Sport

Lapangan Basket yang "Until Sunset Only"

Cerita Anthoni dan Alvaro, Duo All-Star dari Papua, Tentang Basket di Sana (1)

Mainmain.id

Posted on February 3rd 2019

Anthoni Aipassa, jersey merah no. 17, saat scrimmage game di DBL Camp 2018

 

“Dalam setahun cuman ada 3 saja kompetisi basket di sana (Jayapura, red),” kata Alvaro Claudio Lamia, forwarda Honda DBL Indonesia All-Star 2018, waktu ngobrol dengan mainmain.id.

Sore itu, di awal bulan Januari 2019, Alvaro dan Anthoni Putra Aipassa – center Honda DBL Indonesia All-Star 2018 asal SMA Jhon 23 Merauke – berbincang banyak tentang basket di kota mereka masing-masing. Jayapura dan Merauke. Termasuk eksistensi mereka habis terpilih ke dalam skuat All-Star.

 

---

 

Para DBL First Team dari seri Papua saat di Surabaya untuk DBL Camp 2018

 

Gimana ya perkembangan basket di Papua? Tanpa perlu diceritakan, kayaknya sih semua orang udah bakal tau jalan ceritanya. Ya gitu. Minim sarana dan pra-sarana, minim kompetisi, dan minim hal-hal lainnya. 

Meski yang kayak gini juga terjadi di tempat lain.

Di Papua, setidaknya di Jayapura dan Merauke, kata Alvaro dan Anthoni, futsal lebih banyak dimainkan sama anak-anak sekolah di sana. Soalnya lapangan futsal jumlahnya banyak. Minimal yang hanya berupa tanah lapang atau paving block luas.

Belum lagi Jayapura menjadi home base salah satu tim bola professional yang mentereng, Persipura. Secara umum basket sudah tentu nomer sekian di sana.

Dari lima distrik (kecamatan) yang ada di Jayapura, jumlah lapangan basket bisa dihitung pakai jari. Bahkan, saat ditanya jumlah pastinya, Alvaro nggak bingung buat menjawab. Saking jumlahnya mungkin memang hanya segitu saja. Cuman ada sembilan. Sem-bi-lan.

Sembilan lapangan di tempat yang wilayahnya hampir 1.000 km2, well, ya sedikit. Bandingkan dengan kota Surabaya, misalnya, yang memiliki setidaknya 102 lapangan basket. Padahal luas wilayahnya hanya 350 km2.

Fakta basket di kota Merauke mungkin lebih bikin kesel. Anthoni meneceritakan, meski sudah melahirkan pemain professional seperti Hendry “Hengky” Cornelius Lakay, nyatanya cuman ada dua lapangan basket yang layak dipakai. Satunya di taman kota. Satunya lagi di sekolah SMA Jhon 23. Sekolahnya Anthoni. Juga Hengky. 

Balik lagi ke Jayapura. Mau main basket dengan nyaman di kota itu memang susah. Dari sembilan lapangan yang ada di sana, eh cuman ada dua yang bisa dipakai sampai malam. Satunya adalah lapangan klub lokal. Satunya lagi lapangan milik sebuah sekolah swasta besar.

Sisanya? Ya mengandalkan cahaya matahari doang. Until sunset only, baby.

 

Alvaro Claudio Lamia, forwarda Honda DBL Indonesia All-Star 2018 dari SMAN 1 Jayapura, mencoba menembus pertahanan lawan saat DBL Camp.

 

Tapi, nggak serta merta basket hilang pamor.

Fasilitas untuk futsal memang lebih banyak. Tapi… pertandingannya nggak pernah ditonton. Hehehe. 

Alvaro dan Anthoni punya satu impresi yang sama tentang basket di tanah mereka: Banyak yang nonton!

“Kalau setiap ada pertandingan basket, nah itu baru full penonton. Sa tida tau juga kenapa. Kalau futsal tida ada yang nonton, sepi sekali,” kata Alvaro, siswa asal SMAN 1 Jayapura itu.

Di Jayapura, dalam setahun paling banyak hanya ada 3 kompetisi. Tapi pesertanya bisa dari berbagai macam kota di Papua,  bahkan hingga Papua Barat. Basket di Papua bisa jadi memang banyak penggemarnya. 

Gelora menonton basket anak-anak muda Jayapura juga sangat tinggi. Apalagi kalau Honda DBL lagi berlangsung. Word-of-mouth-nya kencang. Semua membicarakannya.

