Pop-Sci

Amarah Tak Tertahan, Bisa Jadi Gangguan Psikis

I Kadek Wira Aditya

Posted on February 20th 2019

Beberapa waktu lalu sempat viral sebuah video yang memperlihatkan seorang anak muda yang marah akibat dirinya ditilang oleh polisi karena saat berkendara nggak safety riding. Lantas, si anak muda itu pun meluapkan kemarahannya setelah ditilang dengan merusak kendaraannya sendiri di depan umum. Tidak berhenti di situ saja, si anak muda tersebut juga membakar STNK kendaraannya dan membagikan aksinya tersebut di social media. Ternyata perilaku si anak muda tersebut dikatakan dalam dunia psychology sebagai Intermitten Explossive Disorder (IED) loh!

Merujuk pada Psychology Today, IED merupakan gangguan psikis berupa ketidakmampuan seseorang untuk menahan kemarahan dengan merusak properti atau menyerang orang lain yang ada di sekitarnya. Tak hanya itu, perilaku secara verbal (kata-kata) pun juga termasuk.  Kepala Biro Psikolog Rumah Cinta Bogor, Retno Lelyani Dewi, mengungkapkan umumnya orang yang memiliki IED cenderung bersikap agresif ketika sedang marah. “Pada dasarnya, ledakan emosi bisa terjadi pada setiap orang. Saat tekanan emosi bertambah semakin bertambah maka akan meledak amarah dalam diri kita (outburst of anger)”, ungkapnya.

Lebih lanjut, penderita IED kemungkinan besar akan mengalami `episode` di mana dia benar – benar marah atau lebih tepatnya mengamuk, menghancurkan sekitarnya atau dirinya sendiri baik lewat tindakan atau kata kata. Namanya juga tanpa sadar, setelah masa `mengamuk` penderita umumnya akan merasa malu dan bersalah. Ada dua kemungkinan kenapa seseorang bisa terkena IED.

Pertama karena orang tua, lingkungan, atau keadaan dia sendiri. Seorang anak yang memiliki IED bisa disebabkan karena tumbuh di lingkungan penuh amarah. Entah menyaksikan orang tuanya bertengkar, tetangganya, tawuran, atau bahkan dari seringnya menonton tontonan yang mengandung kekerasan bisa memicu kemungkinan terjangkit IED. 

Faktor Kedua IED bisa diturunkan dari generasi atau keturunan sebelumnya. Karena pendorong IED adalah impuls otak penderita yang agresif, bisa jadi salah satu ‘leluhur’ (contoh kakek atau nenek buyut) penderita memiliki IED dan ia terkena penyakit mental satu ini. “Kalau kamu bukan penderita dan mengenal penderita, jangan jauhi mereka. Penyakit mental apapun termasuk IED ini membutuhkan kasih sayang dari orang sekitarnya,” tambahnya.

Retno menambahkan secara medis, kamu atau orang terdekatmu yang memiliki IED bisa konsultasi ke psikiater terdekat. Biasanya penderita akan diberi pil yang berguna sebagai obat untuk mengontrol ke-agresifan di otak penderita dan menurunkan kemunculan `episode` amukan.

Kamu pun juga bisa mencoba hal ini untuk meredam amarah ketika terjadi untuk mencegah IED. Pertama-tama pejamkan mata, bayangkan hal yang bisa membuat dirimu nyaman. Misalnya seperti ruang kamar kita, wajah ibu kita, atau tempat favorit seperti pantai, kemudian bayangkan itu 1-2 menit. Selanjutnya ambil nafas panjang sambil memejamkan mata sejenak. Tahan hingga 10 detik baru hembuskan. Buka mata dan katakan “Saya bisa sabar” atau “Saya mampu sabar”. Saat 10 detik ditahan, oksigen akan memenuhi otak sehingga otak akan lebih rileks. Oiya kamu pun juga bisa mencoba dengan minum air beberapa kali juga ya untuk meredakan kemarahanmu!

Related Articles
Pop-Sci
Kenapa sih Rindu Itu Berat?

Pop-Sci
Wow, China Siapkan Bulan Buatan!

Pop-Sci
Dollar Amerika Semakin Kuat, Emang Masalah?

Meet The Creator



DBL Indonesia

Quote Of The Day

NGEJAR DISKON DIBELA-BELAIN BEGADANG SAMPAI PAGI, GILIRAN NGEJAR SI DOI SAMPE DEPAN GANG UDAH PUTER BALIK LAGI