Entertainment

Tonton 3 Film Ini Jika Kalian Ingin Tahu Makna Dari Patah Hati

Patah hati ada banyak ragam bentuknya~

Jean Marais

Posted on July 26th 2018

“Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”—menutup Bumi Manusia dan menuntut kelapangan dada seorang Minke, untuk melepas Annelies, cinta pertama dalam hidupnya.

Namun kisah-kisah tentang kisah kasih yang pedih tak hanya hadir di buku-buku saja. Sinema pun memiliki semestanya sendiri. Untuk tahu pedihnya patah hati, cukup mudah saja. Silahkan duduk santai di depan layar kaca, dan tiga film ini akan memberi jawabanya. Dengan senang hati mainmain akan membagikan kesedihan ini bagi kalian yang sedang patah hati L

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu kata sebuah sampul buku milik sastrawan gaek, Puthut EA. Bukan, film ini bukan adopsi dari buku itu. Namun, judul pembuka tepat sebagai representasi bagaimana film ini di tampilkan. Dua orang manusia, sama-sama jatuh cinta di waktu yang salah. Kisah kasih mereka disemai tatkala mereka hidup bertetangga di pemukiman kumuh Hongkong.

Di sebuah rumah susun, kamar mereka bersebelahan. Aktivitas harian mereka yang menyemai benih-benih hati itu tumbuh. Namun naas, mereka tidak pernah bersatu. Hati mereka bertemu, namun kenyataan tidak pernah sejalan. Keduanya sama-sama telah memiliki keluarga. Namun atas dasar janji pernikahan yang sehidup semati, mereka menolak untuk mengedepankan ego masing-masing.

Dan bagi mereka selingkuh adalah tindakan yang akan sia-sia. Bagi mereka, itu hanya menghancurkan harga diri mereka sebagai manusia saja. Di akhir cerita, mereka memilih untuk sama-sama mematahkan hatinya. Film besutan sutradara kawakan, Wong Kar Wai, ini cukup menguras airmata. Tapi begitulah cinta; datangnya selalu terlambat dan tak pernah terduga~

Ini mungkin bisa menjadi tidak adil, atau terlalu subjektif. Tapi beginilah adanya. Sejauh pengalaman menonton saya, Yorgos Lanthimos, sang sutradara, tidak pernah membuat saya kecewa dalam urusan film. Dan The Lobster, bagi saya adalah karya terbaiknya. Film ini bercerita tentang seorang jomblo veteran, yang harus mendapatkan pendamping hidupnya dalam waktu tiga bulan.

Ia dikurung disebuah hotel, yang dimana ia harus bisa menemukan tambatan hatinya. Jika tidak resikonya bisa fatal; dibunuh. Karena, Negara tidak mau memelihara rakyatnya yang tidak memiliki pasangan. Aturan pertama, ia harus memilih salah satu hewan yang ia anggap sebagai representasi dirinya. Ia memilih lobster. Sebuah hewan yang mampu hidup di darat dan air payau.

Hingga tiga bulan ia tak juga menemukan jodohnya. Ia terpaksa memilih kabur di hutan, dan bergabung dengan sekte mantan narapidana hotel tersebut. Bukanya lolos dari masalah, ia justru menemui masalah baru. Sekte tersebut memilik aturan lain. Diantara anggotanya, tidak boleh ada yang berpacaran. Namun naas, hati pria tersebut tidak mampu menaati. Ia akhirnya jatuh cinta dengan salah satu perempuan yang ada di sekte itu.

Mereka berdua sama-sama mencintai, dan harus menyelamatkan diri dan hidup seperti bagaimana manusia selayaknya. Namun, perjalanan mereka cukup terjal. Dari situlah petualangan mereka dimulai. Dari film ini kita bisa belajar bahwa cinta membuat hidup yang semula sederhana, menjadi rumit dan tak lagi sama.  Kalau ini diterapin di Indonesia, bagaimana nasib para jomblonya ya? Haha.

Punya pacar seorang perempuan cantik jelita, adalah harapan lumrah setiap pria di bumi ini. Tapi pernah gak sih kalian kepikiran, bagaimana sih rasanya menjalin relasi dengan aplikasi canggih? Film ini adalah jawabanya. Karya sinema arahan Spike Jonze ini berhasil menuai sederet penghargaan. Karena kesegaran ide cerita, dan medium karya yang berbeda.

Ditengah hidup berkecupan, seorang pria paruh baya diterpa depresi habis-habisan setelah istrinya melayangkan gugatan perceraian. Ia yang semula hidup ditengah kehangatan keluarganya, secara tiba-tiba harus berjabat tangan dengan keterasingan dan kesendirian yang kekal. Berbagai cara ia coba untuk mengobati hatinya. Namun, tak juga ada yang berhasil menjawabnya.

Pada suatu siang, ia menemukan selebaran brosur yang tergeletak di sudut kota. Brosur itu menawarkan layanan kencan virtual, oleh sebuah aplikasi yang tujuanya adalah memberikan teman virtual bagi mereka yang tengah dilanda kesepian. Tak disangka ia mencobanya.

Lama kelamaan ia mengangap layanan virtual yang bersifat fiksi itu menjadi seolah menjadi nyata. Ia pun jatuh hati pada kekasih virtualnya itu. Percakapan diantara mereka berdua sangat hangat. Bahkan sebagai penonton pun kita merasakan kedekatan itu. Namun, suatu ketika aplikasi tersebut harus berubah. Kekasihnya hilang, dan ia tidak tahu harus mencari kemana. Berkat itulah ia kembali dalam kehampaan. Dan hari-hari setelahnya, ia merasakan hidup yang tidak pernah lagi sama.

Related Articles
Entertainment
Sinopsis 'The Invisible Man', Mantan Kejam yang Tak Terlihat Mengintai Cecilia

Entertainment
Sinopsis 'I Am Mother', Ketika Robot menjadi Seorang Ibu

Entertainment
'Satria Dewa: Gatot Kaca' Rilis Tahun ini, Apa Bedanya dengan 'Gundala'?