Current Issues

Mengenal Lebih Jauh 'Flight Shaming' yang Bikin Geger Dunia Penerbangan

Delima Pangaribuan

Posted on November 8th 2019

(Simple Flying)

Kemarin, kita sudah bahas soal Efek Greta yang memunculkan fenomena flight shaming. Tapi sebetulnya apa itu flight shaming dan sejak kapan istilah tersebut muncul? Ini menarik untuk ditilik lebih jauh lagi, guys. Soalnya, ternyata persoalan flight shaming ini ternyata nggak baru-baru banget. Greta Thunberg yang kembali memunculkan dan akhirnya bikin geger dunia penerbangan.

Bagaimana nggak menggegerkan perusahaan penerbangan dan pesawat, karena gerakan flight shaming ini bakal otomatis memengaruhi pendapatan mereka. Semakin sedikit orang naik pesawat, sementara biaya bahan bakar dan service tetap atau bahkan makin mahal, jelas bikin perusahaan penerbangan megap-megap.
 
Sebelum berbicara lebih jauh soal dampak dalam analisis berbagai pakar, lebih dulu kita breakdown yuk asal mula gerakan ini. Yap, flight shaming sudah menjadi sebuah gerakan yang cukup signifikan, terutama di belahan dunia Barat. Mengutip The Nation, fenomena ini sudah merebak di Swedia sejak awal tahun ini. Dikenal dengan istilah "Flygskam".
 

Dalam sebuah laporan pada Juli 2019, terdapat penurunan jumlah penumpang pesawat sampai 4 persen dalam setahun. The Nation menyinggung soal hasil laporan The Guardian tentang "no plane pioneers", alias orang-orang pertama yang menjalani gaya hidup tanpa naik pesawat ke mana-mana itu.
 
Seorang sosiologis lingkungan Universitas Southampton bernama Roger Tyers disebut-sebut sebagai salah satu pioneer itu. Roger melakukan perjalanan dari Kiev menuju Moskow selama empat hari. Eits, itu belum tujuan akhirnya. Karena tujuan sebenarnya adalah Beijing, di mana dia harus melewati 14 hari lagi untuk sampai ke ibukota Republik Rakyat Tiongkok itu. Roger pergi ke Beijing dalam rangka studi lingkungan dan perubahan iklim. "Aku pikir sama saja munafik kalau aku terbang ke sana," ungkapnya pada The Guardian.
 
Singkatnya, flight shaming bisa dipahami sebagai pikiran yang mendasari kita untuk tidak bepergian naik pesawat. Dan alasan utamanya adalah demi lingkungan. Sebab, seperti yang dibilang Greta, pesawat menghasilkan emisi karbon yang tidak ramah lingkungan. Mengutip The Nation, dunia penerbangan menyumbangkan 2,5 persen emisi karbon dioksida di seluruh dunia. Dan diperkirakan hal itu bakal berdampak pada kenaikan suhu Bumi hingga 1,5 derajat Celcius pada 2030.

 
So, kalau sekarang kamu udah ngeluh panas kayak di neraka, sampai bisa nggoreng telur di atas aspal, ini belom ada apa-apanya sama suhu 10 tahun mendatang, guys.
 
Kembali ke flight shaming, bisa dipahami ini adalah gerakan yang sebenarnya positif. Greta sendiri terinspirasi dari ibunya, Malena Ernman. Malena adalah seorang penyanyi mezzo-soprano Swedia yang memutuskan untuk berhenti berkarier di 2016. Alasannya, dia peduli pada lingkungan. Bila ia melanjutkan kariernya, maka ia harus sering naik pesawat untuk manggung ke mana-mana.
 
Greta sendiri menerapkan keyakinannya itu dengan pergi ke Konferensi PBB di New York naik kapal. Hmm... tapi hal ini dikritisi sama The Nation. Soalnya, Greta naik yacht yang disponsori Yacht Club de Monaco. "Simbol perjalanan Thunberg bisa dipahami dengan jelas, tapi pada praktiknya, sangat tidak mungkin hal itu dilakukan oleh mayoritas orang Amerika," papar jurnalis The Nation Alanna Schubach.
 
Yah, nggak cuma mayoritas orang Amerika saja sih. Kita lihat saja kondisi negara kita sendiri. Indonesia ini terbagi ke ribuan pulau. Bayangin sekarang, kalau dari Surabaya mau ke Lombok kamu harus naik kapal dan nggak boleh naik pesawat. Iya seru sih seru, tapi pasti habis waktu di jalan. Yang di Jawa sih enak bisa ke mana-mana naik kereta. Kalau teman-teman di Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau lain yang nggak ada kereta, pilihannya cuma mobil atau bus.
 
Meski demikian, dunia penerbangan sendiri cukup tanggap dalam menyikapi fenomen flight shaming ini. Kebanyakan sih penerbangan di Eropa, seperti misalnya KLM (maskapai Belanda). Mengutip Business Insider, KLM bikin kampanye "Flight Responsibly" atau terbanglah dengan bertanggung jawab. Kampanye ini mendorong penumpang untuk packing lebih sedikit, beli carbon offset (sejumlah uang yang harus dibayar sesuai emisi karbon yang dikeluarkan pesawat), dan bahkan mendorong penumpang untuk lebih jarang terbang.
 
Beberapa maskapai di Eropa juga bertekad untuk bisa menghasilkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, sehingga kebijakan carbon offset ini bisa dihilangkan beberapa tahun ke depan. Seperti diberitakan Simple Flying, International Air Transport Association (IATA) saat ini tengah menyiapkan kampanye besar-besaran yang bakal diterapin ke semua maskapai di dunia sebagai mitigasi berbagai efek yang disebarkan flight shaming movement. (*)
Related Articles
Current Issues
Pidato Greta Thunberg Berdampak ke Kebiasaan Travelling Dunia, Kok Bisa?

Current Issues
Greta Thunberg Ganti Bio Twitter Untuk Sindir Trump

Current Issues
Greta Thunberg Bikin Trademark Untuk Nama dan Gerakannya