Sport

Uston Nawawi dan Keberhasilannya Bawa Gen Z Persebaya jadi Juara

Shava

Posted on October 28th 2019


Persebaya U-20 Juara Liga 1 Elite Pro Academy U-20

Mereka, pemuda-pemuda dari Kota Pahlawan, Surabaya telah mengguncang Indonesia. Mereka menegaskan diri sebagai yang terbaik di Tanah Air dengan menjuarai Liga 1 Elite Pro Academy U-20. Mereka adalah tim Persebaya U-20.

Trofi juara diangkat di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali. Medio Oktober lalu. Ada banyak drama dalam laga final kontra Barito Putra itu. Selain harus bermain dengan sepuluh orang, dan sempat ketinggalan, Persebaya akhirnya menang lewat adu penalti.

Keberhasilan Persebaya U-20 tak lepas dari kejeniusan sang juru taktik, Uston Nawawi. Uston telah menangani tim ini sejak pertengahan musim lalu. Ia menggantikan Bejo Sugiantoro yang diangkat sebagai asisten pelatih di tim Persebaya senior.

Dalam sebuah wawancara dengan Mainmain.id beberapa waktu lalu, coach Uston bercerita banyak tentang timnya. Mulai dari persiapan tim pada awal musim, hingga berhasil menjadi yang terbaik di Indonesia.


Pelatih Persebaya U-20, Uston Nawawi (Official Persebaya)

Menangani anak-anak Gen Z, yang rata-rata usianya masih 19 tahun, bahkan 17 tahun, menjadi tantangan tersendiri untuk Uston. Kuncinya adalah komunikasi. Uston sering mengajak anak didiknya bertukar pendapat, dan berbicara dari hati ke hati.

Uston mengaku jika dirinya bukan pelatih yang galak. Ia adalah sosok yang friendly. Oleh sebab itu, di tengah gempuran, dan godaan di dunia maya, ia tidak melarang pemainnya untuk eksis di media sosial. Ia hanya meminta timnya disiplin.

“Salah satu kunci keberhasilan adalah disiplin. Disiplin harus dimulai dari diri sendiri. Mereka harus tahu kapan waktunya berlatih, kapan waktunya istirahat, dan kapan waktunya berselancar di media sosial.

“Saya tidak bisa mengawasi mereka selama 24 jam. Saya hanya memberikan rambu-rambu ke mereka. Saya menekankan ke pemain akan kesadaran masing-masing individu,” imbuh mantan pelatih PSIR Rembang itu.

Uston bersyukur karena tim Persebaya U-20 tahu batasan-batasan yang tidak boleh diterobos. “Kebanyakan anak-anak muda itu penurut. InsyaAllah mereka akan mengikuti apa yang saya instruksikan,” ungkapnya.

Sebagai mantan pemain yang mengantarkan Persebaya juara Liga Indonesia, Uston berusaha menanamkan nilai-nilai positif ke pasukannya. Satu di antaranya adalah menjadikan prestasi sebagai target, bukan materi.

Menurut Uston, anak didiknya harus berprestasi agar bisa menembus ke tim utama Persebaya. Oleh sebab itu, meski sudah menjuarai kompetisi Liga 1 U-20, pantang bagi pasukannya untuk berpuas diri.

“Mereka ini cikal bakal tim Persebaya senior. Kalau tidak dilatih dengan baik, Persebaya senior pula yang merugi. Sehingga tim senior banyak mengambil pemain dari luar Surabaya. Itu menjadi salah satu kerugian,” sebut Uston.

Keberhasilan menjuarai Liga 1 U-20 membuat Persebaya U-20 menjadi idola anyar bagi anak-anak muda Surabaya. Kepulangan mereka ke Surabaya disambut bak pahlawan perang. Mereka diarak oleh ribuan suporter Persebaya.

Nama Uston pun kian meroket. Apalagi ia sukses mengantarkan Persebaya sebagai juara semasa masih bermain, hingga kini menjadi pelatih. Kendali demikian, Uston tak bau berbesar kepala. Sebab, perjalananya sebagai pelatih muda baru saja di mulai.

“Saya akan terus belajar, dan terus memperbaiki diri. Sebab ini masih awal karier saya. Masih belum apa-apa,” sebut pemegang lisensi kepelatihan A AFC itu.

 
Related Articles
Sport
Musim Berakhir, ini Peraih Penghargaan Shopee Liga 1 2019

Sport
Liga 1 dan Liga 2 Resmi Ditunda Hingga 29 Mei

Sport
Segera Moncer atau Out