Current Issues

Cabut dari Bumi Bukan Solusi

Gabriel Wakkary

Posted on July 27th 2018


Udah puluhan bahkan ratusan tahun, pikiran manusia dipenuhi angan-angan untuk meninggalkan planet yang selama ini menghidupinya. Kebetulan, baru-baru ini sekelompok ilmuwan dari Agensi Luar Angkasa Italia melaporkan, bahwa ada sebuah danau berisi air yang terletak dibawah dataran es di kutub selatan planet Mars.

Bukti-bukti yang mengindikasikan keberadaan air di planet merah dikumpulkan oleh alat bernama Mars Advanced Radar for Subsurface and Ionosphere Sounding (MARSIS) yang dioperasikan di pesawat milik European Space Agency. MARSIS menggunakan getaran radar ke permukaan tanah untuk menentukan apa yang berada di permukaan dan isi dari dataran.

Hal itu tentu aja menyulut kembali ambisi banyak pihak terutama dari negara-negara maju di western hemisphere untuk merealisasikan perpindahan massal manusia ke dunia baru di luar angkasa sana. Dengan perkembangan teknologi dan sumber daya manusia, visi yang udah dipertontonkan Andrei Tarkovsky dalam film Solaris semakin mendekati kenyataan. 

Tahun 2017, Donald Trump, seseorang bussinessman dan Presiden Amerika Serikat menunjukkan ketertarikan untuk mengadakan eksplorasi dan mendirikan sebuah stasiun luar angkasa di bulan, meskipun NASA belum mampu mengirimkan awaknya kembali kesana sejak tahun 1972. Dengan anggaran yang dianggap belum cukup (Rp 274 triliun per tahun) oleh pengamat antariksa, upaya negara adidaya dianggap akan memakan waktu lama dan bisa menjadi sia-sia karena masa depan manusia dianggap berada di fase kritis dengan masalah pemanasan global, polusi dan over-population.

Tentunya wacana yang mahal kayak gitu membuat para environmentalist berpikir, “Apa emang iya perlu banget cabut dari bumi? Apa emang seancur itu bumi kita sampai gabisa diselamatin lagi?”

Diusianya yang ke 4,5 miliar tahun, bumi emang semakin rapuh dan sakit-sakitan. Efek rumah kaca yang makin menggila, limbah manusia yang menumpuk, pepohonan yang dengan cepat berkurang jumlahnya. Jika tidak ada penanganan yang tepat, seluruh ekosistem di bumi cepat atau lambat akan menuju kepunahan.

Sebagai refensi, Amerika Serikat menganggarkan Rp 117 triliun untuk Environmental Protection Agency dalam agendanya untuk menjaga lingkungan hidup manusia di skala nasional. Berbeda jauh dengan anggaran Rp 274 triliun yang dialokasikan untuk NASA. Uni-Eropa masih lebih memprioritaskan pemeliharaan lingkungan dimana 20% anggaran untuk digunakan dibandingkan dengan 0,5% dari total anggaran negara yang dihabiskan negeri Paman Sam.

Nah sebagai calon generasi penerus masa depan, kita harus lebih teliti memisahkan ego dengan logika. Bayangin kalo penelitian tentang material pengganti plastik, kendaraan ramah lingkungan, serta pemberdayaan ekosistem punya anggaran yang sama besarnya dengan proyek luar angkasa? Tentunya kondisi bumi dalam jangka panjang bisa menjadi jauh lebih baik lagi, sehingga keturunan kita bisa menikmati kenikmatan alam di tingkat yang lebih baik daripada kita.

Jadi kalau lo mau keberlangsungan umat manusia tetap terjaga untuk sekarang dan di masa depan, ketimbang berkhayal kira-kira kapan dan di planet mana kita bakal tinggal. Mendingan mulai peka terhadap lingkungan sekitar dan menjaga apa yang kita punya sekarang.

Related Articles
Current Issues
Perubahan Iklim Bikin Virus Makin Kuat, Manusia Tambah Lemah

Current Issues
Kunjungi Luar Angkasa Secara Virtual Bersama ‘Go for Flight’ NASA

Current Issues
Potret Fenomena Alam ini Tegaskan Bahwa Perubahan Iklim Sangat Nyata!