Interest

Selamat Datang Di "Post Truth Era"

Yang Kau Tawarkan Hanya Ucapan Miskin Pemikiran

Ridho

Posted on April 24th 2019

Banyak berita bohong yang berkeliaran disekitar kita. Banyak juga opini yang berlawanan dengan fakta. Lalu mengapa kita merasa sulit mendapat sebuah informasi tentang kebenaran?

Yap, selamat kita masuk kedalam post truth era. Menurut kamus Oxford. Situasi ini terjadi dimana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan fakta-fakta yang obyektif.

Kalo lebih simpelnya lagi. Post truth era ini bisa dibilang sebagai hoax yang diciptakan dan dikemas sedemikian rupa sehingga bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat awam. Jadi dengan kata lain, adanya data, fakta, konsep yang sudah ada menjadi tidak penting lagi.

Kata post truth era ini sendiri booming ditahun 2000-an. Salah satunya adalah buku karya Ralph Keyes yang berjudul “The Post Truth Era”. Bahkan ditahun 2016, kamus Oxford menasbihkan kata “post truth” sebagai “kata tahun ini”.

Lalu mengapa bisa muncul istilah itu? Dilansir dari Geotimes, permasalahan ini muncul karena beberapa kecenderungan. Pertama, orang ingin bisa lebih didengar lewat opininya. Kedua, munculnya rasa ingin mendapat sebuah pengakuan sosial. Ketiga, ingin menjadi bagian dari mayoritas.

Namun, persoalan utama muncul pada post truth era ini. Kebohongan yang banal semakin merasuk dan bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat. Penyebaran kebohongan ini dijadikan bahan untuk mempengaruhi persepsi masyarakat.

Artinya, sesuatu yang dianggap dapat menggerakkan emosi publik, sesuatu itu dapat dianggap sebagai kebenaran akan mudah diterima. Tidak peduli lagi dari mana informasi itu berasal. Atau sesuai dengan fakta/tidak.

Semakin berkembang dan meluasnya akses terhadap informasi, maka opini akan selalu bermunculan. Masyarakat dapat memproduksi informasi sendiri dengan berbagai media. Ketika media sosial semakin masif digunakan untuk mengirim pesan yang mengedepankan opini ketimbang fakta. Maka akan punya dampak buruk bagi nalar masyarakat.

Contohnya sih udah jelas saat Pemilu 2019 lalu. Banyak pihak yang mengganggap banyak terajadi kecurangan. Mulai dari surat suara yang sudah dicoblos, atau bahkan pemalsuan data. Tapi ingat sekali lagi, ketika nggak ada data yang bener-bener valid. Maka jangan percaya.

Sekarang pilihan ada ditangan kalian. Apakah masih mau menerima informasi yang belum tentu kebenarannya. Atau kalian akan lebih kritis lagi terhadap informasi yang kalian terima.

Related Articles
Pop-Sci
Suka Berbohong? Hati-Hati, Psikologimu Gangguan!

Interest
Android Q, Senjata Baru Google Tuk Lawan Pesaing

Interest
Happy Air Max Day!

Meet The Creator



DBL Indonesia

Quote Of The Day

NGEJAR DISKON DIBELA-BELAIN BEGADANG SAMPAI PAGI, GILIRAN NGEJAR SI DOI SAMPE DEPAN GANG UDAH PUTER BALIK LAGI