Current Issues

Gerhana, Colombus, dan Bulan Berdarah

Hening Swastika

Posted on July 27th 2018

Hore! Sabtu dini hari ini (28/7), tepatnya pada pukul 02.30 WIB, Indonesia dan hampir seluruh bagian dunia bakal menyaksikan fenomena gerhana bulan total. Untuk kali kedua pada tahun ini, peristiwa gerhana bulan itu disebut-sebut akan menampilkan fenomena ‘blood moon’, atau momen dimana bulan menjadi kemerahan. 

Belakangan, istilah blood moon memang begitu terdengar saat ear-catchy dan menarik perhatian. Seolah-olah tengah ada kejadian aneh yang mengerikan dan berdampak aneh-aneh! Hiii.... Padahal, kita aja yang nggak ngeh kalau di setiap gerhana bulan peristiwa ini nyaris selalu terjadi. 

Iya, blood moon adalah hal biasa yang terjadi karena peristiwa refraksi cahaya. Saat itu, cahaya matahari yang terhalang bumi akan dibelokkan atmosfer sehingga memberi efek warna merah yang terpantul di badan bulan. Semakin bersih atmosfernya—tidak ada debu letusan gunung berapi, asap kebakaran hutan, atau debu meteor, semakin teranglah warna gerhana bulannya.

Kecerlangan warna gerhana bulan ini ternyata memiliki skala yang disebut Skala Danjon. Dimulai dari skala 0 hingga 4, yang mengindikasian secara berturut-turut warna bulan sangat gelap, gelap, karat, merah bata, dan oranye. 

Nah, di zaman sains belum secanggih sekarang dan penjelasan di atas belum ditemukan, peristiwa ‘bulan berdarah’ ini ternyata pernah menyelamatkan Colombus dan krunya saat berlayar di Samudera Atlantik loh. 

Saat itu, pada tahun 1503, Colombus yang sedang melakukan ekspedisi mencari ‘Dunia Baru’ harus terhambat perjalanannya. Sebab, dua dari empat perahunya digerogoti ulat kayu di tengah pelayaran. Mereka pun harus merapat ke sebuah daratan yang kini kita kenal sebagai Jamaika.

Di sana, mereka bertemu dengan penduduk lokal bernama suku Arawak. Suku inilah yang kemudian menolong Colombus dan kawan-kawannya. Tapi karena Colombus terlalu lama terdampar, suku Arawak lama-kelamaan lelah membantu. Tak kurang akal, Colombus pun mencari trik agar suku Arawak tetap mau menolong timnya yang tidak punya persediaan sandang pangan sama sekali.

Colombus lalu teringat pada kalender astronomi Johannes Muller von Konigsberg yang saat itu menjadi panduan populer para pelayar. Di sana tertulis bahwa akan terjadi gerhana bulan tiga hari lagi. Tepatnya pada 29 Februari 1504.

Menjelang gerhana, Colombus menghampiri kepala suku Arawak. Ia mengatakan bahwa tuhannya marah karena suku Arawak tidak mau membantunya lagi. Pertanda kemarahan tuhannya ini akan terbukti dalam tiga hari ketika bulan di langit menjadi merah. Suku Arawak yang tak percaya malah tertawa dan menganggap Colombus gila.

Ternyata ‘ramalan’ Colombus tepat. Bulan menjadi merah hingga membuat orang-orang Arawak ketakutan. Berbondong-bondonglah mereka menemui Colombus untuk memintanya merayu tuhan agar tak marah lagi. Mereka berharap keadaan kembali normal, dan berjanji akan membantu Colombus hingga kapal Colombus bisa kembali berlayar.

Menahan tawa, Colombus yang sebenarnya berbohong menyatakan sanggup memenuhi permintaan itu. Ia pun minta waktu untuk menyepi agar bisa berdoa kepada tuhan. Dan benar saja, tak berapa lama bulan kembali ke wujud asalnya. Putih dan bersinar sebagaimana biasa. 

Selama 1,5 tahun Colombus terdampar di sana, suku Arawak menepati janjinya untuk menolong. Ketika ia akhirnya kembali pulang ke Eropa, tersiarlah kabar tentang ‘Dunia Baru’ yang ia temukan, yang saat ini meliputi Karibia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Jika saat itu Colombus tidak meipu suku Arawak, ia dan timnya tentu tak bisa pulang. The world might be very different today. 

Nah, jika gerhana bulan yang disertai momen blood moon adalah hal biasa dan sudah lama ada, terus apa dong yang bikin gerhana kali ini istimewa?

Gerhana kali ini istimewa karena bertepatan dengan fase bulan mini, yaitu saat bulan berada di titik terjauh dengan bumi (apogee), dan menjadi gerhana bulan total terlama di abad ke-21. Yap, gerhana baru akan berakhir di pukul 04.13 WIB. Bersamaan dengan itu, akan terjadi juga hujan meteorit. Kemudian mars yang berada di titik terdekatnya dengan bumi sehingga tampak sangat terang.

Istilah “Blood Moon” memang dilematis buat menggambarkan peristiwa gerhana bulan. Tapi kalau nggak lebay, mungkin masyarakat moderen jadi nggak perhatian sama fenomena-fenomena di langit.

 

Related Articles
Current Issues
Kenapa sih Rindu Itu Berat?

Current Issues
Penanganan Covid-19 Menyebabkan Obat Penyakit Lupus Langka. Kok Bisa?

Current Issues
Ingin ke Mall atau Kafe di Era New Normal? Ini Aturan yang Harus Dipatuhi