Current Issues

Mangrove, Sang Pelindung Yang Terus Dirundung

Merayakan Hari Mangrove dengan mengembalikannya ke tanah~

Hening Swastika

Posted on July 26th 2018

Di beberapa daerah di Indonesia, seperti di pesisir utara pulau Jawa, keberadaan mangrove sering dengan sengaja ditiadakan. Ditebang secara sadar, untuk dipakai sebagai kawasan pergudangan, tambak, permukiman penduduk, bahkan pelabuhan besar. Akibatnya, sebagian kawasan itu kini sudah tenggelam karena banjir rob dan intrusi air laut. Sebut saja Desa Bulak Lama di Jepara dan Desa Morodadi di Demak. Ibukota kita, Jakarta, digadang-gadang menjadi korban selanjutnya.

Tak ingin hal itu terjadi, Himatul Kholisa atau akrab dipanggil Hima, memutuskan untuk turun langsung melakukan langkah kecil peduli mangrove. Bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Kesemat Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) Regional Jakarta, ia melakukan penanaman mangrove di kawasan Ekowisata Angke dan Marunda.

“Saya merasa kayaknya Jakarta ini kok makin lama makin rendah ya datarannya. Terus ditambah lagi sama ramai-ramainya isu reklamasi. Jadi saya ingin membantu dari hal kecil, yang memang akan terlihat hasilnya nanti,” ujar Hima mengungkapkan alasannya.

Hima semakin bersemangat mencintai mangrove karena ternyata satu pohon mangrove, bisa mencukupi kebutuhan oksigen dua orang dewasa.

“Terus mangrove juga bisa menyuburkan tambak secara alami, dan bisa diolah,” tutur Hima lagi.

Namun menghidupkan kembali ekosistem mangrove yang rusak tidaklah mudah. Menurut Hima, mangrove butuh waktu satu tahun untuk beradaptasi. Selain kendala sampah yang kerap menghambat pertumbuhan mangrove, faktor alam seperti musim kemarau dan jam pasang surut air juga berpengaruh.

“Di daerah rawa, musim kemarau tanahnya benar-benar kering sampai nggak bisa ditanami. Kalau di daerah pesisir, kadang jam pasang surut bisa nggak tentu. Belum lagi soal kepemilikan tanah yang sering dimiliki swasta. Jadi susah mau ditanami,” keluhnya. 

Rata-rata jenis mangrove yang kerap ditanam oleh Hima dan timnya adalah Rhizophora sp. (bakau), Bruguiera sp. (lindur), dan Avicennia sp. (api-api). Sebab selain bermanfaat bagi lingkungan, juga punya nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.

“Buah lindur bisa diolah jadi tepung yang kemudian dijadikan peyek, keripik, atau stik. Kalau buah pidada, biasanya dijadiin sirup dan dodol. Rasanya asam-asam segar. Terus kalau buah bakau yang nggak berkembang, biasanya direbus dan diambil warnanya buat kain batik.”

Mengingat peran mangrove yang begitu kaya, Hima mengajak para generasi muda untuk lebih perhatian terhadap mangrove. “Yuk tanam mangrove, biar makin keren! Kapan lagi kita bisa berkontribusi menabung oksigen untuk masa depan?” ajak Hima agar keberlangsungan mangrove bisa terus berkelanjutan.

Related Articles
Current Issues
Ketika Anak Muda Sumbawa Bertaruh Nyawa Demi Upah dari Joki Kuda

Current Issues
Kenapa Sih Masker Scuba atau Buff Dilarang Digunakan Untuk Cegah Covid-19?

Current Issues
Secangkir Jawa Yang Mengubah Dunia