Interest

Love-Hate Relationship Antar Pembuat Game dan Hollywood

Drian Bintang

Posted on September 22nd 2019

 

INDUSTRI game yang ada di Hollywood saat ini berada di era 4.0. Ada banyak yang dilewati oleh para kreator game yang membutuhkan lisensi dari Hollywood di luar sana. Saat ini, industri game memang menjadi ladang mendulang uang yang cukup menggiurkan di Hollywood. Selain pembuatan film. Sayangnya, ini tidak ditunjang dengan support yang cukup dari perusahaan pemilik lisensi di Hollywood.

Ada banyak pemegang lisensi yang ada di Hollywood saat ini. Ambil saja salah satunya adalah NBCuniversal. Studio ini, merupakan rumah dari beberapa series ternama yang sering kalian lihat. Seperti Byooklyn Nine-nine, American Got Talent, Saturday Night Live, dan lain-lain.

Nah, baru-baru ini, NBC mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan divisi pembuatan game mereka. NBC memutuskan untuk beralih ke dalam pemberian lisensi terhadap developer dan publisher yang hendak membuat game dari tayangannya.

Perubahan yang drastis ini terjadi karena banyak studio di Hollywood yang menganggap pemberian lisensi akan mendatangkan untung yang lebih besar. Jika dibandingkan dengan mereka yang memproduksi game sendiri. Tentu saja mereka tidak akan peduli jika game yang diproduksi itu tidak banyak yang mengunduh. Karena, uang royalti dari pembuatan game tersebut pun akan tetap jalan.  

Fenomena ini ini sebenarnya terjadi karena makin masifnya jumlah developer pembuat game. Ditambah developer game-game besar seperti Blizzard, DeNa, Electronic Arts (EA) terus berlomba membuat game dari beberapa tokoh film yang sudah familiar di masyarakat. Apalagi jika game yang mereka produksi, dirilis tidak jauh dari filmnya yang masih berada di layar lebar.

Sayangnya, keuntungan yang diperoleh dari beberapa studio Hollywod itu tidak sesuai dengan kontribusi mereka kepada para developer. Semakin bertambahnya tahun, Hollywood justru tidak membuat para produsen pembuat game ini nyaman atas lisensi yang mereka bayar.

Salah satu pegiat industri pembuatan game, Barry Dorf menjelaskan bagaimana dia telah berkutat di dunia perlisensian semenjak memasuki era 1.0. Di mana beberapa studio di Hollywood pertama kali kepikiran menjual lisensi film mereka.

Ambil saja Herry Potter. ”Dulu, ketika mendapatkan lisensi Harry Potter kami tidak hanya berbicara untuk pembuatan gamenya saja di setiap peluncuran bukunya. Tapi juga membicarakan, bagaimana permainan tersebut masih relevan dalam 10 hingga 15 tahun mendatang,” ucap Business Development for Amazon Game Services itu seperti dikutip dari Venturebeat.

 

Sekarang, para developer tidak bisa seleluasa itu, kata Barry. Dia mencontohkan ketika para developer ingin membeli lisensi dari Disney Studio misalnya. Untuk membuat game dengan menggunakan karakter dari Marvel atau StarWars, pihak Disney akan memperhitungkan detil dari game apa yang akan mereka produksi. Mulai dari soal storyline sampai gameplay-nya.

”Kalau fungsionalitasnya meragukan, gameplay-nya tidak meyakinkan, sudah pasti mereka (studio di Holywood) tidak akan mau berbicara dengan kalian. Tidak peduli sebesar apa perusahaan developer kita,” jelasnya.

Masalah tidak selesai sampai di situ saja. Sekali pun Barry, misalnya, mendapatkan lisensi yang dia inginkan dari Marvel dan StarWars. Pihak studio yang memegang lisensi tersebut pun akan memberi dia tenggat waktu untuk menyelesaikan game yang dimaksud. Ada pemberian jeda selama 4 minggu, dari pengajuan lisensi, hingga rilis game.

Jika itu tidak terpenuhi, pihak studio tidak akan ragu untuk mempersilahkan developer lainnya (yang memiliki lisensi yang sama) untuk segera meluncurkan game buatan mereka. ”Kalau Harry Potter dulu tidak. Sekali lisensi, tidak akan ada game-game lain yang menggunakan karakter Harry Potter selama berbulan-bulan,” jawabnya.

Itulah dilema beberapa developer game saat ini. Ketika mereka ingin memproduksi permainan berdasarkan film yang lagi hits saat ini. Persoalan ini menjadi masalah besar oleh kreator game di luar sana. Mengingat, keuntungan dalam menjual lisensi film saja, saat ini sudah tembus di angka USD 180 Miliar. Para developer berharap pemilik lisensi tak membuat kebijakan yang menyusahkan para kreator game.

Related Articles
Entertainment
Pertahankan Pasar di Tiongkok, Hollywood Kerap Sensor Filmnya

Entertainment
Daftar Tayang Terbaru Film Marvel Phase 4 yang Tertunda Karena Covid-19

Interest
Tahun Depan Marvel Bakal Bikin Komik Ultraman