Interest

Awas! Jangan Sampai Hal Ini Menimpa Kalian Saat Naik Pesawat

Ridho

Posted on July 15th 2019

KALIAN pasti pernah naik pesawat. Tapi mungkin di antara kalian tak banyak yang tahu, bahwa beberapa maskapai punya aturan khusus terkait penggunaan pakaian. Jadi, jangan sampai kalian mengalami peristiwa seperti kisah dr Tisha Rowe berikut ini.

Ceritanya, dr Rowe melakukan perjalanan dari Jamaika menuju Amerika Serikat. Dia naik pesawat American Airlines. Saat masuk pesawat, tiba-tiba seorang pramugari mendatanginya. Pramugari itu bilang, dr Rowe tak boleh naik pesawat dengan pakaian seperti itu.

Saat itu dr Rowe menggunakan tank top. Dia merasa tak ada yang aneh dengan pakaiannya itu. Rowe pun protes dong pada si pramugari. Tak lama berselang pramugara pun datang. Berupaya menjelaskan pada dr Rowe. Tapi dr Rowe tetap ngotot.

Akhirnya si pramugara menawarkan jalan tengah. Dia memberikan selimut yang biasa ada di pesawat. Agar selimut itu dipakai untuk menutupi pakaian dr Rowe sepanjang perjalanan. Dr Rowe tetap geram. Setelah mendarat, dia menumpahkan keluh kesah lewat akun Twitternya.

“Aku, seperti, terus menunduk sepanjang waktu. Aku tidak ingin melihat wajah siapa pun. Aku malu. Aku dipermalukan. Aku bahkan tidak ingin melihat satu penumpang pun,” ujar perempuan berusia 37 tahun itu.

Dr Rowe pun menganggap ada diskriminasi. Menurutnya, larangan menggunakan pakaian terbuka seperti itu mungkin tak bakal diterapkan pada orang kulit putih. Dr Rowe ngotot tak ada yang salah dengan pakaiannya. Sebab waktu itu memang musim panas. Katanya, di luaran sana juga banyak orang berpakaian terbuka dan minim.

Cuitan dr Rowe pun viral dalam waktu singkat. Banyak netizen yang memberikan komentar positif. Mereka menganggap pakaian yang digunakan dr Rowe masih dalam tahap wajar. Apalagi memang sedang musim panas.

Pihak American Airlines pun langsung merespon. Selasa lalu, maskapai itu meminta maaf dan mengembalikan uang tiket pada dr Rowe. “Kami bangga melayani pelanggan dari semua latar belakang. Dan berkomitmen untuk memberikan pengalaman perjalanan yang positif dan aman bagi semua orang yang terbang bersama kami,” begitu bunyi pernyataan perusahaan penerbangan asal Amerika itu.

Tapi salahkah teguran yang disampaikan pramugari dan pramugara American Airlines itu? Sebenarnya tidak. Sebab, beberapa maskapai memang punya aturan terkait penggunaan pakaian di dalam pesawat. Termasuk American Airlines.

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan melalui catatan pribadinya di DI’s Way juga membahas soal hal ini (baca: Dokter Rowe). Mainmain.id juga menelusuri ada tidaknya aturan tentang pakaian itu di American Airlines. Eits, ternyata memang ada. Tertulis di website mereka. Di sana tertulis “Dress appropriately; bare feet or offensive clothing aren’t allowed”.

Memang di pasal itu hanya bunyi tentang nyeker alias tanpa alas kaki yang bisa dimaknai dengan jelas. Sedangkan soal pakaian masih multi tafsir. Menurut DI’s Way, maskapai United Airlines lebih rinci menerapkan larangan terkait pakaian. “Penumpang tidak boleh hanya mengenakan celana pendek lycra (yang tipis lengket di kulit itu) atau legging”.

Nah, bagaimana dengan di Indonesia? Pengamat penerbangan yang juga anggota Ombudsman RI Alvien Lie mengatakan, aturan seperti itu merupakan diskresi maskapai. “Kalau di Indonesia aturan yang dibuat pemerintah sepertinya tidak ada. Setahu saya maskapai di Indonesia juga tidak ada yang membuat diskresi seperti itu,” ujar Alvin pada mainmain.id

Meskipun begitu kalian tetap harus hati-hati. Sebab, dalam UU No 1/2009 tentang Penerbangan ada banyak aturan terkait larangan di dalam pesawat. Yang beberapa di antaranya jika dikaitkan dengan penggunaan pakaian tetap bisa. Misalnya larangan yang berbunyi: “Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan dilarang melakukan: perbuatan yang mengganggu ketentraman”.

“Mungkin aturan itu bisa dikaitkan dengan penggunaan pakaian,” kata Alvin. Menurut dia, maskapai-maskapai di Eropa dan Amerika memang ketat. Tak hanya terkait pakaian minim, bau badan pun bisa dijadikan alasan menolak penumpang.

Apa yang dikatakan Alvin benar. Dari penelusuran mainmain.id, di Indonesia pernah terjadi kasus penolakan penumpang pesawat. Kejadianya berlangsung pada 2018. Saat itu seorang bocah penderita tumor mata hendak pulang ke kampung halamannya Deli Serdang, Sumatera Utara. Namanya Piki Ananda.

Saat itu Piki sedang check in di bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Tapi dia ditolak keberangkatannya oleh maskapai penerbangan Batik Air. Alasannya pihak maskapai tak ingin penumpang lain terganggu dengan bau dari penyakit yang diderita Piki.

Sebelum check in, Piki sudah meminta surat rekomendasi kepada dokter umum untuk bisa melakukan penerbangan. Dibantu Yuni, seorang relawan, Piki sampai menemui dokter unit kesehatan bandara. Akan tetapi hasil dari dokter dan pihak Batik Air berbeda. Akibatnya bocah itu tetap tak diperbolehkan melakukan penerbangan.

“Pihak Batik Air tak mau penyakit Piki ini mengganggu penumpang lain. Saya juga di sana minta (rekomendasi) dari dokter karantina dan katanya laik terbang,” ujar Yuni.

Setelah proses yang rumit. Piki dan Yuni memutuskan untuk pindah ke maskapai penerbangan lain. Sempat khawatir tak mendapat izin lagi. Akhirnya mereka bisa pulang ke kampung halaman menggunakan maskapai Garuda Indonesia.()

  

Related Articles
Interest
Hangatnya Yogya dalam Sajian Angkringan

Interest
Lihat Batu, Tetap Eksis, Sambil Belajar

Interest
Night Market di Taiwan: Harga Selangit Yang Nggak Bisa Ditawar

Meet The Creator



Drian Bintang

Quote Of The Day

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda