Pop-Sci

Bullying Karena Ikut-ikutan Teman

Fenomena Konformitas, Tren Ikut-ikutan yang Kerap Terjadi pada Remaja

Afrieza Zaqi

Posted on April 11th 2019

 

Kasus Audrey seolah menjadi tamparan keras tentang betapa beringasnya bullying di Indonesia. Audrey (14), siswa SMP di Pontianak menjadi korban bullying dengan kekerasan oleh 12 siswa SMA. Mirisnya lagi, setelah melakukan bullying, para pelaku dengan santai dan tak bersalah pamer ke sosial media dan sempat ber-boomerang ketika menunggu proses penyelidikan di kantor polisi.

Tak hanya kasus Audrey, Pada 14 Juli 2018 lalu, beredar sebuah video bullying yang melibatkan sejumlah anak SMP yang diduga berlokasi di Thamrin City. Dalam video tersebut terlihat jelas aksi kekerasan yang brutal dilakukan oleh sekelompok remaja tediri dari perempuan dan laki-laki.

Mereka tampak menganiaya seorang remaja perempuan hingga mengalami luka parah. Setelah ditelusuri, pelaku disinyalir terdiri dari sembilan orang dari sekolah berbeda yakni, dua SMP dan empat SD yang ada di sekitar Tanah Abang. Semuanya merupakan teman sepermainan dan telah membentuk sebuah geng bernama Brother of Santay (BOS).

Dari dua kejadian tersebut, ada fenomena psikologi yang terjadi dimana ketika seseorang mendapatkan dukungan lebih dari satu orang akan lebih berani melakukan sesuatu dibandingkan sendiri. Bahkan meskipun tau bahwa hal tersebut salah, pelaku akan merasa benar karena “dibantu” oleh teman-teman yang berada di sekitarnya.

Menurut psikolog, Ike Herdiana, M.Psi.,Psikolog fenomena konformitas atau ikut-ikutan ini adalah hal yang sering terjadi di kalangan remaja. Pada usia remaja, anak anak memiliki orientasi teman sebaya yang sangat kuat. Mereka akan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai kelompok. Tujuannya agar mereka bisa diterima oleh kelompok.

 “Anak remaja takut kalau dia tidak punya kelompok. Untuk bisa diterima kelompok, salah satunya harus ikut aturan dan nilai-nilai yg ada dalam kelompok. Oleh sebab itu mereka seolah tak peduli, apakah itu baik atau buruk,” ujar dosen departemen psikologi kepribadian dan sosial, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya.

Pada anak-anak remaja yang punya pendirian, konsep diri yang positif, percaya diri dan tangguh, mereka akan selektif dalam memilih kelompok. Kalau kelompok itu tidak mengakomodir kebutuhan dirinya untuk jadi individu yang lebih baik, maka dia tidak mau bergabung.

Sebaliknya pada anak yang kurang percaya diri, konsep diri negatif dan memiliki kerentanan yang tinggi, kemungkinan ia kurang selektif dalam memilih kelompok. Sehingga tidak lagi melihat apakah geng-nya ini akan membawa dia pada kebaikan atau tidak.

“Masa remaja itu masa transisi. Dibilang anak-anak sudah lewat, dibilang orang dewasa juga belum. Sehingga tidak semua permasalahan baik pribadi maupun kelompok bisa diselesaikan sendiri. Mereka masih membutuhkan arahan dan bimbingan dari orang dewasa,” tambahnya.

Namun, hal ini juga tidak selalu buruk. Pasalnya, fenomena konformitas juga bisa menjadi support sistem yang sangat positif bagi remaja. Apalagi dalam anggota kelompok tersebut sangat produktif dalam berkarya atau menghasilkan hal yang positif.

Ike pun berpesan bahwa anak remaja harus kritis, percaya diri, dan punya konsep diri yang positif. Kalau dalam kelompok sudah ada penyimpangan, mereka wajib saling mengingatkan. Kalau perlu tetap terbuka pada orangtua, guru atau orang dewasa lain yang signifikan jika terjadi permasalahan dalam kelompok yang tdk bisa diselesaikan.

Related Articles
Pop-Sci
Percayalah, Bullying Itu Penyakit!

Pop-Sci
Kenapa sih Rindu Itu Berat?

Pop-Sci
Ini Alasan Kenapa Kopi selalu Identik dengan Anak Indie

Meet The Creator



Mainmain.id

Quote Of The Day

NGEJAR DISKON DIBELA-BELAIN BEGADANG SAMPAI PAGI, GILIRAN NGEJAR SI DOI SAMPE DEPAN GANG UDAH PUTER BALIK LAGI