Current Issues

Ngetwit Bersyukur, Ika Natassa Malah Disebut Schadenfreude. Apa sih itu?

Delima Pangaribuan

Posted on November 5th 2019

Ika Natassa. (Kincir)

Penulis novel metropop Ika Natassa kayaknya lagi dapat banyak masalah akhir-akhir ini. Setelah berbalas twit dengan sutradara Joko Anwar karena "meremehkan" Tara Basro, sekarang penulis Critical Eleven itu kena serang warganet karena bersyukur. Lho kok?

Noah sempat menyebutkan ada satu kata dalam bahasa Jerman yang tidak diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Yaitu “schadenfreude” (baca: shadenfroide). Kata itu berasal dari bahasa Jerman. “Schaden” artinya kesialan atau petaka, sedangkan “freude” artinya kebahagiaan. Dijadikan satu, artinya kurang lebih “menemukan kesenangan/kebahagiaan dalam kesusahan atau kesengsaraan orang lain.”

Ketika diucapkan dalam lafal Jerman yang tegas, memang ada kesan ini kata yang kejam. Bahkan sadis. Noah sempat mengingatkan bahwa kita semua pada dasarnya “mengidap” schadenfreude.

Dia memberi contoh saat kita naik mobil. Jalur kita lancar mulus, sementara jalur sebelah macet total. Saat kita tersenyum melihat sengsaranya pengendara di sebelah, maka kita otomatis sudah merasakan schadenfreude. Dan schadenfreude ini ada tingkatan-tingkatannya. Dari yang sekadar senyum lihat macet, sampai yang memang sadis dan jahat.

Secara umum, mengalami atau merasakan schadenfreude itu normal. Masalahnya, kalau sampai bablas, maka itu bisa menjadi indikasi gangguan kejiwaan. Pada zaman media sosial seperti ini, kecenderungan schadenfreude semakin parah karena kita bisa mengakses berbagai macam informasi dengan gampang. Begitu juga dengan berpendapat. Kita sering melihat berita politisi dicokok KPK karena korupsi, dan bersyukur kita tidak di posisi itu. Melihat selebriti di TV kawin-cerai atau korban bully warganet, kita bersyukur karena nggak merasakan itu. 

Ceritanya guys, Mbak Ika lagi iseng mengingat-ingat orang yang pernah dia temui bertahun-tahun lalu. Kemudian membandingkan dengan dirinya. Dia banyak berubah, sementara orang yang dia temui masih menjalani keseharian yang sama. Maksud Mbak Ika sih, mau mengingatkan follower-nya untuk jangan lupa bersyukur. Masih banyak yang belum seberuntung kita.
 
 
Eits, tunggu dulu. Ini dia yang dipermasalahin sama warganet! Banyak warga Twitter yang menganggap Ika bersyukur atas kesusahan orang lain. Menganggap orang lain nggak sesukses dirinya itu jelek.
 
Komentar-komentar pedas pun membanjiri cuitan Mbak Ika itu. Tapi memang Ika tampaknya orang yang cukup tegar atau cuek, dia nggak menghapus twit itu sampai malam ini.
 
Ika malah menambahkan twit dengan permohonan maaf karena ternyata pesan yang berusaha dia sampaikan salah dimengerti banyak orang. "Hal terakhir yang aku inginkan adalah menyakiti hati orang lain, dan kadang maksud baik yang ada di kepala tidak tersampai dengan baik," tulisnya.
 
Meski demikian, reaksi warganet tetap nggak bisa dibendung. Ada beberapa akun yang bikin "cover" twit Ika Natassa itu. Ada yang memang nyinyir, ada yang sekadar guyon untuk meramaikan suasana aja.
 
 
Selain ada yang guyon, ada juga celetukan warganet yang nyerempet-nyerempet ke ilmiah. Beberapa orang menyebut Ika Natassa memiliki kecenderungan schadenfreude. Hmm... sepertinya menarik. Kira-kira apakah schadenfreude itu?
 
Soal yang satu ini, CEO sekaligus founder DBL Indonesia, Azrul Ananda pernah menuliskan pada blog pribadinya, happywednesday.id. Kala itu Azrul menulis soal “schadenfreude” (baca: shadenfroide) karena dia baru saja melihat live show acara stand up comedy dari Trevor Noah. 

Noah sempat menyebutkan ada satu kata dalam bahasa Jerman yang tidak diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Yaitu “schadenfreude” (baca: shadenfroide). Kata itu berasal dari bahasa Jerman. “Schaden” artinya kesialan atau petaka, sedangkan “freude” artinya kebahagiaan. Dijadikan satu, artinya kurang lebih “menemukan kesenangan/kebahagiaan dalam kesusahan atau kesengsaraan orang lain.”

Ketika diucapkan dalam lafal Jerman yang tegas, memang ada kesan ini kata yang kejam. Bahkan sadis. Noah sempat mengingatkan bahwa kita semua pada dasarnya “mengidap” schadenfreude.

Dia memberi contoh saat kita naik mobil. Jalur kita lancar mulus, sementara jalur sebelah macet total. Saat kita tersenyum melihat sengsaranya pengendara di sebelah, maka kita otomatis sudah merasakan schadenfreude. Dan schadenfreude ini ada tingkatan-tingkatannya. Dari yang sekadar senyum lihat macet, sampai yang memang sadis dan jahat.

Secara umum, mengalami atau merasakan schadenfreude itu normal. Masalahnya, kalau sampai bablas, maka itu bisa menjadi indikasi gangguan kejiwaan. Pada zaman media sosial seperti ini, kecenderungan schadenfreude semakin parah karena kita bisa mengakses berbagai macam informasi dengan gampang. Begitu juga dengan berpendapat. Kita sering melihat berita politisi dicokok KPK karena korupsi, dan bersyukur kita tidak di posisi itu. Melihat selebriti di TV kawin-cerai atau korban bully warganet, kita bersyukur karena nggak merasakan itu. 

 
Filsuf Arthur Schopenhauer, dikutip The Guardian, mendefinisikan kata itu sebagai "sebuah tanda yang sempurna dari hati yang buruk dan ketidakberhargaan moral yang mendalam". Beuh, susah amat. Intinya, menurut Arthur, schadenfreude itu adalah perlakuan paling buruk yang dilakukan manusia. Bukan cuma orang Jerman aja yang punya istilah itu. The Guardian merangkum setidaknya ada beberapa masyarakat yang juga punya konsep sama dengan schadenfreud dalam bahasa masing-masing.
 
 
Nah, kalau menurut kalian, yang dilakukan Ika Natassa itu bisa disebut schadenfreude atau nggak?(*)
Artikel Terkait
Current Issues
Kontroversi di Balik Drama Twitter Afi, Natalie, dan Alana yang Bikin Bingung

Current Issues
Belum Satu Bulan Diluncurkan, Blog Donald Trump Ditutup

Current Issues
Lagi Trending 'Mental BreadTalk' di Twitter, Apa sih itu?