Current Issues

Mendaras Puisi Bersama Undisputed Poetry

Surya Dipa Nusantara

Posted on October 15th 2019

Di sebuah perpustakaan di tengah jantung kota Surabaya, sebuah perhelatan yang diinisaisi secara kolektif, Undisputed Poetry digelar. Konsepnya adalah, siapa saja boleh membaca puisi. Tak ada syarat yang mengekang. Satu-satunya aturan yang ada adalah, tiap peserta harus membaca puisinya sendiri.

Temanya pun beragam. Ada yang membahas narasi besar seperti gerakan massa aksi, prihati terhadap kekerasan, dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dan seputar isu nasional. Namun, ada juga yang membangun puisinya lewat kisah-kisah personal yang sederhana dan apa adanya. 

Tapi konten puisi adalah urusan kedua bagi mereka. Yang terpenting dari perhelatan ini adalah tersedianya ruang aman bagi siapa saja untuk mengutarakan keluh kesah dan persepektifnya. Hal ini, adalah salah satu cara untuk jujur kepada diri sendiri. Sekaligus, ini adalah salah satu cara untuk memelihara kesehatan mental.

“Nah soal penulisan, setiap pembaca puisi di Undisputed harus membawakan karya tulisannya sendiri. Kami ingin membangun rasa percaya diri tersebut dari awalan huruf yang tercipta sampai kata terakhir yang di ucap. Sejauh ini pemilihan judul open mic memang lebih ke personal thought,” ujar Michael Richard, inisiator dari gerakan ini.

Richard berangapan, seluruh manusia sudah sepatutnya berhak dan layak untuk menulis puisi. Baginya, puisi dapat diciptakan oleh siapa saja, untuk siapa saja, tanpa ada batas. Namun, beberapa abad ke belakang, ia mengangap bahwa puisi seolah terisolir. Lewat metode open mic di programnya ini, ia berharap meletakan posisi puisi seperti semula. Cair dan lunak.

Mimpi yang ia sulam lewat program ini adalah, menjadi Undisputed Poetry sebagai ruang aman dan nyaman bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat, ide-ide, atau bahkan ruang sambat. Hal itu diamini oleh salah satu peserta Undisputed Poetry.

Ia adalah Yosua Pereira. Baginya, mengikuti program ini adalah sebuah bentuk katarsis. Baginya, setelah menulis puisi dan spoken word dihadapan publik membuatnya lebih enteng. Karena, seolah kemarahan, kesedihan, dan kekhawatiran yang seringkali menerpa psikisnya dapat dilepaskan.

Yosua, adalah seorang kawan yang mengidap anxiety. Gejalanya adalah, ia kerap diserang panic attack dan kecemasan yang berlebihan. Namun, salah satu cara ia memelihara kesehatan mentalnya adalah lewat puisi. Entah menulis atau membacakannya.

“Ketika aku ikut program ini, kebanyakan mengatakan bahwa memang puisi adalah salah satu cara untuk menjaga kewarasan kita," katanya. Apalagi isu-isu yang dibawakan dalam acara itu beragam. Ada yang personal, ada juga yang merespon isu besar, seperti sosial. "Menurutku pribadi sih, membaca atau menulis puisi di depan banyak orang sangat membantuku dan bagi ini adalah proses penyembuhan mental aku sendiri,” ujar Yosua.

Program open mic ini sebenarnya bukan barang baru. Di Indonesia, ada beberapa perhelatan yang memang memberikan ruang bagi siapa saja untuk membacakan puisi mereka. Seperti di Jakarta, ada Paviliun Puisi dan Unmasked Poetry. Gagasan mereka hampir sama, mengembalikan puisi agar bisa dibaca dan dinikmati oleh siapa saja.

Nah, semakin menjamurnya forum seperti ini juga memberi angin segar bagi mereka yang ingin melatih percaya diri. Sekaligus, ini adalah ruang untuk kita agar berani coming out dan mengeluarkan segala uneg-uneg yang selama ini menghantui hidup kita.

“Salah satu yang menyenangkan dari open mic ini ada kegiatan yang tidak terduga. Banyak bertemu orang-orang baru, dan kita bisa berbagi cerita. Menurutku itu sangat menyenangkan banget,” imbuh Yosua.

Bagi kalian yang penasaran dengan program Undisputed Poetry, bisa cek kegiatan mereka di akun instagram resminya.

 

Related Articles
Entertainment
3 Penulis Nusantara Yang Mencuri Perhatian Sastra Dunia

Current Issues
Varian Virus Corona Baru Kepung AS, Lebih Banyak Anak Muda Dirawat

Current Issues
Anak Muda Penyintas Covid-19 Belum Tentu Terlindungi Dari Infeksi Kedua