Entertainment

Secuil Cerita tentang Chairil Anwar, Sang Binatang Jalang

Dan 3 cerita rahasia dari seorang penyair berdarah Minang.

Jean Marais

Posted on July 25th 2018

 

“Jadi

mari kita putuskan sekali lagi:

Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,

Sekali lagi kawan, sebaris lagi:

Tikamkan pedangmu hingga ke hulu

Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!”

—Chairil Anwar, Kepada Kawan

Sebagai pelopor sastrawan angkatan ’45, nama Chairil Anwar sempat mengegerkan tanah air lewat karya-karya sastranya. Puja dan puji yang ia tuai di usia yang sangat belia, harus selesai dalam sekejap mata. Tatkala nama Chairil tengah menjadi buah bibir, di suatu malam pada 28 April 1949, ia harus mereggang nyawa.

Ia meninggal di umur dua puluh enam, namun nama dan karyanya masih terkenang. Tapi, selain kiprah gemilang di jagad sastra Indonesia maupun dunia, sebagaimana layaknya manusia, hidup Chairil jauh dari kata sempurna. Apa saja sih kisah-kisah yang tidak banyak diketahui pembaca?

Nama Chairil sudah merekah sejak ia berusia muda. Lewat sajak-sajak dan puisinya, kiprah seorang Chairil muda banyak menuai apresiasi pada masanya. Serta, penampilanya yang nyentrik nan flamboyan membuat mata siapa saja terpana saat melihatnya. Hal itu kemudian yang dimanfaatkan ‘Si Binatang Jalang’ ini untuk mencuri hati pemudi-pemudi, yang tertambat pada kecakapan akal serta parasnya.

Dalam buku Aku yang ditulis oleh Sjuman Djaya, ada sekitar delapan nama perempuan yang konon cantik jelita yang berkelindan di hidup seorang Chairil. Sri Ayati, seorang penyiar radio jepang. Dian Tamela, dan puisi berjudul Cerita Buat Dien Tamela. Ida Nasution, yang ia puja hingga akhir hayatnya. Gadis Rasid yang ia temukan di ruang redaktur majalah Gelanggang, Tuti Artic dan Ceritanya yang pendek. Karina Moordjono si putri dokter. Sumirat, pemilik Sajak Putih. Dan Hapsah Wiriaredja, yang dinikahinya dan dipanggil dengan sebutan ‘Gajah’.

Selain memiliki catatan sebagai seorang Don Juan, Chairil juga dikenal sebagai sastrawan yang nakal dan jahil. Pernah pada suatu ketika, ia tinggal di Yogyakarta, dan tinggal di rumah seorang pelukis kenamaan, Affandi. Chairil memang bukan sastrawan kaya, karena miskin ia harus hidup dengan berpindah-pindah. Namun, hadirnya Chairil di rumah sering membuat Affandi kerepotan.

Pada suatu ketika, pulang dari suatu acara, Chairil lapar. Ia menggajak kawannya, Affandi, untuk makan malam di suatu rumah makan mewah. Ia mengaku pada Affandi bahwa ia baru saja dapat honor. Makanlah mereka disuatu tempat yang mewah, dan menikmati kudapan lezat. Setelah makan, Chairil membayar semua tagihan, dan pulanglah mereka kerumah. Affandi yang penasaran, lantas bertanya darimana ia dapat uang sebanyak itu, di akhir perjalanan. Sambil menepuk pundak Affandi ia berkata, “Ini bukan uang saya punya. Ini adalah uang mu,” ungkap Chairil.

 Affandi bertanya, “Bagaimana bisa? Aku sedang tidak ada uang hari ini, Ril,” kata Affandi. “Iya ini uang kamu, aku jual jas milikmu, untuk kita makan tadi. Itu uangmu, yang aku pinjam, untuk kamu makan,” ungkap Chairil. Affandi yang geram, berusaha memukul Chairil. Tapi ia keburu lari tunggang langgang dengan tawa berderai. Mulai hari itu Affandi menyebutnya. Si Anak nakal.

Affandi, sahabat karib Chairil ditugasi oleh Presiden Soekarno untuk membuat poster perjuangan di era revolusi. Nantinya, poster-poster itu akan di tempel di kereta-kereta, untuk membakar semangat rakyat untuk mengusir penjajah. Presiden Soekarno meminta lukisan Affandi kali ini bertema kemerdekaan. 

Dan kemudian, Affandi mengambar seorang tokoh yang tengah memutus rantai seraya berteriak lantang. Tapi, itu belum selesai. Ia membutuhkan kata-kata agar gambarnya lebih bernyawa. Kemudian, dikumpulkanlah banyak penulis untuk memikirkan kata-katanya.

Kemudian tak ada satupun usulan dari mereka yang dirasa cocok oleh Affandi. Chairil tidak diundang, agar tidak mengacau karena kenakalanya. Namun tanpa disangka, ia muncul dari belakang tirai, dan hendak menemui Affandi tanpa maksud apa-apa.

Iseng ia bertanya. “Apa kata yang cocok untuk lukisan ini, Ril,” tanya Affandi. Tanpa menoleh ke wajanya, Chairil mendekati lukisan itu. Ia menatap wajah semua penulis yang sembari tadi duduk di kursi tanpa solusi. “Tulisa saja. ‘Boeng, Ajoe Boeng! (Bung, Ayo Bung!)’” kata Chairil.

 Affandi pun terperangah. Ia pun kemudian menuruti usul Chairil.  Dan ia melenggang pergi. Usut punya usut, saat ditanya Affandi darimana ia dapat kata itu. Dengan enteng Chairil menjawa. “Dari pelacur yang aku tiduri di gerbong kotor tadi malam,” katanya enteng saja.

Related Articles
Entertainment
5 Buku Ini Cocok Menjadi Temanmu Menghabiskan Liburan

Interest
7 Rekomendasi Buku Puisi untuk Merayakan Hari Puisi Dunia!

Interest
Jangan Ngaku Puitis Kalau Belum Follow Akun IG Ini!