Entertainment

Fear Inoculum, Penantian 13 Tahun yang Berujung Puncak Billboard  

Surya Dipa Nusantara

Posted on October 9th 2019

PASCA merilis 10.000 days tiga belas tahun lalu, grup band Tool memutuskan hiatus. Sebagai persembahan terakhir untuk fansnya, album studio ke-4 mereka itu memang tak cukup memuaskan. Apalagi, kritikus musik justru banyak yang mengatakan bahwa Lateralus (2001) masih tetap menjadi mahakarya dari band asal Los Angeles, Amerika Serikat, itu.

Namun, band yang telah terbentuk sejak tahun 1990 ini kembali di gelanggang musik dunia dengan album barunya yang berjudul Fear Inocolum. Salah satu judul single-nya sama dengan judul album tersebut. Saat lagu berdurasi 10 menit lebih itu dilepas, para fans mereka yang telah menunggu selama 13 tahun dengan tabah, merayakannya dengan gegap gempita.

Sebelum adanya rilis album baru itu, para fans kerap berpikir bahwa kegilaan Tool telah berakhir. Ada yang menganggap Tool terlalu tua untuk bereksplorasi menemukan bebunyian baru. Beat progresif mereka tak se-eksploitatif dua album penuh awal.

Tapi anggapan itu semua sirna setelah album Fear Inoculum diluncurkan. Di hari pertama Fear Inoculum dirilis, 270 ribu keping CD ludes dalam sekejap. Sebanyak 88 ribu di antarnya versi reguler. Sementara sisanya adalah edisi super deluxe, yang dijual seharga USD 45. Di dalam album super deluxe itu tersemat sebuah video penampilan eksklusif mereka dalam format HD.

Tool berhasil menasbihkan diri bahwa penantian 13 tahun bukanlah hal yang percuma belaka. Apalagi, Fear Inoculum berhasil mengeser album teranyar Taylor Swift, Lover, dari tampuk tahta Billboard.

Sekaligus ini adalah hal baru dalam sejarah: penjualan album fisik berbanding lurus dengan penjualan album digital.

Rupanya, strategi mereka yang bersikeras menolak memacak album mereka di kanal musik daring, berbuah hasil. Fear Inoculum memang baru hadir di Spotify, iTunes, dan Deezer di akhir bulan Agustus lalu.

"Ada hal baru yang kami pikir akan kamu gali. Ini disebut dengan digital download dan streaming. Bersiaplah untuk masa depan, kawan!” ujar Maynard James, sang vokalis dalam sebuah wawancara dengan New York Times.

Selama ini Tool memang menolak mendistribusikan album-albumnya di platform musik daring. Saat The Beatles dan AC/DC merayakan kemajuan zaman dengan menebar albumnya di berbagai kanal streaming online seperti Spotify, Deezer, dan iTunes, Tool masih percaya bahwa fans sejati mereka hanya akan mendengar album mereka lewat rilisan fisik.

Memang ini terdengar aneh. Namun, Maynard James merasa bahwa album mereka tak sepatutnya didengar secara random. Ia juga tak akan membiarkan seseorang atau bahkan label, mengacak-acak isi album mereka dengan merangkum lagu mereka dalam sebuah greatest hits.

Tool adalah band yang keras kepala, namun setidaknya ia konsisten dengan pola bermusiknya. Tak seperti band-band reuni kebanyakan, Tool hadir dengan konsep musik yang anyar, segar, relevan, dan tidak membosankan.()

 

Related Articles
Entertainment
[REVIEW] Thanos Jadi Idola, Ada Apa dengan Avengers?

Entertainment
Tayang Tahun Depan, Inilah Fakta The Eternals Film Fase 4 Marvel!

Entertainment
Noah Centineo Kembali di “The Perfect Date”!

Meet The Creator



Mainmain.id

Quote Of The Day

NGEJAR DISKON DIBELA-BELAIN BEGADANG SAMPAI PAGI, GILIRAN NGEJAR SI DOI SAMPE DEPAN GANG UDAH PUTER BALIK LAGI