Current Issues

Cassette Store Day: Mengapa Beli Rilisan Fisik itu Penting?

Surya Dipa Nusantara

Posted on October 14th 2019

Dalam satu tahun, ada dua hari raya bagi kolektor rilisan fisik. Yang pertama, adalah Records Store Day. Dan yang terbaru adalah, Cassette Store Day. Tak seperti Records Store Day, lebaran bagi pecinta kaset di seluruh dunia ini baru diinisiasi pada tahun 2013.

Gerakan ini dimulai di Inggris. Kemudian merebak luas ke seluruh antero dunia. Salah satu yang tak pernah absen adalah Indonesia. Kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Makassar dan Medan juga selalu turut berpartisipasi merayakannya.

Antrian padat mengular pun menjadi pemandangan yang lazim di momen ini. Karena, beberapa musisi secara khusus merilis album secara terbatas, dalam format kaset pita hanya di hari ini. Salah satunya adalah Jimmy Jazz. Band yang dibangung berdasarkan fragmen-fragmen band beken Jakarta itu merilis sebuah mini album di perhelatan Cassette Store Day.

Band yang digawangi oleh Jimmy Multazam (Morfem, The Upstair) itu, merilis debut album pertama mereka yang bertajuk Kebisingan Pancaroba Yang Merongrong. Selain itu, ada beberapa band nama lain seperti Monkey to Millionare, Harlan Broer dan Bangkutaman, serta banyak lainnya

“Ini adalah impian saya sejak lama. Di awal-awal saya bermusik, saat CD belum populer, maka kaset adalah opsi utama. Bagi saya ini adalah impian, sekaligus pancaroba yang harus terselesaikan,” ujar Jimmy.

Meskipun layanan streaming digital seperti Spotify, Bandcamp, iTunes, dan sebagainya tengah menjamur, rilisan fisik masih ada yang memburunya. Meskipun penjualannya kian merosot saban tahunnya, salah satu penopang perekonomian musisi adalah penjualan rilisan fisik.

“Karena, untung menjual 10 kaset tape, akan lebih besar daripada lagu kita diputar 10.000 kali di Spotify. Hal itulah yang membuat rilisan fisik ini sangat berarti dan penting bagi karir seorang musisi. Di [tempat] saya, selalu ada peningkatan cetakan kaset setiap tahunnya. Selalu ada label baru, band baru, dan di sana ada semangat baru,” ujar Purwanto Atmodjo, pemilik label Darkpath, sebuah label kaliber internasional sekaligus jasa pressing kaset pita.

Pernyataan yang diucapkan oleh Pur -sapaan Purwanto Atmodjo- cukup masuk akal. Berdasarkan kesepakatan Spotify, mereka hanya membayar USD 0,0050 kepada musisi jika lagu mereka diputar satu kali. Sementara, untuk satu kaset tape, mereka dapat mengantongi keuntungan Rp 50 ribu secara utuh. Jadi, satu musisi minimal harus diputar 10 juta kali untuk mendapatkan Rp. 50 ribu rupiah. Kenyataan ini memang getir dan tak sesuai dengan bayangan kita.

Nah tentu saja, jika sebuah band tak memiliki pendapatan yang sepadan, lambat laun mereka akan bubar dengan sendirinya. Hal itu, tentu saja akan membuat kita sedih.

Nah, agar kejadian naas itu tak berimbas pada kawan-kawan musisi kita, yuk mulai sekarang biasain dukung mereka dengan membeli rilisan fisiknya. Untuk kalian yang di Surabaya, Cassette Store Day akan digelar di Aiola Eatery pada 18-19 Oktober nanti. Jangan lupa bawa uang lebih. Karena, akan ada lebih dari 20 records store yang akan hadir dan siap menggoda iman tabungan kalian. Sampai jumpa!

Related Articles
Current Issues
Kenapa sih Rindu Itu Berat?

Current Issues
Gedung Putih Gandeng Twitter, Facebook dan Snapchat Kampanyekan Vaksinasi di AS

Current Issues
Siswa Kembali ke Sekolah, Bagaimana Sekolah Memenuhi Kebutuhan Mereka?