Current Issues

Profesor 97 Tahun ini Sedang Tidur Saat Namanya Disebut Dapat Nobel

Delya Oktovie Apsari

Posted on October 11th 2019

source: The University of Texas, Austin

John B. Goodenough, 97 sama sekali tidak kepikiran dia bisa jadi peraih penghargaan Nobel. Ia justru sedang tidur ketika namanya diumumkan sebagai pemenang Nobel, Rabu (9/10).

Dilansir dari The Guardian, Goodenough sama sekali tidak tahu ia juga bakal menerima penghargaan Nobel Kimia, lewat penemuannya bersama kedua rekannya, M. Stanley Whittingham, 77 dan Akira Yoshino, 71.

Saat pengumuman itu ia malah enak-enakan tidur di kamarnya. Untungnya, Goodenough dibangunkan partnernya sesama peneliti, Maria Helena Braga. Dia juga seorang profesor dari Porto University.

"Saya langsung masuk ke kamarnya sambil berteriak, bangun, bangun, kamu menang penghargaan Nobel," kata Braga. Saking antusiasnya, Braga sampai harus 20 kali menunjukkan kabar gembira itu ke partnernya. "Karena ia (Goodenough) awalnya juga tidak percaya," lanjut Braga.

Akhirnya, pada Rabu siang, Goodenough menghadiri konferensi pers. Dalam kesempatan itu ia mengatakan bahwa Nobel sama sekali bukan penghargaan yang diharapkan. Tapi ia mengaku sangat bahagia. Dia merasa kehidupan memang penuh dengan kejutan.

Sambil bercanda, Goodenough juga mengatakan kalau di usianya saat ini penghargaan tidak memberi perbedaan signifikan. "Saya tidak menyesal tidak meraih kekayaan dari penemuan yang punya andil besar dalam revolusi elektronik portable. Saya tidak terlalu peduli dengan uang," tuturnya.

Goodenough, mengatakan ia sebelumnya tidak begitu sadar dampak apa yang bisa didapat lewat penelitiannya di bidang baterai. "Saat kami mengembangkan baterai, itu hanya sesuatu yang ingin kami lakukan. Saya tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh insinyur listrik dengan baterai tersebut. Saya benar-benar tidak membayangkan baterai tersebut bisa digunakan untuk ponsel, perekam video, dan lain-lain," ujarnya.

Goodenough, Whittingham dan Yoshino berhasil meraih penghargaan Nobel di bidang kimia, karena sukses mengembangkan baterai ion lithium.

Baterai ion lithium sebenarnya bukan hal baru di kehidupan kita. Tetapi, ketiga ilmuwan tersebut berhasil mengembangkannya menjadi baterai yang lebih kuat, ringan, dan bisa diisi ulang. Sehingga, ia bisa digunakan di hampir semua ponsel pintar, laptop, sampai jutaan jenis kamera. Mereka pun mendapat penghargaan Nobel dari The Royal Swedish Academy of Sciences.

Source: The Guardian 

The New York Times menulis, penemuan ketiga ilmuwan ini dapat membantu manusia supaya tidak terlalu bergantung pada bahan bakar fosil. Kalau kita bisa mengurangi ketergantungan kita pada bahan bakar fosil, akan sangat membantu mengurangi dampak dari perubahan iklim.

Whittingham menyebut, ia selalu berharap teknologi ion lithium akan berkembang. "Tapi kami tak pernah mengira perkembangannya akan sejauh ini. Kami tidak pernah membayangkan itu menjadi sesuatu yang bisa ditemukan di hal-hal yang biasa digunakan, seperti iPhone," kata profesor Binghamton University tersebut.

Sedangkan Yoshino mengatakan, setelah diumumkan bahwa mereka meraih Novel, ia sangat senang karena ternyata, teknologi juga bisa membantu melawan perubahan iklim. Profesor Meijo University ini pun menyebut baterai ion lithium cocok untuk masyarakat yang berkelanjutan.

 

 
Artikel Terkait
Current Issues
Selain Darurat Listrik, Dunia Bakal Hadapi Krisis Mineral Akibat Baterai EV

Current Issues
Nominasi Nobel Perdamaian Mulai Dirilis, Ini Nama-Nama yang Masuk Daftar

Lifestyle
8 Cara Agar Baterai HP Androidmu Tahan Lama Selama Karantina