Current Issues

Djaduk Ferianto dan Karyanya yang Terus Abadi

Surya Dipa Nusantara

Posted on November 14th 2019

Berita duka datang begitu mengagetkan. Terutama bagi para penggemar musik dan teater. Djaduk Ferianto berpulang di usia 55 tahun. Seperti sudah kita ketahui bersama, Djaduk meninggal karena serangan jantung.

Om Djaduk memang telah meninggalkan kita semua, tapi sederet karyanya masih akan terus teringat oleh masyarakat Indonesia. Karya-karyanya bakal terus hidup, disuarakan, berlipat ganda, dan akan terus bertemu dengan pendengar barunya.

Ya, semasa hidup, Djaduk memang memiliki sederet karya luar biasa di dunia seni tanah air.

Mungkin sudah ratusan, bahkan ribuan karya yang dihasilkan seniman yang lekat dengan dandanan kaca mata tebal, rambut ikal, dan gelung yang selalu melingkar di belakang kepalanya itu.

Di dunia seni musik, Djaduk adalah jembatan musik kontemporer dan tradisional. Ia selalu bereksperimen menggunakan alat-alat musik tradisional untuk melantunkan lagu-lagu kekinian. Djaduk adalah legenda musik Indonesia.

Nama Djaduk melejit pasca ia dan grup musik humornya memenangakan lomba musik humor tingkat nasional. Grup pertama Djaduk bernama Rheze. Dibuat sekitar 1978.

Lama terombang-ambing bersama Rheze, akhirnya ia mulai menekuni eksperimentasi musik tradisional lewat grup kesenian yang ia bina bersama kakaknya, Butet Kartaredjasa. Nama grup keseniannya: Kua Etnika. Lewat Kua Etnika inilah nama Djaduk makin melesat. Ia memacakan ia sebagai tokoh penting di pergerakan musik tanah air.

Kua Etnika adalah grup musik pertama yang berupaya mengkawinkan musik tradisional dengan musik kontemporer. Kua Etnika adalah pengawal, sebelum akhirnya Indonesia memiliki sederet kelompok musik lain yang mengolah musik tribal tanah air, seperti Senyawa, Gabber Modus Operandi, atau Wukir Cahyadi.

Tak hanya tampil dari panggung ke panggung, nama Djaduk juga tertulis di sebagai penata musik film-film penting di Indonesia. Ya, sejak 1998, nama Djaduk mulai malang melintang di dunia film internasional lewat kepiawaiannya menjadi penata suara.

Pertama kali namanya terpacak di kompetisi film kaliber dunia pada 1998. Saat itu, Djaduk dinominasikan sebagai penata suara terbaik, lewat film Daun di Atas Bantal karya Garin Nugroho. Film ini, sekaligus menjadi film pertama asal Indonesia yang berhasil lolos ke Cannes Film Festival, Prancis, untuk kategori Uncertain Regard.

Setelah itu, Djaduk makin dilirik oleh sineas-sineas lokal dan luar negeri. Salah satu karya penting Djaduk adalah saat ia menjadi penata suara di film Petualangan Sherina pada tahun 2000. Ia juga pernah dianugerahi penata musik terbaik, setelah menuntaskan tugasnya menjadi penata musik di film Soegija, besutan Garin Nugroho.

Sebelum berpulang, ia sempat berpesan kepada Heri Pemad, pengelola berbagai festival kesenian di Yogyakarta. Ia, berharap kepada anak-anak muda agar terus nekat dalam berkarya. Keterbatasan ekonomi seharusnya tidak menjadi ganjalan berarti.

“Saya berharap banyak festival dan anak muda yang nekat-nekat. Sakjane yo mung kere, kere ning opo, sombong (sebenarnya ya cuma miskin, miskin tapi sombong)," ujarnya. 

Jenazah Djaduk Feriyanto telah dikebumikan di Padepokan Seni Bagong Kussudiarjo, Yogyakarta. Bersanding dengan makam bapak dan ibunya. Meskipun raganya telah tiada, namun Djaduk menitipkan semangat pantang menyerah yang harus kita imani sebagai orang-orang muda harapan bangsa. Selamat jalan, Om Djaduk. Karyamu akan kami kenang abadi!

 
Related Articles
Current Issues
Ditemukan Struktur Logam Misterius di Tengah Padang Pasir Amerika. Buatan Alien?

Entertainment
Zendaya Mengaku Tak Pernah Terpikirkan untuk Main Film ‘Spider-Man’

Korea
Agensi Jawab Tuduhan Jo Byungkyu Jadi Pelaku Bullying