran Medan 32 tahun yang lalu itu merupakan lulusan dari London School of Public Relations (LSPR) Jakarta. Dia meraih master di bidang komunikasi pemasaran pada perguruan tinggi yang sama. Dulu, Angkie merupakan finalis Abang-Nonbe yang mewakili Jakarta Barat pada 2008.

Angkie sendiri, merupakan seorang Tuna Rungu. Mengemban misi dalam membantu kaum difabel sepertinya, dia mendirikan Thisable Enterprise. Perusahaan ini dirintis oleh Angkie, dan teman-temannya ketika dia masih berusia 25 tahun. Dia ingin membantu semua masyarakat difabel di Indonesia. Karena jasanya, Angkie pernah dianugerahi Fearless Female Cosmopolitan 2008, dan Miss Congeniality.

 

7. Aminuddin Ma’ruf

Aminudin merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) periode 2014-2016. Pria kelahiran 27 Juli 1986 itu merupakan lulusan Universitas Negeri Jakarta. Dia melanjutkan S2-nya di Universitas Trisakti Jakarta. Dia terpilih sebagai Ketum PB PMII dalam konferensi yang dilakukan di Jambi.

Seusai menjabat sebagai ketua, Aminuddin kemudian menjadi Sekretaris Jenderal Solidaritas Ulama Muda Jokowi (Samawi). Relawan Pendukung Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019 lalu.

  

8. Diaz Hendropriyono

Anak Mantan Kepala Badan Intelejen Negar (BIN) AM Hendropriyono itu, merupakan Ketua Umum dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Pria kelahiran Jakarta 25 September 1978 itu merupakan alumnus dari Norwich Military University, Amerika Serikat.

Dia kemudian melanjutkan studinya di Virginia Tech University, Amerika Serikat. Doi mengambil bidang administrasi publik. Diaz juga mendapatkan gelar masternya dari Hawaii Pasific University.

Ketika berada di Amerika, Diaz pernah ditunjuk sebagai analis di salah satu perusahaan konsultan politik mantan Senator AS Benner L. Johnston. Ketika kembali di tanah air pada 2015 lalu, Diaz ditunjuk sebagai Komisaris BUMN PT Telkomsel. Hingga pada tahun berikutnya, Diaz ditunjuk menjadi staf khusus kepresidenan. Hari ini Diaz tak diperkenalkan ke media oleh Jokowi.

 

9. Dini Shanti Purwono

Seperti Diaz, Dini tidak diperkenalkan Presiden kepada khalayak umum di istana negara pada Kamis ini. Sebab, mereka yang diperkenalkan merupakan staf khusus yang memiliki latar belakang milenial saja. Sedangkan Dini sendiri merupakan salah satu kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang sudah berumur 45 tahun.

Dini sempat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif untuk Dapil Jawa Tengah I. Perempuan kelahiran Jakarta 1974 itu  dulu juga terpilih sebagai juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf. Dia merupakan alumnus Universitas Indonesia. Dia melanjutkan studinya di Harvard Law School, dan lulus pada 2002 lalu.(*)

Related Articles
Interest
Keren! Pemerintah Indonesia akan Produksi 16 Ribu APD Tiap Hari

Interest
Biar Nggak Salah, Ini Loh Nama Menteri Baru  Jokowi Setelah Direshuffle

Interest
Jangan Ngaku Sneakerhead Kalau Belum Kenal Brand-brand Lokal Underrated ini!