Terlebih kalau yang tanding adalah SMAN 1 Jayapura melawan SMA Jhon 23 Merauke. Sekolahnya Alvaro dan Anthoni. 

Dua sekolah besar itu punya daya “magis” yang juga besar. Pertemuan keduanya selalu dinanti. Macam el classico.

Hari apapun, di kompetisi apapun, pertandingan kedua sekolah ini selalu memantik perhatian.

Alvaro pun sebenarnya adalah salah satu “korban” dari word-of-mouth pertandingan klasik itu. Jauh sebelum dia bisa main basket. Bahkan mewakili salah satu tim besar itu hingga menjadi All-Star. Ini akan diceritakan di artikel berbeda.

Meski fasilitasnya terbatas, tapi antusiasme nggak pernah turun. Semakin hari semakin banyak yang mau belajar basket. Baik di Jayapura maupun Merauke. Mungkin juga di kota lain. 

Di Jayapura, ada sebuah klub yang rutin memberikan pelatihan. Flying Wheel namanya. Bagi anak-anak basket Jayapura, di situlah mereka belajar basket. Karena di sekolah mereka nggak ada cukup waktu dan fasilitas. Minimal lapangan basket yang bisa dipakai hingga larut malam.

Sementara di Merauke, kondisinya lebih bikin geregetan. Anak-anak sekolah juga banyak yang mau belajar basket. Tapi, jangankan lapangan, mencari pelatih aja susahnya minta ampun.

Maka, Anthoni dan teman-temannya yang mejadi pelatih bagi bocah-bocah kecil di sana. Secara sukarela. Dengan fasilitas seadanya. Tim basket SMA yang turun tangan.

“Kita latihan di lapangan sekolah. Sa dan teman-teman yang melatih mereka (anak-anak, red),” ungkap Anthoni.

 

Center Honda DBL Indonesia All-Star 2018 Anthoni Aipassa saat mengatur serangan. Dia memiliki tinggi badan 198 cm.

 

Terlepas dari itu semua, dukungan mengalir tiada henti. Untuk mereka, tim basket pelajar.

Dalam ajang Honda DBL, misalnya, pemerintah kota Merauke mendukung habis-habisan. Siapapun timnya yang ikut berlaga di Honda DBL, mereka danai. “Demi prestasi,” kata Anthoni.

Dalam kasus SMA Jhon 23, mereka didanai pemerintahnya untuk naik pesawat pulang-pergi ke Jayapura. Pesawat memang opsi terbaik. Sebab, jarak ke Jayapura, jika ditarik garis lurus, bisa mencapai 700 km.

Sayangnya, belum ada jalan darat yang menghubungkan dua kota itu. Kalau naik kapal laut, wah, harus mengelilingi pulau Papua. Bisa memakan waktu berhari-hari. Soalnya Merauke ada di ujung barat, sementara Jayapura di ujung timur. Dan nggak ada sungai membesar yang membelah hutan belantara di antara kedua kota itu.

Pada akhirnya, dukungan dan kerja keras mereka semua terbayar. Semoga saja. Karena SMA Jhon 23, sekolah yang letaknya ratusan kilometer itu, terbukti selalu diunggulkan. Bahkan menjadi tim yang paling ditunggu kehadirannya di Jayapura. Apalagi beberapa alumninya mampu mencapai titik tertinggi di belantika bola basket pelajar Indonesia.

Cerita dari Alvaro dan Anthoni, serta berbagai rekam jejak di berbagai media sudah membuktikan itu semua.

Papua boleh berbangga untuk perkembangan basket di tanah mereka, bumi Cendrawasih.

 

(bersambung)

 

(*)

Related Articles
Sport
Karena Slam Dunk, di-Follow Lebih Dari Seribu Akun Dalam Sehari

DBL All-Star
Resmi! Tim Honda DBL Indonesia All-Star akan Mengikuti Turnamen Nasional di USA

DBL All-Star
Center Honda DBL Indonesia All-Star Anthoni Aipassa Dipuji Pelatih

Meet The Creator



Fidya Citra

Quote Of The Day

NGEJAR DISKON DIBELA-BELAIN BEGADANG SAMPAI PAGI, GILIRAN NGEJAR SI DOI SAMPE DEPAN GANG UDAH PUTER BALIK LAGI